Berjihad di Jalan Allah

Edisi 2105

  • Jihad dalam Bahasa Arab berasal dari kata juhd yang berarti ‘usaha atau beban’.
  • Jihad secara istilah menurut para ulama berarti mengerahkan segala usaha untuk menegakkan kebenaran dan membasmi kebatilan.
  • Di antara bentuk-bentuk jihad yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadis adalah:
    1. Jihad Melawan Hawa Nafsu
    2. Bersabar dalam Melakukan Ibadah
    3. Haji yang Mabrur
    4. Menyuarakan Kebenaran
    5. Jihad Mengangkat Senjata
  • Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang mampu berjihad melawan hawa nafsunya, karena ituadalah jenis jihad yang paling utama.
  • Jihad dengan mengangkat senjata merupakan opsi terakhir untuk menghadapi orang kafir ketika tidak ada pilihan lain.

——————————————————————————————-

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang membahas tentang keutamaan jihad di jalan Allah Ta’ala. Meski demikian, banyak orang yang membatasi istilah jihad dengan berperang dengan senjata melawan musuh. Padahal konsep jihad di dalam Islam lebih luas dari sekadar berperang. Lantas, bagaimanakah hakikat jihad di dalam Islam? Dan apa saja macam-macam jihad? Berikut adalah penjelasannya.

Arti Jihad

Kata jihad berasal dari kata juhd yang berarti ‘usaha atau beban’. Adapun secara istilah, jihad berarti mengerahkan segala usaha untuk memerangi orang kafir, melawan hawa nafsu, godaan setan, dan perbuatan dosa. (Syarḥu Shahih Muslim li Adam al-Asyubi, 30/287).

Macam-macam Jihad

Istilah jihad yang terdapat di dalam Al-Qur`an dan Hadis merujuk pada segala jenis amalan dan usaha untuk menegakkan kebenaran dan membasmi kebatilan. Di antara bentuk-bentuk jihad adalah sebagai berikut:

  1. Jihad Melawan Hawa Nafsu

Di kehidupan dunia ini, manusia senantiasa hidup di dalam kondisi peperangan, baik dengan musuh yang nyata maupun tak nyata. Bahkan, seringkali musuh yang tidak nyata lebih berbahaya dari musuh yang nyata, sebab ia harus selalu awas dan waspada. Ketahuilah, bahwa musuh itu bernama hawa nafsu. Ialah musuh yang selalu mengajak manusia untuk berbuat segala jenis kenikmatan meskipun kenikmatan tersebut menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana perkataan istri Al-Aziz yang Allah Ta‘ala firmankan di dalam Al-Qur`an,

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu mendorong kepada keburukan.” (QS. Yusuf: 53)

Bahkan, jihad berjuang melawan hawa nafsu adalah jenis jihad yang paling utama. Allah Ta‘ala berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi‘at: 40-41)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam secara spesifik menyebut bahwa melawan hawa nafsu juga pantas sebut jihad. Beliau bersabda,

“Orang yang berjihad adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya karena Allah.” (Shahih Al-Jami’ no.1129, dinilai shahih oleh Al-Albani).

Beberapa contoh melawan hawa nafsu adalah menahan diri berbuat maksiat, menahan diri ikut campur dalam hal-hal yang syubhat (meragukan), dan menahan diri dari syahwat.

  1. Bersabar dalam Melakukan Ibadah

Bersabar melakukan ibadah kepada Allah juga salah satu bentuk jihad. Hal itu dikarenakan jiwa manusia mudah untuk bermalas-malasan melakukan ketaatan dan bersemangat untuk melakukan kemaksiatan. Semakin sulit suatu ibadah maka semakin besar pula balasannya, sedangkan balasan terbesar dan terindah yang digapai seseorang adalah surga. Untuk menggapai surga, seseorang perlu mengusahakannya dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai jiwa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dilingkupi hal-hal yang tidak disukai dan neraka diliputi dengan syahwat.” (HR. Muslim no. 2822)

Termasuk hal-hal yang tidak disukai jiwa adalah rutin salat lima waktu di masjid, rutin salat sunnah rawatib, menahan amarah saat ada hal yang membuat emosi, memaafkan orang lain, bersikap ramah, mengeluarkan harta untuk zakat, berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada kita, dan sebagainya. Semua hal tersebut berat untuk dilakukan dan butuh kesungguhan. Sebab, balasan yang diperoleh sepadan dengan amalan yang dilakukan. Allah Ta‘ala berfirman,

أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.” (QS. Al-Furqan: 75)

  1. Haji yang Mabrur

Melakukan ibadah secara umum adalah bentuk jihad, tetapi Rasulullah  shallallahu ‘alahi wa sallam secara khusus menyebut haji sebagai jihad. Sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha saat beliau bertanya kepada Rasulullah,

“Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amalan paling utama, tidakkah kami (para wanita) ikut berjihad?” Beliau bersabda, “Tidak, akan tetapi jihad paling utama (bagi wanita) adalah haji yang mabrur (diterima).” (HR. Bukhari no. 1520)

Haji yang mabrur disebut jihad karena ibadah haji adalah ibadah yang memerlukan pengorbanan besar, baik pengorbanan tenaga maupun harta. Karena mengumpulkan harta untuk melakukan ibadah berbeda kalau digunakan untuk keperluan dunia karena pahala dari ibadah tidak nampak terlihat dan langsung dinikmati hasilnya, maka hal ini butuh perjuangan besar, sehingga haji pantas dilabeli sebagai jihad.

  1. Menyuarakan Kebenaran

Menyuarakan kebenaran juga termasuk bentuk jihad. Hal itu dapat berbentuk mengajak orang melakukan kebaikan dan melarang berbuat kemunkaran. Allah Ta‘āla berfirman,

فَلَا تُطِعِ ٱلْكَٰفِرِينَ وَجَٰهِدْهُم بِهِۦ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir dan berjihadlah melawan mereka dengannya (Al-Qur`an) dengan perjuangan yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)

Pada ayat di atas Allah Ta‘ala memerintahkan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam untuk memerangi orang-orang kafir. Hal itu menunjukkan bahwa bentuk jihad terhadap musuh bukan hanya dengan senjata, akan tetapi membacakan dan menjelaskan kebenaran Al-Qur`an kepada mereka juga termasuk bentuk jihad. Bahkan ini adalah bentuk jihad paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

فَوَاللَّهِ لأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu lebih baik untukmu daripada engkau mendapat unta merah.” (HR. Bukhari no. 4210)

Salah satu bentuk menyuarakan kebenaran lainnya adalah menasihati penguasa, baik dengan perkataan, tulisan, atau tindakan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah ucapan yang adil di hadapan penguasa yang zalim.” (Shahih Abu Dawud no. 4344)

Alasan menasihati penguasa merupakan salah satu jihad yang paling utama adalah  karena apabila pemimpin tersebut mendengarkan dan menerapkan nasihat yang didengarnya, maka manfaatnya akan dinikmati orang banyak.

  1. Jihad Mengangkat Senjata

Seringkali jihad ini adalah macam jihad yang pertama terlintas di pikiran banyak orang ketika mendengar kata jihad. Akan tetapi, jenis jihad ini adalah opsi terakhir apabila usaha lainnya tidak membuahkan hasil atau terjadi kondisi tertentu yang mengharuskan terjadinya peperangan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Wahai manusia, janganlah kalian berharap bertemu musuh. Mintalah kepada Allah keselamatan. Apabila kalian menemui mereka, bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga di bawah bayang-bayang pedang.” (HR. Bukhari no. 3024)

Pada hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan bahwa pertemuan dengan musuh adalah hal yang tidak sepatutnya diharapkan seorang muslim sehingga pada asalnya berjihad dengan cara lain lebih didahulukan apabila memungkinkan. Namun, apabila keadaan mengharuskan pasukan muslimin untuk menghadapi musuh, maka saat itulah jihad dengan mengangkat senjata harus dilakukan dengan memperhatikan syarat dan kaidah-kaidah berjihad di dalam Islam.

 Apapun jihad yang ditempuh seorang muslim, hendaklah selalu ingat agar meniatkannya ikhlas karena Allah Ta‘ala, karena itulah sebab mendapat petunjuk dan rida Allah. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ditulis :Faadhil Fikrian Nugroho, S.S. (Alumnus Ma’ad Al Ilmi Yogyakarta)

Murajaah :Ustaz Abu Salman, B.I.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *