Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

At Tauhid edisi V/2

Oleh: Yulian Purnama

Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedari dulu telah memperingatkan hal ini: “Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? ; Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Namun lihatlah, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada 1 golongan yang selamat dari perpecahan yaitu orang-orang yang beragama dengan menempuh jalan Islam sebagaimana jalan Islam yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya pada masa itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah istilah yang dilekatkan dengan sifat-sifat golongan yang selamat yang disebutkan dalam hadist di atas. Maka tak pelak lagi, istilah Ahlus Sunnah pun menjadi rebutan. Bahkan orang-orang yang menempuh jalan yang salah pun mengaku Ahlus Sunnah. Sehingga masyarakat awam yang sedikit menyentuh ilmu agama pun dibuat bingung karenanya, dan rancu dibuatnya, tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu?

Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ’ahlu’ yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan, dan kata ’sunnah’. Namun bukanlah yang dimaksud di sini sunnah dalam ilmu fiqih, yaitu perbuatan yang mendapat pahala jika dilakukan, dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Akan tetapi sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat. Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Sehingga Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal. 16)

Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari kiamat. Karena merekalah orang-orang yang paling memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah bahwa Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran, bukan pada jumlahnya. Jumlah yang banyak tidak menjadi patokan kebenaran, bahkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” [Al An’am: 116]. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu: “Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (Syarah Usuhul I’tiqaad Al Laalika-i no. 160).

Ringkasnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang satu golongan yang selamat pada hadits di atas: ”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku dihari ini”.

Pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Mungkin setelah dijelaskan makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagian orang masih rancu tentang siapakah sebenarnya mereka itu. Karena semua muslim, dari yang paling ’alim hingga yang paling awamnya, dari yang benar hingga yang paling menyimpang akan mengaku bahwa ia berjalan di atas jalannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Maka dalam kitab Ushul Aqidah Ahlis Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dapat dikenal dengan dua indikator umum:

  1. Ahlus Sunnah berpegang teguh terhadap sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, berbeda dengan golongan lain yang beragama dengan berdasar pada akal, perasaan, hawa nafsu, taqlid buta atau ikut-ikutan saja.
  2. Ahlus Sunnah mencintai Al Jama’ah, yaitu persatuan ummat di atas kebenaran serta membenci perpecahan dan semangat kekelompokan (hizbiyyah). Berbeda dengan golongan lain yang gemar berkelompok-kelompok, membawa bendera-bendera hizbiyyah dan bangga dengan label-label kelompoknya.

Perlu diketahui juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah muncul untuk membedakan ajaran Islam yang masih murni dan lurus dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan ajaran Islam yang sudah tercampur dengan pemikiran-pemikiran menyimpang seperti pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang masih berpegang teguh pada ajaran Islam yang masih murni tersebut dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Imam Malik rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak mempunyai laqb (julukan) yang sudah terkenal. Yakni bukan Jahmiyah, bukan Qadariyah, dan bukan pula Syi’ah”. (Lihat Al-Intiqa fi Fadlailits Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. hal.35 oleh Ibnu Abdil Barr).

Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang berpemikiran menyimpang tersebut, seperti Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij juga sebagian mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Sehingga hal ini memicu para Imam Ahlus Sunnah untuk menjelaskan poin-poin pemahaman Ahlus Sunnah, agar umat dapat menyaring pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Salah satunya dari Imam Ahlus Sunnah yang merinci poin-poin tersebut adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam kitabnya Ushul As Sunnah. Secara ringkas, poin-poin yang dijelaskan Imam Ahmad tentang pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah diantaranya adalah:

  • Beriman kepada takdir Allah,
  • Beriman bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah), bukan makhluk dan bukan perkataan makhluk,
  • Beriman tentang adanya mizan (timbangan) di hari Kiamat, yang akan menimbang amal manusia,
  • Beriman bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla akan berbicara dengan hamba-Nya di hari Kiamat,
  • Beriman tentang adanya adzab kubur dan adanya pertanyaan malaikat di dalam kubur,
  • Beriman tentang adanya syafa’at Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bagi ummat beliau
  • Beriman bahwa Dajjal akan muncul,
  • Beriman bahwa iman seseorang itu tidak hanya keyakinan namun juga mencakup perkataan dan perbuatan, dan iman bisa naik dan turun,
  • Beriman bahwa orang yang meninggalkan shalat dapat terjerumus dalam kekufuran,
  • Patuh dan taat pada penguasa yang muslim, baik shalih mau fajir (banyak bermaksiat). Selama ia masih menjalankan shalat dan kepatuhan hanya pada hal yang tidak melanggar syariat saja,
  • Tidak memberontak kepada penguasa muslim,
  • Beriman bahwa tidak boleh menetapkan seorang muslim pasti masuk surga atau pasti masuk neraka,
  • Beriman bahwa seorang muslim yang mati dalam keadaan melakukan dosa tetap disholatkan, baik dosanya kecil atau besar.

Jangan salah membatasi

Imam Al Barbahari berkata: ”Ketahuilah bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Lihat Syarhus Sunnah, no 2). Maka pada hakikatnya pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Islam itu sendiri dan ajaran Islam yang hakiki adalah pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya. Jika demikian, sungguh keliru sebagian orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan batas-batas yang serampangan.

Telah keliru orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu, seperti perkataan: ’Ahlus Sunnah adalah NU’ atau ’Ahlus Sunnah adalah Muhammadiyah’. Telah salah orang yang membatasi Ahlus Sunnah dengan majlis ta’lim atau ustadz tertentu dengan berkata: ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji di masjid A’ atau ’Ahlus Sunnah adalah yang mengaji dengan ustadz B’. Keliru pula orang yang membatasi dengan penampilan tertentu, misalnya dengan berkata ’Ahlus Sunnah adalah yang memakai gamis, celana ngatung dan berjenggot lebat. Yang tidak demikian bukan Ahlus Sunnah’. Tidak benar pula membatasi Ahlus Sunnah dengan fiqih misalnya dengan berkata ’Yang shalat shubuh pakai Qunut bukan Ahlus Sunnah’ atau ’Orang yang shalatnya memakai sutrah (pembatas) dia Ahlus Sunnah, yang tidak pakai bukan Ahlus Sunnah’. Dan banyak lagi kesalah-pahaman tentang Ahlus Sunnah di tengah masyarakat sehingga istilah Ahlus Sunnah mereka tempelkan pada kelompok-kelompok mereka untuk mengunggulkan kelompoknya dan berfanatik buta terhadap kelompoknya.

Adapun Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya ”Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [An Najm: 30].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. [Yulian Purnama]

Share Button

44 comments

  • #Khomsatun
    Bukan ajaran Wahabi, tapi ajaran Islam yang benar.

    #Falah
    Maa diinukum ya akhi? Diinuna Al Islam.

  • #Halwa
    Ya benar. Kita harus yakin bahwa metode beragama Ahlus Sunnah adalah yang benar. Karena metode beragama Ahlus Sunnah itu merujuk pada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

    Nah, yang selain Ahlus Sunnah merujuk pada pada siapa? Adakah yang lebih benar dari Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat?

  • يا مقلب القلوب ثبت قلوبانا علي دينك

  • choirunnangim

    memamng benar yang dikatakan penulis, masalah terbesar di negeri ini adalah, jika dikalangan ulama mengakui perbedaan adalah sebagian dari rohmat, beda dengan orang-orang yang hidup dimasyarakat yang menganggap golongan/benderanyalah yang paling benar. ( diatas bersatu di bawah sangat renggang sekali jaraknya).
    masalah semacam ini yang menghancurkan umat islam.

  • assalamua’alaikum..
    bagaimana tanggapan dengan tidak memihak tentang salafi? beberapa website baik itu di indonesia maupun di saudi mengklaim jalan salafi adalah ahlusunnah wal jama’ah.. bahkan sebagian mereka tidak membenarkan para imam dan mahzab para imam tersebut.
    wassalam..

  • kalo kita tidak membatasi mana yg ahlu sunnah dan mana yang bukan, bisa2 kita terus menerus ikut bid’ah yg dilakukan oleh sebagian besar umat. Dengan berusaha mengenali mana kelompok/pengajian yg ahlu sunnah, maka kita bisa ikut belajar Islam yg benar. Tentunya untuk mengenali harus ada ciri2 yg membedakan, seperti qunut subuh, kalau dilakukan terus menerus maka ini adalah bukan ahlu sunnah. Jadi benar memang ahlu sunnah tidak dibatasi oleh kelompok2 tertentu tetapi dibatasi oleh sunnah itu sendiri. Kalau jenggot dan celana katung adalah sunnah, maka di kelompok manapun dia, maka dia adalah ahlu sunnah. Tetapi kalau tidak maka bukan ahlu sunnah meskipun tidak mengaku ikut kelompok apapun.

  • Anda benar bahwa memang ada hal-hal yang menjadi ciri Ahlussunnah yang dapat digunakan untuk membedakan diri dengan yang selain Ahlussunnah.

    Namun, yang anda sebutkan itu tidak benar. Tidak ada ulama yang menjadikan Qunut shubuh sebagai patokan jati diri Ahlussunnah. Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan hukumnya sunnah. Lalu apakah Imam Asy Syafi’i bukan Ahlussunnah?

    Celana tidak isbal dan jenggot itu memang termasuk sunnah Nabi, namun bukan patokan jati diri Ahlussunnah. Bahkan betapa banyak Ahlul Bid’ah yang berjenggot, tidak isbal, istrinya bercadar, dll. Ingat, kaum khawarij itu Ahlul Bid’ah namun mereka sangat kencang dalam beragama.

    Setiap muslim itu pada asalnya Ahlussunnah, sampai kita tahu bukti penyimpangan aqidah dan manhajnya.

  • Pemahaman para sahabat. siapa sahabat yang wajib untuk di ikuti dan sahabat yang mana, yang benar-benar memahami alquran seluruhnya ?

    wassalam,

  • Assalamualaikum…
    Komentar anda ttg Qunut,janggut,& celana kutung,jadi ambivalent atau standart ganda sodaraku,krn yg disampaikan itu adlh sunnah Rasulullah jd kenapa hrs memilah2,bgm kita myntkan kita ahlusunnah klu kita memilah2nya,lalu anda menyatakan(janggut,celana kutung) itu bkn jati diri ahlusunnah?Nah..Lho..padahal itu perintah Rasulullah,tdk ada pertentangan ulama & semua ulama sepakat.

  • Perbedaan dikatakan rahmat kala perbedaan itu dapat menyebabkan meningkatnya pemahaman dan kecintaan kepada Alloh dan RasulNya. Jika semua masalah dikembalikan kepada AlQuran dan Al Hadist (yang sahih tentunya) insya Alloh tidak ada perpecahan dan kaum muslim benar2 merupakan 1 tubuh..janganlah nama golongan atau ketaatan kepada seseorang melebihi dari pengabdian kepada Alloh dan RasulNya..karena sebenarnya Alloh yang menyatukan umat muslim bukan semata2 makhluk tersebut yang ingin menyatukan..jika akhlak rasulullah sudah menyatu kepada diri setiap muslim maka persatuan akan dengan mudah terwujud insya Alloh …amien

  • di dunia ini ada dua yang baik dan yang jahat, yg selalu mngikuti kita kemanapun kita pergi ada setan ada malaikat di samping kita, tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat insya Allah kita akan di beri petunjuk oleh Allah SWT, karena yang selamat adalah yang selalu di jalan Allah, karena manusia yg tinggi derajat nya di sisi Allah adalah karena keimanannya, anda mengaku ahlu sunnah? seberapa besar keimanan anda kepada Allah?seberapa besar pengorbanan dan manfaat yg telah anda berikan untuk Islam dan umatnya? mulailah melihat siapa diri anda?manfatkah hidup anda untuk anda dan oran lain? mulailah dengan shalat yang sebenar2nya shalat yaitu shalat yg akan menghindari anda dari perbuatan keji dan munkar. semoga Allah selalu memberi petunjuNya kepada kita semua amin ya rabbal alamin…

  • Fauzul Mubin

    Assalamualaikum wr wb
    saya mau tanya.
    ada salah satu teman saya meng-copy artikel ini. beberapa hari sebelumya kami sempat berdebat tentang ketaatan kepada pemimpin muslim. pada dasarnya saya sepakat. tapi, yang menjadi pertanyaan saya adalah, ketika pemimpin itu melakukan banyak kedzoliman terhadap rakyatnya, apakah yang dapat kita lakukan?
    apakah berhenti pada memberi nasihat (secara rahasia)? bagaimana kalau kita ganti saja pemimpin itu dengan yang lebih baik? mengingat hal itu sangat mungkin dilakukan di negeri kita (indonesia) dengan cara yang legal tentu saja, bukan cara makar.
    terimakasih atas jawabannya.
    satu lagi, apakah istilah aqidah ahlussunah itu ada? setahu saya yang ada adalah aqidah islamiyah.
    jazakallah atas jawabannya.
    wslm

  • Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh
    @ Fauzul
    Coba perhatikan hadits berikut ini, semoga antum bisa mengambil pelajaran darinya.

    “Wahai Rasulullah, kami dulu berada dalam kesusahan lalu Allah mendatangkan kemudahan dan kami merasakannya. Apakah di balik kemudahan ini ada kesusahan lagi?” “Iya”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Lalu aku bertanya lagi, “Apakah di balik kesusahan itu ada kemudahan lagi?” “Iya”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi.
    Kemudian aku bertanya lagi, “Apakah di balik kemudahan itu ada kesusahan lagi?” “Iya”, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama.
    Aku berkata lagi, “Lalu bagaimana (Wahai Nabi)?”

    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    « يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

    “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
    Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”
    Beliau bersabda,”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847 )

  • lantas apakah yang dimaksud dg “dengar dan taat” adalah bahwa pemimpin yang dzalim itu tidak boleh diganti?
    mohon jawaban yang applicable (bisa diterapkan), karena kalau hanya teori saja itu mudah diucapkan tapi tidak memberi solusi.
    satu lagi, apakah kedzoliman itu bukan sebuah kemaksiatan?

  • Barokallahufiik,ana tunggu materi laNJUTANNYA

  • Yulian Purnama

    #Fauzul Mubin
    Perkataan anda, seolah anda sedang mendebat sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Wahai Rasulullah, sabda anda tidak applicable’.
    Semoga Allah memberi taufik.

  • Fauzul Mubin

    Bukan saya hendak mendebat Rasulullah SAW. tp pemahaman yang konprehensif hendaknya kita miliki.
    Sabda beliau kalau difahami sepotong2 dan tekstual semata, maka bisa bisa malah biikin kacau…..

    sekarang gini.kita hidup di Indonesia. presiden hanya boleh menjabat maksimal 2 periode. seandainya sekarang SBY berbuat kerusakan (korupsi dll), apa yang akan anda lakukan pada 2014?
    apakah akan tetap “mendengar dan taat” pada SBY?????

    mohon dijawab…

  • @akhi Fauzul Mubin,

    Cobalah cerna sabda Rasulullah yg disampaikan akhi Abduh diatas, dengar dan taat. Wong anda tinggal melaksanakan kok, pake bilang, “kalau teori mudah diucapkan tapi tidak memberi solusi.”

    Hati-hati akh, jgn terlalu banyak mendebat ini dan itu ketika disampaikan suatu ayat atau hadits kepada kita.

    Bertaqwalah pada Allah Ta’ala

  • Assalamulaikum Wr. Wb,

    Saudara-saudaraku, jika boleh saya memberikan komentar :” bahwa pendapat saudara sebagai seorang muslim berdasarkan dalil Al-Quran dan Hadist adalah benar. Akan tetapi dalam Al Quran di katakan “Wal Aqibatul lil Mutaqin”, kesudahan itu atau akhirat itu adalah untuk orang-orang yang taqwa. Alangkah baiknya dalam kajian ini dengan hati yang dalam kita landasi dengan ketaqwaan kepada Allah SWT yang Insya Allah menjadi rahmah. Bukan begitu ustadz..? Salam untuk saudara-saudara ku semua. Wassalamualaikum Wr. Wb.

  • #Fauzul Mubin
    Bukan tekstual, namun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam itu sangat fasih berbicara dan dikaruniai jawami’ al kalim, ucapannya singkat namun padat, jelas dan gamblang. Kalau berbicara sesuatu namun yang maksud maknanya lain, pasti sudah dijelaskan oleh sabda beliau yang lain, atau dijelaskan oleh para sahabatnya. Jadi, pemahaman komprehensif bukanlah berusaha menerka-nerka adanya makna lain, atau bahkan menafsirkan sabda Nabi dengan makna lain. Yang demikian lebih tepatnya dikatakan ‘tidak sepakat dengan sabda Nabi’.

    Mohon anda memperhatikan hal ini, termasuk iman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah mengimani sabda-sabdanya, tentu dengan pemahaman yang benar. Karena hal ini sangat mendasar, diskusi yang tidak didasari poin iman ini, adalah diskusi yang tercela dalam Islam. Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah.

    Tanpa pemerintah korupsi pun, Ahlussunnah sama sekali tidak setuju dengan sistem pemerintahan demokrasi. Namun tetap mendengar dan taat kepada hal yang ma’ruf, jika diperintahkan untuk berbuat maksiat tentu tidak boleh patuh.

  • subhanallah semoga diskusi ini selalu membawa kebaikan kepada kita semua….saudara2ku jadikanlah Al Quran dan AL Hadist sebagai dasar berhukum ibadah kita jangan pernah meragukan…!! karena apabila ada kebaikan yg dampaknya juga kebaikan tidak mungkin Rasulullah Muhammad SAW menyembunyikanya dari kita semua karena apa yang di lakukan Muhammad SAW adalah wahyu dari Allah JADI SEKALI LAGI jika ada suatu perbuatan baik di mata kita tetapi tidak pernah di contohkan oleh Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya belum lah tentu perbuatan itu baik di mata Allah, karena HANYA ALLAH LAH YANG MAHA TAHU YANG MANA YANG LEBIH BAIK UNTUK HAMBA2NYA..KARENA BAIK DI MATA KITA BELUMLAH TENTU DAMPAKNYA JUGA BAIK UNTUK KITA, KITA TIDAK AKAN PERNAH TAHU HARI INI,SEKARANG ATAU BESOK ATAU SETELAH KITA WAFAT DAMPAK DARI PERBUATAN ITU SENDIRI……KEMBALILAH KEPADA ALQURAN DAN HADIST AGAR KITA BERSATU DAN KEMBALI BERJAYA..ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHUAKBAR

  • mohon izin copy paste utk di share ke saudara2 yg lain. jazakallahu khairon katsiro

  • assalamualaikum wr wb.

    semoga berkah dunia akhirat.amin

  • smga selam dunya wal aqirah.

  • Aslm. wrb.saudara muslimin muslimah..

    menelaah firman Allah SWT dalam Quran -Nya

    43:36. Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

    43:37. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

    43:38. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) dia berkata: Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan magrib, maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.

    43:39. (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.

    43:40. Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

    43:41. Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat).

    43:42. Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami (Allah) ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka.

    43:43. Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.

    43:44. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.

    memperhatikan firma Allah diatas maka sudah jelas, jika bertumpu pada sunnah Rasulullah, maka perhatikan bahwa di saat itu syariat benar2 ditegakkan..tidak ada ibadah/hukum yang dihalangi2, karena hak umat yang mengaku muslim menjalankan syariat dan hukum2nya..sekarang apakah ada ibadah umat islam yang dihalang2i? bagimana jika yang menghalangi adalah umat islam sendiri? …naudzubillah.

    jika negara dipimpin seorang zhalim yang tetap menegakkan syariat maka itulah yang wajib ditaati.

    bagaimana dengan mereka yang mengambil setengah2?

    18:103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

    18:104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

    18:105. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

    18:106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

    bagaimana kesudahan mereka yang setengah2?

    4:150. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

    4:151. merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

    semoga dengan pendekatan firman2 tersebut ketauhidan kita kembali kepada fitrah..ahlussunah wal jamaah..namun jamaah yang mu’min..dan hanya mentaati ulil amri minkum..janganlah setengah2 dalam menjalankan islam, karena inilah shirattal mustaqiem (Quran)..kita semua berjalan me7 akhirat, dan tidak ada lagi kesempatan ke2 seperti pemahaman awam bahwa kita akan melalui jembatan shirattal mustaqim saat hari qiamat..wslm wrb.

  • fathir abdullah

    mohon ijin share agar teman-teman yang lain juga tahu. jazakumullahu khairan……!!!!

  • aslm, jika boleh komentar atas yang diterangkan akhi fauzul, bahwa yang disampaikan ada benarnya, dalam case ini ahlusunnah adalah mereka yang dalam diri dan keluarganya menerapkan quran dan as-sunah, semisal jika bersalah maka dia lebih memilih hukum islam sebagai pedoman penyelesaiannya karena itu kewajiban ummat islam dan yakin ada ampunan di akhirat, dan hukum untuk kaum kafir umat muslim hanya ditugaskan untuk berbuat adil.
    mengenai ketaatan yang dijabarkan akhi abduh dengan mereferensi hadist HR Muslim, semoga Allah memberi Taufik, mnrt sy sepertinya janggal (mungkin terjemahannya kurang pas), intinya bagaimana mungkin Rasulullah yang maksum dan selalu tegas dalam hal halal haram memerintahkan umat muslim yang tidak dijaman beliau untuk taat kepada manusia berhati setan?..bukankah setan adalah musuh yang nyata..saya khawatir dengan ini(hadist reff) mengingat jika ternyata tidak benar jangan2 kita sudah berdusta atas nama Rasulullah..naudzubillah..karena jelas2 bertentangan dengan firman Allah diatas bahwa setan adalah musuh nyata(setan manusia/berhati setan)..perlu ditegaskan bahwa jika selama syariat menjadi dasar hukum umat islam, dan jika pemimpinnya tidak menjalankan sunnah maka tetap ditaati..bukankah hukuman bagi kaum munafik ditangguhkan karena itu urusan Allah sendiri yang nantinya akan menjadi hakimnya? lagi seperti yang dijelaskan ayat quran diatas, mungkin sebagai tambahan akhi ukhti bisa membuka al kahfi 103-106 semoga akhi ukhti dan ana khususnya diberi pemahaman dan petunjuk yang lurus…amin, ana tutup dengan kafaratul majlis..quran itu untuk muhasabah khususnya saya sebagai umat islam, (apakah saya sebagai pelaku islam, penentang islam, atau penonton/islam KTP)..semoga Allah menerangkan kepada hati kita tentang tauhid yang sebenarnya melalui sungguh-sungguh mengkaji petunjukNya (quran)..amin

  • To Yulian Purnama bagus analisanya, pendek, ringkas, tepat sasaran, tidak semata-mata akal pikiran tetapi dari ilmunya para ulama.

  • Mohon ijin copas untuk bahan khutbah jum`at

  • Qunut shubuh, Celana tidak isbal dan jenggot bukanlah sebagai patokan jati diri Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Namun apa yang d printahkan Oleh Nabi bukankah harus Kita Laksakan?
    Celana tidak isbal dan jenggot itu adalah termasuk sunnah Nabi, bukan tolak ukur seseorang yang isbal dan jenggot itu Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ataubukan,tp apa yg diperintahkan Allah SWT & Rasul-Nya & apa yg dilarang harus d kerjakan,,,

  • Assalamualaykum ustadz, boleh copy gak buat di masukin diblog saya. Insya Allah disertakan link.

  • Ass.wr.wb…..saya hanyalah orang awam belaka…..saya hanya ingat wasiat Rasulullah “ummati..ummati…ummati”…saudara2ku sunnah Rasulullah itu sedemikian banyak….bagi saya yang terpenting kita lakukan sunnah2 itu dengan kemampuan kita dan beristiqamahlah tanpa menganggap orang lain lebih jelek daripada kita…karena Ukhuwah Islamiyah juga sunnah yang utama..dimana kita menghormati perbedaan2 pemahaman kita selama tidak berbeda dalam aqidah,dan kita bersama2 memberikan teladan sesuai dengan akhlaq Rasulullah s.a.w kepada saudara2 kita yang lainnya…salah satu hadit riwayat Muslim ada riwayat mengapa umat islam akan terbela atau terpecah2 yaitu ketika kita sebagai umatnya yang mengamalkan Sunnah merasa lebih suci daripada manusia lain disetiap majlis yang kita hadiri…kita lupa bahwa sesungguhnya Keimanan,Keislaman,Keikhsanan kita adalah Karunia Allah kepada kita bukan dari apa2 yang kita perbuat…tidakkah kita belajar atas perbuatan Iblis??..dia merasa dan yakin bahwa apa2 yang dilakukan adalah perbuatan dia semata,bukan Allah yang Karuniakan kepadanya….mari kita bertafakur bahwa kita tiadalah manusia berilmu atau bodoh kalau sekiranya Allah tidak beri kita IlmuNYA…kita akan kafir sekiranya Allah tidak memberi kita Iman…kita tidaklah akan mampu melakukan Shalat dan amalan sholeh lainnya jika Allah tidak mengkaruniakan kepada kita itu semua….tinggal begitu saja..Insya Allah kita akan selalu terjaga Iman kita dan kita tdk akan mencap atau mendeklarasikan diri kita yang paling benar…karena benar menurut manusia sama dengan jumlah manusia yang hidup di dunia ini….itu pendapat saya..mudh2an bermanfaat…wasslaam..:)

  • # akh heru : sepertinya penulis tidak menganggap orang lain lebih jelek amalannya, penulis juga tidak menyebut dirinya terbaik, dia hanya membeberkan pemahaman Islam yang sesuai sunnah(contoh dari nabi) yang dipraktikkan para shahabat. Kenapa anda malah berputar2 menuduh orang yang memberi ulasan disertai dalil ilmiah, sebagai orang yang merasa lebih suci..?? kenapa bisa spt itu jalan fikiran anda.? Lalu anda membantah dengan menyampaikan potongan hadits/pemahaman anda sendiri dengan mengatasnamakan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim..?? Hati2 lho..menyampaikan hadits harus hadits yang shahih,lengkap,jng dipahami sendiri..Imam Bukhari dan ulama2 selain beliau pernah berkata : Ilmui dahulu,sebelum berkata dan beramal..Bicara Islam harus dengan dalil,dengan ilmu (Al Quran dan Sunnah Nabi) jangan menurut saya..menurut fulan sembarangan..hati2..bisa malah mengakibatkan dosa..

  • Pingback: Menikah dengan Akhwat bukan Ahlus Sunnah (baca: akhwat Salafiyah) | Hari Hari mu adalah Umur mu..

  • Aslm.wrb.

    Bismillah…Allah SWT dalam Quran telah menyempurnakan agamaNya, yang turun temurun diajarkan oleh para Nabi dan Rasul-Nya. Dan Manusia seluruhnya diberi akal untuk memperhatikan dan mempelajari AlQuran itu. dan sebaik2 ilmu adalah diamalkan/dilaksanakan, karena belum dicatat sebuah amal sebelum diamalkan dengan gerak, niatan baik/buruk dalam hati manusia hanya Allah SWT yang tahu, dan amalan akan dicatat oleh malaikat sebagai amalan pada saat amalan itu terlaksana, sedang perhitungannya dikembalikan kepada Allah SWT.

    Quran tidak lain untuk menjadi barometer/pegangan ketaatan kita sebagai manusia, minimal adalah diri pribadi. jangan sampai seorang muslim menghina saudaranya yang muslim yang melakukan sunah2, bisa jadi ada kedengkian dalam hatinya, yang umumnya menutupi kekurangannya, bahkan menggunakan dalil untuk membenarkan ‘pendapatnya’, Waallahu a’lam. sebagai seorang yang mengaku muslim justru harus berlomba-lomba dalam ketaatan, dan membenarkan atau menyalahkan dengan dalil dan naqli. sedangkan orang kafir hanya menggunakan aqli dalam menyelesaikan masalah.

    dari surat Al Munafiqun:
    63:1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

    63:2. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

    63:3. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

    marilah kita menjauh dari sikap2 ini, banyak sekali tuntunan dalam AlQuran yang belum kita sempurnakan, bahkan kebanyakan makin menjauh/berpaling.

    Ibro bagi saya khususnya, apakah saya seorang munafik, atau sedang dalam berjalan menjadi seorang mu’min sejati, hanya diri kita dan Allah yang tahu, namun orang lain juga akan tahu ketika syarat menjadi seorang mukmin dilanggar, dan syarat2 orang munafik diikuti..naudzubillah, semoga kita semua bersungguh-sungguh dalam mempelajari Quran dan Sunah-Nya, karena Quran adalah bagi mereka yang mau berfikir dan tunduk kepada Allah saja dan tidak mengikuti hawa nafsunya.

    Ada suatu kata mutiara dari seorang ikhwan fillah..”mereka yang kehidupannya jelas melakukan hal yang dilarang Allah SWT dan menuju kepada Neraka saja bersungguh-sungguh, bahkan berani berkorban dengan harta dan jiwa raganya, tapi mengapa kita yang mendambakan surga tenang2 dan merasa cukup?..padahal tidak dihitung sebagai amalan jika hidup itu tidak untuk fisabilillah”..

    dalam Alhujrat difirmankan:
    49:15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

    jihad bukan melulu berarti perang meskipun ada saatnya perintah tersebut untuk berperang dalam arti mengorbankan jiwa untuk agama Allah, maksud selainnya adalah menegakkan dien Allah, dengan melaksanakan syariat/aturanNya, minimal belajar mengamalkan, lalu mengajarkan kepada keluarga untuk taat kepada perintahNya, dan menjalankan sunah2 RasulNya..

    semoga kita lebih giat belajar mendalami Islam yang benar, sesungguhnya islam yang benar (menjadi mu’min) tuntunannya ada dalam Al Quran, dan tata caranya ada pada Sunah..dan janganlah kita mengikuti ibadah yang tidak ada tuntunannya.

    mari pelajari mengenai hal tersebut di:
    http://almanhaj.or.id/content/1897/slash/0

    Jika ditanya apakah kita sudah beriman, maka hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui, dan kita tidaklah mengetahui sampai ketika ajal menjemput/sakaratul maut.

    mari resapi Firman Allah SWT, ini:
    49:14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

    semoga ini menjadikan tambahan bagi saya pribadi dan kaum muslimn dan muslimat. tidak ada yang merasa lebih baik daripada yang lain, katakanlah kami sama2 sedang menuju kepada ketaatan, dan hanya bekal taqwalah kita akan menghadap kepadaNya

    wslm, wrb.

  • Pingback: Surat Terbuka Untuknya | Hari Hari mu adalah Umur mu..

  • assalamualaikum..
    mohon ijin untuk dishare

  • idzin copas buat saya dan buat teman2 yang lain.

  • zainal abidin

    alhamdulillah dengan adanya bulettin ini dapat menambah ilmu dan pengetahuan kami…! terima kasih

  • Pingback: Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah? | muslim yogyakarta

  • aku suka cerita ini tentang ahlus sunnah wal jamaah itu

  • Alhamdulillah ini suatu petunjuk bagi saya untuk lebih memperdalam Islam untuk meningkatkan kualitas keimanan dan keislaman saya karena alloh.. Semoga muslimin dan muslimat ada dijalan alloh tetap dalam persatuan.. Dalam “Islam-nya Islam” bukan “Islam-nya kelompok”..amin.

  • Mohom ijin copy paste .ustad untuk di sebarkan ke ikhwan lain
    ‘barakallahu fik’

  • Bismillahirrahmanirrahim…
    Assalamu’alaikum…
    admin, izin copy paste yah.. smga ini menjadi manfaat untuk umat dan semoga allah meridhai…
    Berkunjung balik yah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *