Tahukah Kamu, Di Manakah Allah?

At Tauhid edisi IV/48

Oleh: Yulian Purnama

Ada sebuah pertanyaan penting yang cukup mendasar bagi setiap kaum muslimin yang telah mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Setiap muslim selayaknya bisa memberikan jawaban dengan jelas dan tegas atas pertanyaan ini, karena bahkan seorang budak wanita yang bukan berasal dari kalangan orang terpelajar pun bisa menjawabnya. Bahkan pertanyaan ini dijadikan oleh Rasulullah sebagai tolak ukur keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut adalah “Dimana Allah?”.

Jika selama ini kita mengaku muslim, jika selama ini kita yakin bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, jika selama ini kita merasa sudah beribadah kepada Allah, maka sungguh mengherankan bukan jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dimanakah dzat yang kita sembah dan kita ibadahi selama ini. Atau dengan kata lain, ternyata kita belum mengenal Allah dengan baik, belum benar-benar mencintai Allah dan jika demikian bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Sebagaimana perkataan seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala” (Muqoddimah Qowa’idul Mutsla).

Sebagian orang juga mengalami kebingungan atas pertanyaan ini. Ketika ditanya “dimanakah Allah?” ada yang menjawab ‘Allah ada dimana-mana’, ada juga yang menjawab ‘Allah ada di hati kita semua’, ada juga yang menjawab dengan marah sambil berkata ‘Jangan tanya Allah dimana, karena Allah tidak berada dimana-mana’. Semua ini, tidak ragu lagi, disebabkan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap ilmu agama, terhadap ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah yang telah jelas secara gamblang menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini, bak mentari di siang hari.

Allah bersemayam di atas Arsy

“Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’I, ia berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4). Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais.

Keyakinan para imam tersebut tentunya bukan tanpa dalil, bahkan pernyataan bahwa Allah berada di langit didasari oleh dalil Al Qur’an, hadits, akal, fitrah dan ‘ijma.

1. Dalil Al Qur’an

Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy (QS. Thaha: 5)

Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)

Juga ayat lain yang artinya:

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.

2. Dalil hadits

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya:

“Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Dalil akal

Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi)”. (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)

4. Dalil fitrah

Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.

Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11)

Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara) –nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis”. (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits)

Allah bersama makhluk-Nya

Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Allah bersamamu di mana pun kau berada” (QS. Al Hadid: 4)

Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini: “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)

Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di). Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

Kaum muslimin, akhirnya telah jelas bagi kita bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada dekat dan selalu bersama hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui isi-isi hati kita. Allah tahu segala sesuatu yang samar dan tersembunyi. Allah tahu niat-niat buruk dan keburukan maksiat yang terbesit di hati. Allah bersama kita, maka masih beranikah kita berbuat bermaksiat kepada Allah dan meninggakan segala perintah-Nya?

Allah tahu hamba-hambanya yang butuh pertolongan dan pertolongan apa yang paling baik. Allah pun tahu jeritan hati kita yang yang faqir akan rahmat-Nya. Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan mengabulkan doa-doa mereka. Maka, masih ragukah kita untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah? Padahal Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kemudian, masih ragukah kita bahwa Allah Ta’ala sangat dekat dan mengabulkan doa-doa kita tanpa butuh perantara? Sehingga sebagian kita masih ada yang mencari perantara dari dukun, paranormal, para wali dan sesembahan lain selain Allah. Wallahul musta’an. [Yulian Purnama]

66 comments

  1. lalu kenapa kita tidak boleh mendesripsikan cara Allah bersemayam ?

    Bukannya yang bersemayam itu hanya Mahluk ciptaannya ?

    mohon penjelasannya ustadz..

    syukron.

  2. #Halwa
    Sifat berbeda dengan dzat. Saya kira ini perkara yang sudah jelas.

    Mengapa kita tidak boleh mendeskripsikan cara bersemayam Allah? Karena Allah tidak mengabarkan kepada kita bagaimana caranya. Lalu bagaimana mungkin kita mau mendeskripsikan?? Maka hasil deskripsi kita sudah pasti salah.

    Manusia bisa melihat Allah pun melihat. Manusia bisa mendengar Allah pun mendengar. Manusia bisa bersemayam Allah pun bersemayam.
    Namun kesemua sifat Allah ini berbeda dengan sifat makhluknya, bahkan pada bentuk yang paling sempurnanya.

    Maka, penglihatan Allah berbeda dengan penglihatan manusia, pendengaran Allah berbeda dengan pendengaran manusia, bersemayamnya manusia berbeda dengan bersemayam-Nya Allah Ta’ala.

  3. untuk Halwa
    Mengenai sifat Allah, semuanya harus berdasar quran dan hadits, tanpa kedua rujukan di atas maka segala hujah harus kita tolak, apalagi menggunakan dalil akal yang tidak akan mampu menjangkau sifat Allah. QS 22:8 “Dan di antara manusia ada orang-orang yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang menerangkan”

  4. Mohon penjelasannya
    1. Apakah benar bahwa yg namanya di atas Arsy itu sama dengan diatas langit?
    2. klo benar Allah ada di atas langit, langit yg manakah tempat bersemayamnya Allah?
    3. kenapa kita tidak boleh bertanya lebih jauh mengenai apa, siapa dan dimana Allah jika di dalam sahadat dua kalimat kita menyebutkan bahwa kita bersaksi bahwa tidak ada ilah melainkan Allah
    NB : bukankah makna bersaksi adalah benar2 menyaksikan, melihat. Kalo kita tidak benar2 tahu dan menyaksikan apa yg kita ucapkan tersebut, bukankah ini berarti kita telah menjadi seorang pendusta/pembohong.

  5. #Ryan
    1. Benar. Karena Arsy ada di atas langit
    2. Langit ke-tujuh
    3. Bertanya tentang Alla dan dimana Allah boleh saja. Yang dilarang adalah mempertanyakan ‘bagaimana’. Karena pertanyaan ini akan memancing pikiran kita untuk mendeskripsikan rupa Dzat Allah. Dan mendeskripsikan rupa Dzat Allah adalah hal yang dilarang.
    Agar memahami kalimat syahadat jangan dari terjemahannya. ‘Syahadah’ dalam bahasa arab artinya ‘Khobarun Qothi’un’ (Pernyataan yang tegas/pasti, lihat Lisanul Arob). Dan pernyataan yang tegas/pasti ini tidak selalu harus melihat dulu. Selain itu tidak ada makhluk di dunia yang dapat melihat Allah Ta’ala.

  6. Ustadz mau nanya,

    Jika memang Allah swt berada di atas langit itukan setelah langit tercipta? Lantas sebelum langit diciptakan, Allah dimana?

    Apakah menurut Ustadz Allah benar-benar mebutuhkan langit agar bisa bersemayam?

    Salam

  7. Untuk menjawab pertanyaan kang armand, ada baiknya dipelajari terlebih dahulu lewat buku Syarah Aqidah Wasithiyah, di Indonesia udh ada terjemahannya, terbitan pustaka darul haq.

  8. Mohon penjelasan di sini aja ustadz, biar saya juga mengerti pertanyaan saudara armand.

    wassalam,

  9. #Armand

    Setelah langit diciptakan, Allah berada di atas langit, kita tahu karena Allah telah menceritakannya. Allah menceritakannya karena kita perlu tahu.

    Sebelum langit diciptakan, kita tidak tahu, karena Allah tidak menceritakannya. Oleh karena itu kita tidak perlu mengira-ngira, atau mencari-tahu. Allah Ta’ala tidak menceritakan karena kita tidak perlu tahu.

    Allah memerintahkan manusia menyembah, memuji, mengagungkan-Nya. Apakah itu menunjukkan Allah butuh kepada manusia? Bahkan sebaliknya, manusia lah yang butuh menyembah, butuh memuji dan butuh mengagungkan Allah Ta’ala.

    Demikian juga ‘Arsy, Allah bersemayam di atas ‘Arsy namun bukan berarti Allah butuh kepada ‘Arsy, bahkan ‘Arsy yang butuh kepada Allah.

    wallahu’alam

  10. Ah ustadz gimana sih. Jika Allah swt menciptakan langit kemudian menurut Ustadz Allah swt bersemayam di langit, maka menurut logika kan Allah swt menciptakan langit karena butuh untuk tempat bersemayam-Nya? Adakah yg salah dgn logika ini?

    Sebelum langit diciptakan dan bahkan sebelum alam semesta ini tercipta, maka hanya ada Allah swt yg Maha Esa Sang Penguasa yg Maha Wujud. Yang pasti kita tahu (bukan tidak tahu) tdk ada makhluk pada saat itu. Jika Ustadz menafsirkan “bersemayam” adalah sebuah tempat, maka dimanakah Allah “bersemayam”, sementara tidak ada tempat utk Allah swt “bersemayam” pada saat itu?

    Ketidaktahuan kita bukanlah karena tdk ada kabar mengenai ini, namun disebabkan pengertian yg keliru mengenai kata “bersemayam”. Pengertian “bersemayam” yg dianalogikan sebagai tempat merupakan pemahaman yg menurut sy adalah pemahaman yg menyeleweng, karena berakibat Allah swt tdk lagi bersifat Maha Berdiri Sendiri setelah alam semesta (baca: langit) ini diciptakan-Nya.

    Bagaimana mungkin akidah kita berdasar dan harus mengikuti akidah seorang (budak) yg baru mengenal Islam?

    Salam

  11. #Armand
    Keyakinan tentang sifat atau Dzat Allah adalah perkara gaib. Kita tidak boleh berkeyakinan tentang hal itu melebihi dari apa yang Allah ceritakan. Tidak perlu memikirkan dengan permainan logika, mengira-ngira, dengan ‘menurut saya’, atau opini pribadi. Kita cukup menerima dan menelan bulat-bulat sebagaimana apa yang diceritakan oleh Allah dan ayat Qur’an dan hadits Nabi.

    Istiwa (bersemayamnya Allah) bukanlah duduk bersila, bukan berdiri, bukan berbaring, atau apapun yang tergambar di benak kita. Yang harus kita yakini hanyalah ISTIWA saja tanpa menafsirkan kaifiyahnya (caranya).

    Kita tidak mengikuti si budak perempuan, namun kita mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam yang membenarkan perkataan si budak tersebut. Kalau si budak salah, tidak mungkin beliau tidak mengkoreksi.

    Orang yang tidak mau meyakini bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy ia bertentangan dengan para sahabat, imam mahdzab yang empat dan para ulama ahlussunnah.

    Kami mengharapkan anda menelaah lagi tulisan kami dengan hati yang jernih. Allahu yahdikum.

  12. Maaf Ustadz, jika Istiwa tidak boleh kita tafsirkan, lalu untuk apa Alquran di turunkan sebagai Petunjuk umat manusia ?

    ” Orang yang tidak mau meyakini bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy ia bertentangan dengan para sahabat, imam mahdzab yang empat dan para ulama ahlussunnah ” apakah ini Doktrin agama islam ?

    wassalam,

  13. #Halwa
    Yang tidak boleh adalah menafsirkan bentuk atau cara istiwa, misalnya menafsirkan bahwa ber-istiwa adalah duduk, bersandar, bersila atau semacamnya. Karena Allah tidak menjelaskan cara istiwa dan Allah tidak serupa dengan makhluk. Sehingga tidak ada yang bisa mengetahui bentuk atau cara Allah beristiwa.

    Menafsirkan makna istiwa boleh saja, yaitu ditafsirkan sesuai dengan makna istiwa yang sudah ma’lum dalam bahasa arab. Oleh karena itu Imam Malik berkata:
    الاستواء معلوم والكيف مجهول والسؤال عنه بدعة والايمان به واجب
    “Istiwa itu maknanya sudah ma’lum. Cara Allah ber-istiwa itu tidak ada yang mengetahui. Menanyakan cara Allah beristiwa adalah bid’ah. Mengimani bahwa Allah beristiwa adalah wajib”

    Apa yang anda maksud dengan doktrin? Karena semua ajaran agama manapun tentu adalah doktrin. Doktrin atau apapun namanya, yang pasti kita dituntut untuk tunduk kepada ajaran Islam yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Kemudian, adakah ajaran Islam yang lebih benar selain yang dipahami oleh para sahabat, para ulama dan para imam umat Islam?

  14. Ustadz, agar lebih jernih, mohon dikoreksi bila sy keliru menyimpulkan pemaparan Ustadz tentang Allah swt beristiwa di arsy di atas langit seperti berikut:

    “Allah swt beristiwa dgn menempatkan diri-Nya pada sesuatu (bukan duduk, bukan berbaring, bukan berdiri) yg berujud benda khusus yg bernama arsy di suatu tempat tertentu/khusus yg disebut langit. Bertempat di sana dan mengatur alam semesta beserta isinya serta mengawasinya. Benarkah demikian?

    Apakah arsy ini dapat dilihat/dirasa/disentuh/digambarkan layaknya langit yg dapat dilihat/digambarkan dgn indera?

    Salam

  15. #Armand
    Kesimpulan yang tepat:
    “Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah. Di atas ‘Arsy, Allah ber-istiwa. Ber-istiwa bukanlah duduk, berdiri, bersila, atau apapun yang tergambar di benak kita. ‘Arsy ada diatas langit. Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya dan Allah Maha Kaya lagi Perkasa tidak membutuhkan makhkluk-Nya. Namun makhluk-Nya lah yang butuh kepada Allah”

    ‘Arsy adalah sesuatu yang ghaib, tidak bisa dijangkau oleh pancaindera. Sifat-sifat ‘Arsy antara lain: dibawahnya terdapat air, dipikul oleh beberapa Malaikat, memiliki tiang-tiang, ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi.

    Jika ingin menelaah lebih lanjut silakan baca artikel bermanfaat berikut:
    http://ustadzkholid.com/aqidah/aqidah-ahlussunnah-terhadap-al-arsy

  16. Mari kita telaah lebih jauh;

    Allah swt beristiwa di arsy di atas langit. Arsy & langit adalah makhluk. Ustadz tentu faham bahwa makhluk dgn segala sifat kekurangannya membutuhkan ruang & tempat utk eksistensinya. Malaikat yg begitu ghaib pun msh memiliki wujud, yg dapat dikenal oleh manusia-manusia khusus, membutuhkan alam ini utk eksis. Sy yakin arsy yg Ustadz maksud pun demikian. Nah mampukah Ustadz menjelaskan ke sy, bagaimana zat Allah swt yg tdk membutuhkan ruang & tempat utk eksistensi-Nya bercampur dgn makhluk-Nya yg msh membutuhkan ruang & tempat? Kecuali apabila Ustadz pun meyakini bahwa Allah swt membutuhkan ruang & tempat sebagaimana kebutuhan makhluk-Nya. Jika ini yang Ustadz yakini, maka sy sungguh tak dapat berkata-kata. Semoga saja tdk.

    Jadi tdk keliru jika dikatakan, dgn pemahaman Ustadz itu, bahwa Allah swt sdh Tidak Berdiri Sendiri lagi ketika Ia menciptakan arsy & langit dan alam semesta ini. Sehingga kata-kata Ustadz bahwa “Allah swt tida serupa dgn makhluk-Nya, Maha Kaya lagi Perkasa, tidak membutuhkan makhluk-Nya serta makhluk-Nya lah yg membutuhkan-Nya” adalah slogan-slogan hampa karena berlawanan dgn i’tikad dan keyakinan Ustadz sendiri.

    Sy protes keras bahwa Ustadz mengatakan ini merupakan aqidah Ahlussunnah. Aqidah ahlussunnah yg sy yakini jauh dari mensifati Allah swt sebagaimana pemahaman Ustadz.

    Semoga Allah swt membimbing kita selalu. Amin.

    Salam

  17. saya banyak merasakan manfatnya terutama topik-topik seputar aqidah. semoga dapat terus istiqomah dan menjadi yang terbaik.
    djazaakallahu khoir

  18. Assalamu’alaikum

    Maaf kiranya klo saya ikut campur dalam diskusi ini…

    Akhi Armand wrote :
    “Sy protes keras bahwa Ustadz mengatakan ini merupakan aqidah Ahlussunnah. Aqidah ahlussunnah yg sy yakini jauh dari mensifati Allah swt sebagaimana pemahaman Ustadz.”

    Akhi yg semoga dirahmati Allah, selain berdiskusi dengan ustadz Yulian, kiranya sudilah akhi membaca artikel berikut ini dengan hati yg lapang :
    http://addariny.wordpress.com/2009/11/03/akidah-imam-syafii-rohimahulloh/
    http://addariny.wordpress.com/2009/10/31/akidah-imam-malik-rohimahulloh/
    http://addariny.wordpress.com/2009/10/24/akidah-imam-abu-hanifah-rohimahulloh/
    http://addariny.wordpress.com/2009/11/10/akidah-imam-ahmad-bin-hambal-rohimahulloh/

    Kiranya setelah membaca artikel diatas, dapatlah kita katakan bahwa akidah ahlussunnah adalah mengimani sifat Allah Azza Wa Jalla sebagaimana Dia memberitahukan pada kita didalam Al Quran atau melalui lisan NabiNya Shallallahu Alaihi Wassalam. Serta menolak untuk mempertanyakan lebih jauh bagaimana sifat2Nya itu. Ini adalah akidah yg sudah turun temurun diwariskan salafus sholih kita yaitu Nabi dan para sahabat -radhiyallahu ‘anhuma-, imam 4 mazhab serta ulama2 yg setia pada manhaj Al Qur’an dan Sunnah.

    Afwan akhi Armand, kalau akhi protes keras akidah ini, lalu bagaimanakah akidah ahlussunnah yg akhi yakini? Sudilah ditulis disini agar bisa didiskusikan dengan Ustadz Yulian.

    Terima kasih sebelumnya.
    Wassalamu’alaikum

  19. #Armand
    Allah berada di atas ‘Arsy bukan berarti Allah membutuhkan tempat dan ruang. Coba anda baca kitab-kitab Aqidah tulisan para ulama. Mereka mengatakan ‘Arsy itu haq, dan Allah berada di atas ‘Arsy. Namun mereka juga mengatakan bahwa Allah tidak membutuhkan ruang dan tempat. Ini tidak kontradiktif sama sekali, kecuali bagi orang yang belum paham.

    Sebagaimana Allah menciptakan Malaikat untuk mencabut nyawa, untuk menurunkan rezeki, untuk menjaga neraka, dll. Bukan berarti Allah membutuhkan para Malaikat untuk mencabut nyawa, bukan berarti Allah tidak mampu mencabut nyawa manusia dengan sendirinya.

    Saran saya, agar tidak jadi debat kusir, jika anda meng-klaim keyakinan anda adalah keyakinan Ahlussunnah, tolong sampaikan kepada saya siapa ulama Ahlussunnah yang tidak meyakini Allah di atas ‘Arsy.

    Semoga Allah memberikan kita taufiq untuk lebih memahami agama ini.

  20. @Ibnu Zakki/Ustadz Yulian

    Terima kasih atas tanggapannya.

    Ingin sekali sy menyampaikan analisa sy tentang pemahaman “dimanakah Allah” dari pendapat-pendapat para fukaha/imam mazhab. Sebab sy yakin bahwa pemahaman atau penafsiran para imam mazhab mengenai istiwa, arsy, langit, tdklah spt yg disangkakan dlm tulisan di atas. Namun sebelumnya jika mas tdk berkeberatan agar dijawab dulu pertanyaan2 sy. Sy cenderung lebih suka mengajukan pertanyaan2 daripada mengemukakan pendapat.

    Salam

  21. “Di kitab-kitab Aqidah tulisan para ulama. Mereka mengatakan ‘Arsy itu haq, dan Allah berada di atas ‘Arsy”

    Pernyataan ini benar. Tidak keliru. Yg membuatnya keliru adalah tafsiran Ustadz bahwa Allah beristiwa di atas arsy dengan memaknai istiwa sebagai bersemayam dan arsy adalah tempat berupa benda dimana Allah bersemayam di atasnya. Bagaimanapun kerasnya pernyataan Ustadz bahwa Allah Tidak Serupa dengan Makhluk-Nya, tetap akan kontradiksi dgn pemahaman Ustadz bahwa Allah swt berada di suatu tempat dan ruang tertentu utk eksistensinya. Sementara yang berada di suatu tempat dan ruang tertentu adalah sifat makhluk yg serba terbatas. Tidakkah Ustadz melihat kontradiksi ini? Sy tdk ingin menggunakan kata-kata “Allah swt membutuhkan ruang & tempat” sebab Ustadz akan kembali membalas bahwa Allah swt tdk membutuhkan ruang & tempat. Ustadz meminta sy menelaah dgn jernih. Sebaliknya malah Ustadz tdk berpikir jernih.

    Dari beberapa arti mengenai istiwa’ selain “bersemayam” salah satunya adalah “menguasai”. Mengapa tdk menggunakan makna ini? Sebaliknya mengapa Ustadz menggunakan makna “bersemayam”? Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah? Apakah ustadz tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Meskipun Ustadz terus berdalih bahwa bersemayamnya Allah berbeda dgn makhluk-Nya namun tetap saja makna bersemayam adalah contoh prilaku makhluk. Entah makhluk jenis apa pun ia.

    Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj alQawim h. 64 (mohon maaf jika keliru, mohon dicek kembali), mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

    Salam

  22. @akhi Armand,

    berikut ini ada artikel bagus mengenai istiwa’ : http://muslim.or.id/aqidah/sifat-istiwa-allah-di-atas-arsy.html

    Berikut saya nukilkan

    Pertama:

    Istiwa’ adalah hakikat dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha (الرحمن على العرش استوى), Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan:

    الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

    “Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

    Komentar dari saya : maksud dari pernyataan istiwa itu diketahui adalah diketahui hanya secara bahasa/makna.

    Kedua:

    Wajib mengimani dan menetapkan sifat istiwa’ tanpa merubah (ta’wil/tahrif) pengertiannya, juga tanpa menyerupakan (tasybih/tamtsil) sifat ini dengan sifat istiwa’ makhluk.

    Ketiga:

    Menafsirkan istawa (اِسْتَوَى) dengan istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya menguasai adalah salah satu bentuk ta’wil yang bathil. Penafsiran ini tidak dikenal di kalangan generasi awal umat Islam, tidak juga di kalangan ahli bahasa Arab. Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan bahwa penafsiran ini pertama kali dimunculkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Mereka ingin menafikan sifat keberadaan Allah di atas langit dengan penafsiran ini. Kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah, tapi bukan itu arti istiwa’.

    Keempat:

    Penerjemahan kata istawa (اِسْتَوَى) dengan “bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal arti istawa bukanlah ini, sebagaimana telah dijelaskan.

    Kelima:

    Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tapi justru ‘arsy yang membutuhkan Allah seperti makhluk-makhluk yang lain. Dengan hikmah-Nya Allah menciptakan ‘Arsy untuk istiwa’ diatasnya, dan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun. Wallahu a’lam.

    Namun begitu perlu digarisbawahi dari komentar2 ustadz Yulian diatas khususnya komentar yg ini : “Istiwa (bersemayamnya Allah) bukanlah duduk bersila, bukan berdiri, bukan berbaring, atau apapun yang tergambar di benak kita. Yang harus kita yakini hanyalah ISTIWA saja tanpa menafsirkan kaifiyahnya (caranya).” Lihatlah Ustadz Yulian hanya menyebutkan bersemayam secara bahasa saja tanpa memaknai lagi. Bahkan beliau mengatakan yang harus kita yakini hanya ISTIWA tanpa menafsirkan lagi. Dan pemaknaan istiwa secara bahasa dengan bersemayam adalah sudah umum di kalangan ahli bahasa, bukan hanya dipakai oleh ustadz Yulian. Cobalah akhi Armand buka kitab2 Al Qur’an yang ada terjemahan bhs Indonesia, lihatlah disitu mereka mengartikan istiwa secara bahasa dengan bersemayam. Dan kalau saya lihat dari komentar akhi armand yg terakhir, justru akhi-lah yg saya khawatirkan terjatuh pada kesalahan yg fatal yaitu memaknai istiwa’ dengan menguasai. Secara bahasa pun, makna istiwa beda jauh dengan menguasai. Ini adalah akidahnya Mu’tazilah yg menafsirkan istiwa dengan istawla.

    Walaupun begitu, akhi armand…sesama thulabul ilmiy dan agar menghindari debat kusir yg tidak bermanfaat, saya hanya ingin mengingatkan, daripada kita terjatuh kepada pemahaman yg tidak benar mengenai istiwa’ apalagi sampai memaknai dengan makna yg tidak benar, mari kita kembalikan saja makna istiwa’ kepada Allah dan RasulNya. Cukuplah kita imani QS Thaha ayat 5 : Arrohmaanu ‘alal ‘arsyistawaa, artinya : Yang Maha Pemurah beristiwa diatas ‘arsy. Tidak usahlah kita artikan istiwa’ itu dengan kata2 lebih lanjut. Cukup ISTIWA saja yg kita ketahui. Ini adalah lebih selamat, insya Allah.

    Maaf, kalo ada kesalahan tolong diperbaiki.

  23. #untuk saudaraku armand
    Yaa akhi, ternyata antum cerita panjang lebar, ngomong ngalor ngidul, ngajak maen logika tuh cuma mau menolak makna hakiki istiwaa’ dan memaknainya dengan istaulaa'(menguasai). kenapa tdk antum katakan sejak awal shg jelaslah permasalahanya.

    Tentang makna istiwaa’ sendiri para ulama ahlus sunnah telah menjelaskan maknanya yaitu ‘alaa (di atas), irtafa’a (naik), so’ada (naik), dan istaqarra (menetap). Adapun mengartikannya dengan “bersemayam” hanya sekadar memudahkan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia/ taqriibul fahm (mendekatkan pemahaman) saja.
    Jadi memang sedkit rumit kalau istilah bersemayam digunakan untuk menjelaskan istiwaa’ yang hakiki.

    Sedangkan memaknai istiwaa’ dgn istaulaa’ (berkuasa) adalah keyakinan yang batil. hal ini karena bbrapa alasan :
    1. penafsiran seperti itu menyelisihi aqidah para salaf yang mereka semua telah bersepakat tentang makan istiwaa’. tidak pernah dinukil satu perkataan pun dari mereka perkataan yang menyelisihi dhohir kalimat istiwaa’.
    2. penafsiran seperti itu menyelisihi dhohir lafadz. karena istiwaa’ jika disambung dgn ‘alaa bermakna tinggi dan menetap. ini adalh dhohir lafadz. inilah makna yang terdapat dalam Al Quran dan dalam perkataan orang arab.
    3. penafsiran dgn istaulaa’ mengandung konsekuensi batil yaitu :
    – melazimkan Allah ketika menciptakan langit dan bumi tidak menguasai ‘arsy, karena Allah berfirman yg artinya : “Allah yg menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian istiwaa’ di atas ‘arsy” (Al A’rof :54) Kalimat tsumma (kemudian) menunjukkan urutan. maka konsekuensinya bahwa sebelum sempurnaya langit dan bumi, ‘arsy bukan dalam kekuasan Allah. ini adalah batil.
    – umumnya makna istaulaa’ (menguasai)terjadi setelah adanya perebutan kekuasaan. dan tidak ada satupun yang dapat mengalahkan Allah.(maksudnya sebelumnya Allah tidak menguasi kemudian Allah dapat mengambil kekuasaan tsb)
    – jika istiwaa’ bermakna istaulaa’ maka kita boleh mengatakan Allah istiwaa’ di atas bumi, di atas pohon, di atas batu, karena Allah yang menguasai itu semua.

    ini adalah bbrapa konsekuensi batil dari memekanai istiwaa’ dgn istaulaa’. dan batilnya konsekuensi suatu pernyataan menunjukkan batilnya pernyataan tersebut. Wallohu a’lam.

  24. #Armand
    Istiwa itu sifat Allah dan juga sifat makhluk. Namun Istiwa Allah tidak sebagaimana istiwa makhluk. Sebagaimana Allah itu Bashiirun (Maha Melihat), Samii’un (Maha Mendengar). Melihat dan mendengar juga sifat dan perbuatan makhluk. Jika anda mengingkari istiwa karena alasan ini, anda tentu juga harus mengingkari sifat Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.

    Allah berada di atas ‘Arsy bukan untuk eksistensinya tapi karena Allah menginginkannya.

    Menafsirkan Istawa dengan Istaula itu termasuk menyimpangkan makna. Karena ada kaidah “Al Ashlu fil lafdzi Al haqiqoh illa ma’al qoriinah”, tidak boleh menafsirkan lafadz ke makna konotatif padahal ada makna lugas kecuali ada indikasi lain. Dan menyimpangkan makna ayat itu dosa besar.

    Kami nasehatkan anda agar menelaah sebelum berpendapat dan tidak berpendapat atas dasar prasangka dan dugaan. Prasangka anda mengakatakan apa yang kami tulis tidak sesuai dengan pemahaman para imam ahlussunnah. Sebaiknya anda telaah dahulu sebelum berprasangka. Al ilmu qoblal qoul wal amal.

    Imam Abu Hanifah mengatakan Allah tidak memiliki arah, namun di tempat lain beliau mengatakan Allah di atas ‘Arsy. Ini juga dikatakan oleh Ath Thahawi, dan para ulama yang lain. Artinya apa? Allah tidak memiliki arah tidak menafikan bahwa Allah di atas ‘Arsy. Ini perlu penjelasan panjang, Insya Allah akan kami bahas pada tulisan tersendiri.

  25. @Ustadz Yulian/Ibnu Zakki/Abine Athifah

    Inikah akidah yg diwasiatkan Rasul saw kepada kita? Inikah yang saudara2 tegaskan sebagai akidah ahlussunnah? Mencabut akal dari perannya dan menancapkan doktrinasi? Jangan bertanya lebih jauh. Imani saja. Bagaimana mungkin orang beriman tanpa berakal? Bagaimana bisa orang yakin tanpa berpikir? Apakah ini yg diyakini oleh Abubakar, Umar, Utsman dan Sayyidina Ali? Coba yakinkan sy dgn mengutip ucapan2 beliau-beliau tentang hal ini. Bagaimana kita akan mengenal Allah, yang jika sifat-sifat yg mampu kita kenal dinafikan utk dipelajari hanya karena ketidaktahuan dan keterbatasan ilmu kita?

    Lihatlah. Ketika sy bertanya dimana Allah sebelum diciptakannya langit, dijawab bahwa kita tdk mengetahuinya sebab tdk dikhabarkan oleh Allah swt. Sy heran mengapa banyak pula orang yg membenarkan akan teori yg janggal dan tak bertanggungjawab ini. Apakah saudara2 yakin bahwa Nabi saw juga akan menjawab seperti itu? Apakah pengetahuan Nabi saw terbatas dalam mengenal Allah? Ini bukanlah masalah dikhabarkan atau tidak. Ini hanya masalah logika sederhana yg dapat dijawab dgn sederhana pula, yg tdk mampu dijawab karena terjebak dgn teori yg menganggap bahwa Allah swt berada di langit. Teori yg aneh dan menyeleweng. Allah swt bertempat & berarah?

    Ketika sy mempermasalahkan bersemayamnya Allah swt, dijawab bahwa bersemayamnya Allah berbeda dgn bersemayamnya manusia. Kita tdk boleh membayangkan bersemayamnya Allah layaknya prilaku manusia seperti duduk, berbaring, dll, yang padahal bersemayam sendiri mengandung arti “duduk”nya manusia. Apakah kita ini anak kecil yg akan begitu mudah menerima hal-hal janggal dan tdk bertanggungjawab seperti ini? Jawaban ini sesungguhnya hanyalah menunjukkan keterbatasan ilmu kita dalam mengenal Allah swt, yg semestinya diakui secara fair dan jujur. Bukan malah memastikan tidakadannya kekeliruan akan teori ini serta menegaskan sebagai salah satu doktrin akidah yg dipahami oleh kelompok ahlussunah.

    Apa yg sy dapati mengenai pendapat para Imam Mazhab dan tokoh-tokoh Islam di generasi awal tdklah seperti apa yg saudara-saudara pahami.
    Inilah yg dapat saya ambil dari pendapat beberapa tokoh Islam generasi awal dan Imam Mazhab (mohon maaf hanya mengutip dari sebuah tulisan, agar dikoreksi kembali).

    (1) Imam Abu Hanifah

    Dalam Kitab Fiqh al Akbar: Allah tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.

    Dalam Kitab Wasiat: Dan kami (ulama Islam) mengakui bahwa Allah ta’al beristawa atas ‘arsy tanpa Dia memerlukan ‘arsy dan Dia tidak menetap di atas ‘arsy, Dia menjaga ‘arsy dan selain ‘arsy, tanpa memerlukan ‘arsy. Sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti ia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya seperti juga makhluk-makhluk. Kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum dicipta ’arsy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”.

    Komen sy: Jelas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam Allah di atas ‘arsy.

    (2) Imam Syafi’i

    Dinukil oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2: Sesungguhnya Dia Allah Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belumlah diciptakan. Kemudian Allah menciptakan tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu sebagaimana belum terciptanya tempat. Sifat Allah tidak mengikuti perubahan itu.

    Komen sy: Sifat Allah swt Berdiri Sendiri & Tidak Tergantung Makhluk-Nya, baik sebelum atau pun setelah diciptakannya makhluk. Berbeda dgn saudara2 yg menganggap Allah bertempat di langit dan tdk diketahui bagaimana sebelum langit diciptakan.

    (3) Imam Ahmad bin Hanbal

    Dia (Allah) istawa sebagaimana dikabarkan-Nya (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia.
    Dinukil oleh Imam al-Rifai dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Huseni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.
    Dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahwa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

    (4) Imam Malik

    Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima akal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

    Komen sy: Imam Malik bahkan hanya menulis kata istiwa, bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat.

    Terakhir, Sayyidina Ali, yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh mengatakan:
    Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-‘arsy untuk menzahirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

    Komen sy: Sayyidina Ali yg merupakan pintu ilmunya Rasulullah saw, awalnya generasi awal Islam, dimana ilmu yg kita dapatkan mestinya adalah bersandar kepada pengetahuan beliau, telah menafsirkan terlebih dahulu makna dari pada istiwa dan al-‘arsy.

    Lalu, bagaimana saudara2 menyatakan bahwa apa yang sy pahami mengenai sifat Allah di atas adalah bathil dan tdk disebut-sebut oleh tokoh-tokoh Islam generasi awal? Bahkan saudara-saudara sendiri belum mampu menunjukkan adanya ucapan Abubakar/Umar/Utsman/Ali mengenainya. Siapa itu yg saudara-saudara tunjuk sebagai “aqidah para salaf yang mereka semua telah bersepakat”?

    Demikian dari sy. Semoga Allah swt selalu memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua. Janganlah menjadikan doktrin sebagai landasan beragama, karena Nasrani & agama lainnya selain Islam pun bersandar pada doktrinasi mengenai ketauhidan.

    Salam

  26. #Armand
    Maaf, sebenarnya anda mengimani Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy atau tidak? Orang yang menafsirkan istawa dengan istaula, ia tidak mengimani Allah di atas ‘Arsy.

    Berbicara tentang Allah itu berdasarkan apa yang Allah kabarkan, dengan kata lain: dalil. Jika selain dari dasar itu darimana kita bisa tahu? Semua ajaran agama ini dibangun atas dasar dalil, bukan logika.

    Jika dalil sudah menetapkan, kita dituntut untuk beriman. Mengapa kita diperintahkan untuk shalat, mengapa shalat 5 kali, mengapa Allah menentukan takdir, itu semua kita hanya wajib mengimani tanpa perlu mempertanyakan.

    Doktrin itu mengikuti secara buta perkataan manusia dan melarang mempertanyakan. Jika ajaran Islam itu dikatakan doktrin maka sesungguhnya ini doktrin dari Allah Ta’ala.

    Yang boleh kita pertanyakan adalah dalil. Mengapa shalat itu wajib, dalilnya apa? Mengapa Allah di atas Arsy, dalilnya apa? dst.

    Allah Ta’ala menurunkan Qur’an dan mengutus Nabi-Nya agar hamba-Nya beragama dengan dasar 2 hal tersebut bukan dengan logika.

    Kami berusaha memaparkan seilmiah mungkin, dengan rujukan yang jelas dan dapat dicek pada kitabnya langsung. Namun sayang sekali anda hanya dapat menampilkan tulisan orang yang membawakan riwayat yang tidak jelas rujukannya. Bahkan anda tidak menulis sumber asli artikel.

    Jika anda berusaha sedikit ilmiah, tolong baca langsung pada kitab para imam baru berpendapat. Demikian baru dikatakan Al ilmu qoblal qoul wal amal. Ada ilmu sebelum berbicara. Ingat, bicara tentang Allah tanpa ilmu itu dosa besar.
    قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

    “Katakanlah: Sungguh Allah mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan berbicara tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-A’râf: 33)

  27. Assalamu’alaikum,

    @akhi armand yg semoga dirahmati Allah,

    Sekarang berpulang pada antum sendiri, bagaimana memandang akidah ini? Namun simpelnya begini akhi, yg ahlussunnah percayai dalam hal ini adalah apa-apa yg sudah Allah Ta’ala khabarkan didalam Al Qur’an dan melalui lisan NabiNya, itulah yg wajib kita imani sebagai konsekuensi 2 kalimat syahadat. Allah telah banyak mengabarkan mengenai hal ini diantaranya mengenai dimana Allah, silahkan akhi buka surat2 berikut :
    1. QS 20:5
    2. QS 11:7
    3. QS 10:3
    4. QS 7:54

    Ya akhi -yg semoga selalu mendapat rahmat dan kasih sayang dari Allah-, jika akhi hanya mempermasalahkan pemakaian kata bersemayam untuk memaknai istiwa secara bahasa, maka sungguh akhi adalah org yg kritis karena memang benar, pemakaian kata semayam untuk memaknai istiwa masih perlu untuk diteliti karena makna istiwa Allah tidak bisa dimaknai. Tetapi kalau akhi sampai mengingkari sifat istiwa Allah diatas arsy-Nya bahkan memaknai istiwa dengan istawla (menguasai), apalagi sampai mempertanyakan dimana Allah sebelum diciptakannya langit, ya akhi takutlah kepada Allah Ta’ala. Kalo permasalahannya sudah sampai disini maka tidak boleh memakai logika lagi karena tidak adanya nash baik dari Al Quran maupun hadits Nabi yg menjelaskan dimana Allah sebelum langit diciptakan. Itu sudah masuk perkara ghaib yg tidak diberitahukan kepada makhluk2Nya, dalilnya adalah : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” QS Al An’am : 59. Jadi, klo boleh saya nasehatkan pada akhi, batasilah logika berpikir akhi dan imanilah yg sudah jelas2 diberitahukan Allah Ta’ala lewat kitabNya dan lewat lisan NabiNya kepada kita. Hindarkan prasangka karena bisa membawa kita ke jurang kebinasaan.

    Ketahuilah akhi, akidah ahlussunnah adalah jalan pertengahan, ia tidak terlampau ekstrim menggunakan akal juga tidak ekstrim dalam berserah diri/pasrah. Kalau sudah sampai dalil nash yg qoth’i (pasti) kepada kita maka keputusan akal dan logika sebagus apapun itu, akan tertolak suka atau tidak suka, dan kita wajib mengatakan “sami’na wa atho’na” (kami mendengar dan kami patuh). Imam Syafi’i berkata, “perlakukanlah apa adanya dalil2 yg menerangkan sifat Allah Ta’ala, jangan dita’wilkan lagi.” (Manhaj Aqidah Imam Syafi’i, karya Dr. Muhammad Aqil, edisi terjemahan bhs Indonesia, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i).

    Akhi jangan mengandai2 Nabi masih hidup untuk bertanya pada beliau dimana Allah sebelum langit diciptakan. Andaikan Imam Syafi’i saja yg masih hidup pada masa skrg dan akhi bertanya padanya mengenai hal itu, akhi bisa ditendang beliau karena dianggap zindiq, karena apa? karena bertanya mengenai Allah Ta’ala yg diluar batas kewajaran dan tidak adanya nash yg menerangkan, adalah godaan syaiton. Silahkan dirujuk mengenai riwayat ini pada kitab yg saya sebutkan tadi. Maaf, halamannya saya lupa. Oleh karena itu ya saudaraku armand, berhati-hatilah dalam menggunakan logika dan akal. Manusia dikaruniai akal untuk berpikir tetapi janganlah logika berpikir kita menyebabkan kita jatuh ke jurang kebinasaan. Allahu yahdikum.

    Wassalamu’alaikum,
    (Dari yg sangat mengharapkan petunjuk dan ampunanNya) -Ibnu Zakki-

  28. Baiklah. Sy kira apa yg sy sampaikan sdh cukup dan sy jg sdh mendapat beberapa masukan dan memahami apa yg saudara2 pahami. Jika tdk berkeberatan sy undur diri. Yg perlu sy clearkan adalah bahwa sy jg meyakini bahwa utk mengenal Allah swt tdk cukup dgn akal. Karena ia adalah sekedar “pengantar/penunjuk jalan” yg pada saatnya harus terhenti.

    Dengan tulus sy ucapkan terima kasih atas tanggapan2nya. Mohon maaf apabila ada kata2 sy yg tdk berkenan. Sy berharap kita msh dapat berdiskusi di thread yg lain.

    Semoga Rahmat Allah selalu tercurah kepada kita semua.

    Salam

  29. Salam.

    Menelaah diskusi yang sangat menarik ini, saya tertarik untuk mensharingkan pendapat saya.

    1. Saya tidak melihat saudara Arman tidak mengimani ayat Allah: Arrahman alal arsy astawa, sebagaimana yang beberapa kali dituduhkan. Yang saya lihat adalah bahwa saudara Arman memiliki penafsiran yang berbeda.
    2. Saudara2 selalu mengklaim pbahwa akidah ahlul sunnah itu adalah sebagaimana pemahaman anda, dan saudara Arman memiliki pemahaman aqidah yang berbeda dengan ahlul sunnah. Sekali lagi saudara2 tidak bisa membedakan tafsir dengan text. Saudara Arman tetap menggunakan aqidah ahlul sunnah hanya tafsir pemahamannya berbeda dengan yang anda miliki. Saya pikir kita semua harus berhati2 disini, karena kita tidak bisa memaksakan tafsir kita kepada orang lain.
    3. Pernyataan saudara tentang tidak perlu dipertanyakan lagi, dan juga pemahaman saudara tentang doktrin saya pikir tidak benar. Apalagi ketika saudara mencontohkan: kenapa kita shalat 5 kali sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan.
    Sauadaraku, anda terjebak dalam generalisasi yang menyesatkan. Saya setuju bahwa ada hal2 yang tidak selayaknya (bukan tidak boleh) dipertanyakan yaitu masalah syariat (sebagaimana shalat) karena syari’at adalah konsekuensi dari kita telah beriman.
    Sebaliknya proses beriman (Aqidah) harus lah melaui proses berfikir, bertanya dan tafakur. Sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi2 dan riwayat2 manusia suci lainnya dalam Al-Qur’an. Contoh paling populer adalah proses Nabi Ibrahim dalam menemukan Allah.
    Jika anda memahami bahwa aqidah tidak bisa ditanyakan maka atas dasar apa orang2 diluar islam harus masuk islam??. Mereka tetap dslam agamanya sebagaimana doktrin agama mereka. Menurut Islam mereka dipersalahkan dikarenakan mereka tidak berfikir dan tidak mempertanyakan (tidak menggunakan akal mereka).
    “IMAN ADALAH HASIL DARI DOKTRIN YANG DIPERTANYAKAN (DIUJI)”
    Tidak ada iman tanpa berfikir. tidak akan dikatakan beriman seseorang sebelum dia meyakini/menguji kebenaran atas apa yang diimaninya. Atau dengan kata lain apa2 yang kita yakini tanpa pengujian maka itu hanyalah sekedar dogma. Sebagaimana agama lain mengimani sesuatu yang tidak masuk akal (Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak), mereka pun dengan cara pandang yang sama dilarang untuk mempertanyakannya, sehingga mereka tidak pernah tahu bahwa aqidah mereka salah.

    Wassalam

  30. 1. Yang dipermasalahkan adalah mengimani bahwa Allah di atas Arsy atau tidak? Orang yang menafsirkan istawa dengan istaula (menguasai), otomatis tidak mengimani Allah di atas Arsy. Padahal Rasulullah, para sahabat dan semua ulama ahlus sunnah mengimani Allah di atas Arsy.

    2. Agar ilmiah, orang yang mengklaim adanya perbedaan diantara ulama ahlus sunnah tentang tafsir istawa, mohon menunjukkan referensinya. Maaf, masalah tafsir Qur’an, tentu kita merujuk pada ulama, bukan penafsiran pribadi.

    3. Belajar agama yang benar tentu butuh akal yang baik. Dan tidak ada ajaran Islam yang tidak masuk akal. Namun pada beberapa hal, akal tidak diberi ambil bagian. Salah satunya dalam hal Dzat dan kaifiyah apa yang dilakukan Allah Ta’ala. Karena tidak ada informasi mengenai hal itu yang berupa dalil apalagi hal yang inderawi. Oleh karena itu cukup bagi kita mengimani saja, karena demikianlah yang ada di Al Qur’an Al Karim dan hadits-hadits Nabi.

    Berbeda dengan hal alasan mengapa mesti masuk Islam, mengapa sesembahan yang berhak disembah hanya Allah, banyak sekali informasi yang bisa diterima akal, baik dari dalil ataupun tanda-tanda inderawi.

    Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam pun tidak pernah mempertanyakan kaifiyah Dzat Allah dan hal-hal yang sifatnya ghaib.

  31. Menarik memperhatikan komentar sdr truthseeker08 pada poin 2.
    2. Perlu saya garisbawahi bahwa pemahaman Allah beristiwa di atas arsyNya adalah aqidah ahlussunnah yg senantiasa dipegang teguh oleh salafussholih dan para ulama yg memegang teguh aqidah mereka, termasuk imam 4 mazhab. Adapun sdr Armand memaknai istiwa dengan istawla (menguasai) inilah kekeliruannya. Tafsiran ini tidak diketahui darimana asalnya bahkan bathil dan bukan termasuk penafsiran ahlussunnah. Afwan, saya sudah membaca kitab aqidah ath-thahawiyah (Abu Ja’far Ath-Thahawiy), aqidah wasithiyah (Ibnu Taimiyah), kitab at-tauhid (Muhammad bin Abdul Wahhab), ushul as-sunnah (Imam Ahmad), disemua kitab itu disebutkan dasar2 aqidah ahlussunnah mengimani Allah Ta’ala beristiwa diatas arsyNya tanpa ta’wil, tathrif dan tamyiz, bahkan Imam Syafi’i melarang keras kita menta’wili nash2 yg menerangkan tentang Allah (Manhaj aqidah Imam Asy-Syafi’i). Jadi, ini adalah aqidah yg diwariskan secara turun temurun dari salaf kita yg wajib kita ikuti dan kita imani. Dan pernyataan sdr truthseeker : “Saudara Arman tetap menggunakan aqidah ahlul sunnah hanya tafsir pemahamannya berbeda dengan yang anda miliki. Saya pikir kita semua harus berhati2 disini, karena kita tidak bisa memaksakan tafsir kita kepada orang lain”, afwan akhi, bagaimana pendapat akhi bila kita mengetahui ada saudara kita yg terjatuh pada kesalahan? Apakah akhi akan mendiamkan saja? Tentu tidak bukan? Apalagi ini adalah permasalahan aqidah yg dapat mempengaruhi tauhid seseorg bila tidak diluruskan. Adapun saya tidak setuju bila dikatakan memaksakan tafsir pada org lain karena apa yg saya baca dr komen ustadz Yulian, ibnu Zakki dan abine athifah hanyalah meluruskan akan kekeliruan sdr Armand yg dari semula ngotot mempermasalahkan makna istiwa dengan bersemayam tetapi beliau kemudian memaknai istiwa dengan menguasai, ini jauh lbh batil lagi karena sudah mentakwil tdk pd tmptnya. Telah banyak dalil dari Quran dan hadits tentang istiwa Allah spt telah disebutkan di artikel dan dari komen2 diatas. Lalu dari manakah asalnya makna istiwa adalah istawla? Bisakah akhi sebutkan referensinya agar adil?

    3. Kalopun ini adalah doktrin, tentunya wajib kita terima karena ini berasal dari Allah Ta’ala. Kita lihat sejarah para Nabi, Nabi Ibrahim alaihissalam memulai perjalanannya mencari Tuhan (lihat QS 6 : 74-80), tetapi apakah yg beliau lakukan setelah beliau mengimani Allah Ta’ala? Lihat QS 6 : 79, apakah beliau menggunakan akalnya lagi untuk mempertanyakan bagaimana DzatNya?? Tidak sama sekali ya akhi. Lalu riwayat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menyendiri di gua hira sebelum beliau diutus, beliaupun bertafakur, berpikir sendirian, dan setelah beliau diutus Allah untuk menjadi Rasul, adakah beliau menggunakan akalnya untuk mempertanyakan lebih lanjut bagaimana Dzat Allah Ta’ala? Padahal klo boleh, beliaulah manusia yg paling berhak bertanya pada Allah tentang bagaimana DzatNya, tetapi beliau Shallallahu alaihi wassalam tidak melakukannya, karena apa? karena ini termasuk pada perkara ghaib yg manusia tidak diberi petunjuk tentangnya (QS 6 : 59). Beliau Shallallahu alaihi wassalam mengetahui bahwa perkara ghaib bukan dalam ruang lingkup yg harus diketahui manusia. Dari teladan para Rasul ini bisa kita petik ibroh ya saudaraku, bahwa untuk masalah2 ghaib akal haruslah kita batasi, dengan apa? dengan Al Quran dan hadits, agar akal kita sejalan dengan iman dan tidak melenceng jauh dari koridor2 aqidah dan kalopun Qur’an dan hadits itu adalah doktrin maka kita wajib patuh karena doktrin itulah yg akan menjamin keselamatan kita di akhirat nanti.

    Lalu kalau saudara katakan, “IMAN ADALAH HASIL DARI DOKTRIN YANG DIPERTANYAKAN (DIUJI)”. Maaf, ini kurang tepat, didalam kitab syarah aqidah thahawiyah, syaikh Shalih bin Fauzan mengatakan Iman adalah “menerima dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan (ibadah)”. Dalil2nya banyak, antara lain :
    1. QS Al-Anfal : 2-4
    2. Al Mudatssir : 31
    3. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam : dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, 1/63)
    4. Riwayat Abu Sa’id Al-Khudry, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, 1/69).

    Lalu kalau saudara katakan, iman adalah hasil doktrin yg teruji, adakah dalilnya? saya ingin bertanya pada anda, saya mengimani Allah beristiwa di atas arsyNya berdasarkan apa yg tertulis di kitabNya, haruskah saya membuktikannya/mengujinya dulu apakah memang benar Rabb Azza wa Jalla beristiwa diatas arsy?? Jika saya tidak bisa membuktikannya dan hanya beriman lewat kitabNya, berarti saya dibilang tidak beriman dong?? Bagaimana maksud akhi?

    Inilah ya akhi, mengapa Islam disebut agama yg terang benderang, karena sudah jelas2 tertulis di Al Qur’an tentang dimana Tuhan kita, bahwa Tuhan kita adalah satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita tinggal mengimaninya kok tanpa perlu susah2 mengujinya. Untuk perkara2 ghaib, cukuplah kita katakan, “wallahu a’lam”

  32. Allah di atas arsy adalah kebenaran yang tidak bisa ditolak, sesuai dengan kekuasaan Allah (QS 20:5). Dan Allah juga dekat dengan kita, sesuai dengan kebesaran Allah yang tidak terukur kebesaranNya (QS 2:186). Kedekatan ini tidak bisa ditolak dan tidak bisa ditakwil seperti juga sifat2 dan asma Allah yang lain.
    Termasuk dosa besar berkata tentang Allah tanpa petunjuk dari Quran dan Hadits

  33. he..he saudara armand sudah mulai paham lewat tulisan2 yang bermanfaat dan berdasar akidah ahlusunnah, malah truthseeker08 membela tanpa dalil,dan menurut logikanya,padahal bagi saya tulisan diatas saaaaaannnngaaaat jelas dan mudah dipahami, truthseeker08 kayaknya guru PMp ya..?? Sori just kidding, jng marah ya..? belajar terus utk cr kebenaran..

  34. ustadz masalah kyakinan saya.seakan2 kyakinan saya ini tidak ada.apakah kyakinan itu di samakan dengan takdir Allah antara yg benar dan buruk.mohon penjelasannya????.

  35. ustadz mau nanya g mana nech cara untk agar keyakinan kita ini slalu.mengingat allah,soalx keyakinan ku masih mamang????

  36. Duh… jadi tambah bingung nih…
    Kalo berada di atas langit berarti jauh sekali dong ya….
    Tp kenapa Allah berfirman kalau Dia itu dekat, lebih dekat dari urat leher ???

    Gimana tuh pak ustadz ?

  37. #Syarif / Syarif Hidayatullah
    Yakin atau tidak yakin, Iman atau tidak iman, itu pilihan hamba dan perbuatan hamba. Sebagaimana penjelasan Imam Abu Hanifah:
    “Iman dan kufur adalah perbuatan hamba. Namun Allah Ta’ala MENGETAHUI (bukan memaksa) siapa saja yang kafir. Dan jika hamba yang kafir tersebut lalu beriman, Allah mencintainya dan sesungguhnya Allah sudah mengetahuinya (bahwa ia akan beriman) tanpa ada perubahan ilmu pada sisi Allah (dari tidak mengetahui menjadi mengetahui)” (Al Fiqhu Al Akbar, hal. 302)”

    Agar iman anda tidak mamang, tidak hambar, tidak menggantung, berusahalah memupuknya dengan cara: mulai serius dan bersungguh-sungguh belajar agama terutama aqidah yang benar.

  38. Mohon maaf, saya membaca sebagian besar tulisan dan komentar2 di atas, namun sepertinya saya lebih condong ke saudara Armand ya…..
    Saya orang awam yang sedang berjalan ke satu tujuan yang membutuhkan semua petunjuk….dan biar saya yang memfilter dengan bantuan Tuhan semesta alam.

    Sayang sekali mas Armand tidak meninggalkan jejak kecuali namanya.
    Salam kenal buat mas Armand.

  39. Semoga mas adebay diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala dalam mencari kebenaran yg hakiki. Satu saran saya mas, jgnlah akal anda menjadikan anda menolak dalil. Akal harus tunduk pada dalil karena dengan cara itulah kita bisa selamat dalam mengenal Allah Ta’ala.

    Selamat memperdalam Quran dan hadits. Semoga Allah merahmati anda dan keluarga.

  40. #Armand
    Allahu yahdika..

    Saudaraku, apakah anda lupa mendengar dan melihat bukan hanya sifat yang dimiliki manusia, namun juga binatang. Bahkan jin, makhluk yang lebih rendah dari manusia juga bisa bicara. Jadi pernyataan anda tidak tepat.

    Saudaraku, setiap makhluk minimal punya satu sifat, yaitu ADA. Manusia ada, binatang ada, makhluk ada. Apakah anda mengatakan Allah tidak memiliki sifat ADA? Karena sifat tersebut juga dimiliki oleh makhluk?

    Renungkan perkataan Imam Ibnu Khuzaimah berikut:
    وهل هاهنا أيها العقلاء تشبيه وجه ربنا جل ثناؤه الذي هو كما وصفنا وبينا صفته من الكتاب والسنة بتشبيه وجوه بني آدم التي ذكرناها ووصفناها‏؟‏‏!‏ ولو كان تشبيها من علمائنا لكان كل قائل إن لبني آدم وجها وللخنازير والقردة والسباع والحمير والبغال والحيات والعقارب وجوها قد شبه وجوه بني آدم بوجه الخنازير والقردة والكلاب وغيرها مما ذكرت‏!‏‏!‏ ولست أحسب أن أعقل الجهمية المعطلة عند نفسه لو قال له أكرم الناس عليه وجهك يشبه وجه الخنزير والقرد والكلب والحمار والبغل ونحو هذا إلا غضب‏
    (Semoga anda paham bhs. arab)

    Dengan segala kerendahan hati, sebelum anda berpikir untuk meneruskan diskusi ini, mohon pelajari kaidah-kaidah memahami nama dan sifat Allah pada link berikut:
    http://muslim.or.id/aqidah/kaidah-kaidah-penting-untuk-memahami-nama-dan-sifat-allah-1.html
    http://muslim.or.id/aqidah/kaidah-kaidah-penting-untuk-memahami-nama-dan-sifat-allah-2.html
    http://muslim.or.id/aqidah/kaidah-kaidah-penting-untuk-memahami-nama-dan-sifat-allah-3.html
    http://muslim.or.id/aqidah/kaidah-kaidah-penting-untuk-memahami-nama-dan-sifat-allah-4.html

  41. @Ustadz Yulian

    Tidak tepatnya dimana mas?
    Benar bahwa binatang mampu mendengar dan melihat. Namun jelas juga bagi kita bahwa derajat sifat itu berbeda dgn derajat pada manusia dimana meskipun sama-sama menggunakan mata utk melihat dan telinga utk mendengar, pada manusia mendengar dan melihat jg diiringi dgn kemampuan merekam dan menilai yg kemuliaan ini tdk dimiliki oleh binatang. Makanya jika saja kita mampu memahami perkataan bintang, mereka akan mengatakan bahwa melihat dan mendengarnya binatang (mereka) berbeda dgn mendengar dan melihatnya manusia. Sifat2 ini pulalah yg bisa kita nisbatkan kepada Allah swt, yakni perkataan kita: “melihatnya dan mendengarnya Allah swt berbeda dgn kita manusia” dimana kita msh membutuhkan mata utk melihat dgn penghilatan yg sangat terbatas dan telinga utk mendengar dgn pendengaran yg sangat terbatas. Sedangkan Allah swt tdk butuh alat-alat itu semua serta dgn penglihatan dan pendengaran yg tak terbatas.

    Sebaliknya hal penisbatan ini berbeda dgn sifat2 prilaku binatang yg memiliki kemiripan dgn manusia spt makan, tidur, berjalan, duduk, bersemayam dll yg menunjukkan kelemahan dan ketergantungan.
    Bukankah makan karena ketergantungan kita utk bertahan hidup? Perlukah ini bagi Allah? Tentu tidak.
    Bukankah tidur karena ketergantungan kita untuk beristirahat dan menghilangkan kelelahan? Perlukah ini bagi Allah? Tentu tidak.
    Bukankah berjalan karena ketergantungan kita utk mencapai sesuatu? Perlukah ini bagi Allah? Tentu tidak.

    Bersemayam, yg hingga kini tdk pernah mau utk dimaknai tetap saja adalah prilaku manusiawi jika ia merupakan suatu perbuatan/pekerjaan fisik yg manusia jg pernah/bisa melakukannya.

    Saudara telah mengatakan bahwa bersemayamnya Allah swt berbeda dgn bersemayamnya manusia. Itu artinya manusia jg bisa melakukan prilaku bersemayam. Benar demikian? Coba saudara terangkan ke sy, bagaimana caranya bersemayamnya manusia dan apa perlunya dan apa tujuannya bersemayam bagi manusia. Kenapa manusia perlu bersemayam? Pertanyaan2 ini sy ajukan utk menunjukkan kepada saudara bahwa perlukah bagi Allah bersemayam? Apakah bersemayam ini senada dgn sifat2 Maha Melihat dan Maha Mendengar Allah swt?

    Saudara mengatakan: “Saudaraku, setiap makhluk minimal punya satu sifat, yaitu ADA. Manusia ada, binatang ada, makhluk ada. Apakah anda mengatakan Allah tidak memiliki sifat ADA? Karena sifat tersebut juga dimiliki oleh makhluk?”

    Saudaraku Yulian, ADAnya Allah swt jelas berbeda dgn ADAnya makhluk. Sifat ADA bagi makhluk adalah Mungkin. Sementara sifat ADA bagi Allah adalah Wajib.
    Mungkin bagi makhluk karena ia bisa diciptakan dan bisa jg tidak diciptakan. Kita manusia ini ada karena diciptakan. Mungkin jg tidak ada bila tdk diciptakan. Wajib bagi Allah swt sifat ADA, karena jika tidak maka Ia bisa tidak ada. Mustahil jika Allah swt mungkin tidak ada.

    Mengenai bacaan Arab oleh Imam Ibnu Khuzaimah yg mas sodorkan, maaf sy lagi belajar jadi belum bisa bacanya. Insya Allah dalam waktu dekat ini.

    Ada pun link mengenai kaidah sifat2 Allah swt yg mas tawarkan ke sy, sdh sy baca namun menurut sy msh menyisakan banyak kejanggalan mengenainya. Bukan di forum ini kiranya pertanyaan yg perlu sy ajukan.

    Demikian dari saya, semoga Allah swt memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

    Salam

  42. @akhi armand…akhi sepertinya belajar ilmu ma’rifatnya tassawuf ya? CMIIW.

    Saya ingin tanya bagian yg ini, “Begitu pula manusia thd Allah. Jika sdh mencapai tingkat tertinggi kemakrifatan, maka sifat2 mulia Allah swt bisa jadi dimilikinya”. Bisa tolong sebutkan dalil dari al Quran dan hadits tentang ucapan akhi diatas? Maaf akhi, dari ucapan akhi ini secara tidak langsung saya interpretasikan akhi jg telah menurunkan sifat2 Allah yg Maha Segalanya menjadi sama spt dengan manusia, bahkan bisa dimiliki oleh manusia dengan menekuni ilmu ma’rifat. Tolong penjelasannya ya akhi agar tidak ada salah paham…semoga firasat saya salah.

    Salam

  43. #Armand

    Maaf, setelah mengetahui anda belum bisa memahami bahasa arab, saya tidak berminat untuk melanjutkan diskusi ini. Karena bagaimana mungkin saya bisa mengajak anda berdiskusi ilmiah jika ternyata anda belum bisa merujuk langsung pada kitab-kitab para ulama ahlussunnah.

    Saudaraku, diskusi yang hanya bermodal akal dan logika semata hanya akan menimbulkan keras hati, ngeyel, pertikaian dan kebencian di hati. Hendaknya kita berbicara dan berdiskusi dengan ilmu.

    Semoga Allah memberikan semangat kepada anda untuk mempelajai agama ini lebih mendalam.

  44. Sekali lagi keberadaan Allah akan terus menjadi bahan perdebatan yang mungkin nggak akan berakhir. Semua punya dalil, semua punya argumentasi..yang akhirnya tetap tidak ada kesimpulan yang pasti..terus kita harus bagaimana dalam bersikap, kalau tidak ada ketentuan yang pasti? Apakah kalau salah pemahaman bisa jadi bahan siksa neraka? Padahal hal itu di luar jangkauan akal..

  45. #Awe
    Anda merasa tidak ada kesimpulan yang pasti karena anda belum faham. Mengenai hal ini, karena didasari oleh Qur’an dan Sunnah serta pernyataan para ulama, maka ini ada keyakinan yang pasti.

    Salah memahami hal ini akibatnya bisa fatal, yaitu berkeyakinan tentang Allah yang tidak selayaknya. Seperti berkeyakinan bahwa Allah dimana-mana atau berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat. Ini sangat fatal yang bisa menyebabkan pelakunya terjerumus dalam kesyirikan dan kebid’ahan.

    Karena hal ini di luar jangkauan, akal, maka sikap kita adalah pasrah pada dalil yang ada.

    Baca juga artikel berikut:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2955-menyanggah-abusalafy-1-keyakinan-yang-benar-mengenai-sifat-allah.html

  46. #Awe
    Anda merasa tidak ada kesimpulan yang pasti karena anda belum faham. Mengenai hal ini, karena didasari oleh Qur’an dan Sunnah serta pernyataan para ulama, maka ini ada keyakinan yang pasti.

    Salah memahami hal ini akibatnya bisa fatal, yaitu berkeyakinan tentang Allah yang tidak selayaknya. Seperti berkeyakinan bahwa Allah dimana-mana atau berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat. Ini sangat fatal yang bisa menyebabkan pelakunya terjerumus dalam kesyirikan dan kebid’ahan.

    Karena hal ini di luar jangkauan akal, maka sikap kita adalah pasrah pada dalil yang ada.

    Baca juga artikel berikut:
    http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2955-menyanggah-abusalafy-1-keyakinan-yang-benar-mengenai-sifat-allah.html

  47. Saya sudah baca artikel dari rumaysho, memang kita harus memahami suatu ayat mengenai sifat Allah sesuai dengan bunyi zhohirnya, tidak boleh menakwil, sehingga tidak menyimpang dan menyimpulkan sendiri keberadaan dan sifat Allah. Jazakallah khairan..

  48. Seru sekali ulasan dari saudara2 kita ini ya.

    Allahu Akbar..

    Allah bersama orang mukmin yang berhati lunak dan tenang. Dan kita jangan malu untuk bertanya kepada yang lebih mengerti. Dan menerima pendapat.
    Semoga bertambah iman kita semua.. amin

    Salam

  49. panca indra kita,akal& pikiran kita memang diciptakan oleh ALLAH,Tidak dapat menjangkau keberadaanNYA kewajiban kita adalah mengimani,serta mematuhi apa yng telah ALLAH wahyukan kepada ROSULNYA,Yng menjadi masalah sudahkah kita mencontoh,SEMUA apa yng diajarkan RUSULULLOH,Dan SEMUA yg dicontohkannNYA…SEMUANYA..?

  50. Bagi seorang muslim yang tidak meyakini bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy, ana tidak tahu apakah orang tersebut KAFIR (pelakunya keluar dari Islam) ataukah hanya sekedar KUFRUN DUNNA KUFRIN (kekafiran yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam), wallaahu a’lam.

  51. #armand

    Pertanyaan anda (1)-(5) sebenarnya sudah dijawab pada komentar2 sebelumnya. Kenapa anda menanyakan lagi, tentunya karena anda tidak paham. Ada orang yang kalau pertanyaannya sudah dijawab ia paham, lalu ada pula yang belum paham. Masalahnya, anda ini tidak tahu bahwa pertanyaan anda sudah dijawab. Kalau sudah begini, yang diperlukan hanya waktu agar anda bisa sadar bahwa pertanyaan anda sudah dijawab.

  52. Bismillah,
    jazakumullahu ahsanal jaza ustadz atas ilmunya…
    Semoga Allah menunjuki kita jalan yg lurus dan menetapkan kita di atasny hingga akhir, ^_^ …

  53. Alhamdulillah . . .

    forum diskusinya bagus sekali ust,ana sudah baca semua,ada bagian2 ilmu baru yang ana baru dapat alhamdulilah ,. . .memang kalo diskusinya dengan yg sama2 faham bahasa arab dgn yg tidak sulit,apalagi dengan orang awam yg belum mengetahui islam sama sekali sebelumnya ,tpi semua itu akan berjalan dengan lancar jika ust narasumbernya memang betul2 faham , ust kalo boleh nanya lagie ?seandainya kita blom tahu banyak ttg ulasan2 seperti diatas kemudian ada yang bertanya itu orang nonmuslim yg gak tahu islam sma sekali harus jawab bagaimana? takutnya kalau salah menjelaskan malah murtad (na’udhubillah) . .syukron ustadz !!! oh iya kalo anak kecil yg tanya gmn??hehe . .

    (dri akh abdul aziz yg masih kurang ilmu)

  54. #Akh Abdul Aziz
    Itu mengapa pelajaran aqidah seharusnya menjadi yang pertama dan utama. Sehingga aqidah yang benar tentang Allah sudah tertanam kuat sejak kecil, maka jika anak kecil bertanya pun bisa menjawab tentunya. Sungguh memprihatinkan banyak orang yang mengaku berislam namun melalaikan pelajaran aqidah.

    Bagi orang yang tidak tahu tidak perlu menjelaskan rinciannya, cukup katakan ‘saya tidak tahu’. Jika yang bertanya orang non-muslim, katakan ‘tidak tahu’ lalu tutup pintu perdebatan jika memang anda belum tahu.

  55. #r40
    Yang benar, Allah Ta’ala ber-istiwa di atas ‘Arsy namun tidak bertempat dan tidak berarah sebagaimana makhluk. Karena istiwa Allah berbeda dengan istiwa makhluk, sebagaimana Allah Maha Melihatt, melihatnya Allah berbeda dengan melihatnya makhluk. Tolong baca penjelasan2 saya sebelumnya.

  56. Teruntuk saudara Armand:

    Dalil Hadits:
    Beliau bertanya kepada budak perempuan itu, “Dimana Allah?”, Jawab budak tersebut, “Diatas langit.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah aku?” Jawab budak tersebut, “Engkau adalah Rasulullah.” Beliau bersabda, “Merdekakan dia! Karena sesungguhnya dia seorang mu’minah (perempuan yang beriman).” (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, dll).

    Saudara Armand berkata:
    “Ini hanya masalah logika sederhana yg dapat dijawab dgn sederhana pula, yg tdk mampu dijawab karena terjebak dgn teori yg menganggap bahwa Allah swt berada di langit. Teori yg aneh dan menyeleweng”..

    Sulit dibayangkan gimana kalo waktu itu ada mas Armand disana, apakah dia juga akan mempertanyakannya dengan “logika sederhana” nya, dan menganggap ini adalah teori yang aneh dan menyeleweng?
    Hendaklah kita takut akan ancaman Allah:

    “Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?” (QS. Al-Mulk:16)

    “Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS. Al-Mulk:17)

    “ Dan sungguh, orang-orang yang sebelum merekapun telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka betapa hebatnya kemurkaan-Ku!” (QS. Al-Mulk :18)

    Semoga Allah memberi kita taufik kepada kebenaran dan melimpahkan rahmat-Nya. Karena:

    “Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)

    Subhaanakallahumma wabihamdika, asyhaduallaailaaha illa anta wa astaghfiruka wa atuubu ilaika.

    (Abu ‘Abdillah, semoga Allah mengampuni dan mema’afkan kesalahan-kesalahannya)

Comments are closed.