CINTA AHLUL BAIT : Penjelasan Hakikat Syiah

Buletin At-Tauhid edisi 13 Tahun XI

Pembaca yang dirahmati Allah Ta’ala, salah satu kewajiban kaum muslimin adalah mencintai ahlul bait Nabi shallallahu alaihi wasallam. Namun, hal tersebut harus sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Tidak bersikap berlebihan atau menyelisihi syari’at Islam yang terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dalam buletin kali ini, akan kami bahas sedikit mengenai cinta yang benar terhadap ahlul bait.

PENGERTIAN AHLUL BAIT

Secara bahasa, Ahlul Bait artinya keluarga, yakni keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam. Menurut istilah syar’i, yang dimaksud Ahlul Bait adalah kerabat Nabi yang tidak boleh menerima sedekah (zakat), yaitu keluarga Ali bin Abi Thalib, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, dan keluarga Abbas bin Abdil Mutthalib. Kesemuanya dari Bani Hasyim. Termasuk dalam Ahlul Bait adalah para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dalilnya adalah sabda Nabi:

“Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam : ‘Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?’. Zaid bin Arqam menjawab : ‘Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau’. Hushain berkata : ‘Siapakah mereka itu ?’. Zaid menjawab : ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas’. Hushain berkata : ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?’. Zaid menjawab : ‘Ya’. (HR. Muslim dari Zaid bin Arqam)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan: “Kemudian, sesuatu yang tidak diragukan lagi oleh siapapun yang mentadabburi Al-Qur’an adalah bahwa istri-istri Nabi termasuk dalam firman Allah (yang artinya):

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al-Ahzab : 33)

Karena konteks pembicaraan ayat tersebut adalah istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karena itu, Allah berfirman setelahnya (yang artinya) :

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabi). (QS Al-Ahzab : 34)

Maksudnya, ingatlah nikmat ini yang Allah Ta’ala telah mengkhususkan kalian (istri-istri Nabi) dengan nikmat tersebut di antara sekalian manusia, yaitu wahyu turun di rumah-rumah kalian, tidak di rumah orang-orang lain. Dan Aisyah, Shiddiqah binti ash-Shiddiq adalah orang yang paling beruntung dengan nikmat ini serta paling dikhususkan dengan rahmat yang melimpah ini. Karena, tidak pernah turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wahyu ketika beliau sedang berada di ranjang istrinya selain Aisyah. Hal ini dinyatakan sendiri oleh beliau… Akan tetapi, meskipun istri-istri Nabi termasuk Ahlul Baitnya, kerabat beliau lebih berhak akan sebutan (Ahlul Bait) ini. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Dan Ahlul Baitku lebih berhak…” Semoga Allah meridhai istri-istri beliau dan para kerabat beliau. Mereka semua adalah Ahlul Bait beliau.” (Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, 6/2840)

PEMAHAMAN SYIAH TENTANG AHLUL BAIT

Syiah membatasi makna Ahlul Bait hanyalah keluarga Ali bin Abi Thalib. Hal ini terbukti dalam buku Syiah berjudul Antologi Islam (hal 32) disebutkan, “Bagi Syiah, Ahlul Bait Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam hanya terdiri atas Fathimah Zahrah, Ali, Hasan, Husain dan sembilan orang imam keturunan Husain. Dan jika dimasukkan Nabi Muhammad di dalamnya, mereka akan menjadi 14 orang… Lebih jauh Syiah menegaskan bahwa ke-14 orang ini dilindungi Allah dari segala dosa dan karenanya layak untuk diikuti di samping Al-Qur’an. Dan hanyalah mereka yang memiliki pengetahuan yang sempurna tentang penjelasan (tasfir) ayat-ayat Al-Qur’an.”

Syiah juga menafsirkan Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 33 bahwa yang dimaksud Ahlul Bait hanyalah Fathimah, Ali, Hasan, Husain dan anak keturunannya. Hal ini jelas keliru dan menyimpang. Karena, jika kita perhatikan asbabun nuzul dan konteks ayat tersebut dengan ayat sebelum atau sesudahnya niscaya kita dapati bahwa ayat tersebut justru ditujukan untuk para istri Nabi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS Al-Ahzab : 32)

Namun demikian, ayat tersebut tidak menghalangi masuknya Ali, Fathimah, dan kedua putranya (Hasan dan Husain) radhiyallahu anhum ke dalam makna ayat tersebut. Karena mereka memang termasuk Ahlul Bait Nabi sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih diatas.

Lebih tegas lagi sabda Nabi ketika terjadi haditsul ifki (kisah pencemaran nama baik) atas Aisyah radhiyallahu anha. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhutbah di tengah-tengah para shahabat seraya bersabda:

“Wahai manusia, kenapa ada orang-orang yang menyakitiku terhadap keluargaku (ahlul bait-ku) serta berkata tentang mereka tanpa kebenaran. Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang mereka (istri-istri Nabi) kecuali kebaikan.” (HR Ibnu Ishaq, dishahihkan al-Albani dalam Takhrij Fiqh as-Sirah)

Dalam hadits diatas, jelas sekali menyebut Aisyah dengan “ahlul bait-ku” karena hadits tersebut berkenaan dengan pencemaran nama baik Aisyah radhiyallahu anha.

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Orang Syiah berkata, kata ganti dalam ayat diatas (QS Al-Ahzab : 33) adalah untuk jamak laki-laki, yaitu: “… LI YUDZHIBA ‘ANKUM AR-RIJZA…” (artinya : untuk menghilangkan kotoran dari kalian). Juga ayat “…WA YUTHAHHIRAKUM TATHIIRA” (artinya : dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya). Seandainya yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah istri-istri Nabi, tentulah Allah berfirman: “… LI YUDZHIBA ‘ANKUNNA AR-RIJZA…” Juga ayat “… WA YUTHAHHIRAKUNNA TATHIIRA”.

Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi membantah syubhat tersebut dengan mengatakan, “Itu bisa dijawab dari dua sisi. Pertama, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa ayat tersebut mencakup para istri Nabi dan juga Ali, Hasan, Husain, serta Fathimah. Para ahli bahasa Arab telah sepakat untuk mengedepankan jenis laki-laki (mudzakkar) dibanding jenis perempuan (muannats) tatkala mereka disebutkan secara bersama. Hal ini tampak sangat jelas dalam banyak ayat.

Kedua, di antara uslub (gaya bahasa) Arab yang Al-Qur’an turun dengan bahasa itu ialah istri seseorang juga disebut dengan istilah ahlu (keluarga). Oleh karena itu, ditinjau dari sisi lafalnya ia diseru dengan seruan untuk kaum lelaki (dalam bentuk jamak). Seperti dalam firman Allah tentang Nabi Musa alaihis salam (yang menyeru istrinya): FA QAALA LI AHLIHI UMKUTSUU (artinya : “Lalu berkatalah ia (Musa) kepada keluarganya, Tinggallah kalian (disini).” [QS Thaha : 10]

Juga firman-Nya : IDZ QAALA MUSA LI AHLIHI INNI AANASTU NAARAN SA-AATIIKUM (artinya “Ingatlah ketika Musa berkata kepada keluarganya, Sesungguhnya aku melihat api. Aku akan membawa untuk kalian.”) [QS An-Naml : 7]

Juga firman-Nya : LA’ALLI AATIIKUM (artinya “Mudah-mudahan aku dapat membawa untuk kalian”) [QS Thaha : 10]

Padahal yang diseru oleh Nabi Musa alaihis salam tidak lain adalah istrinya, sebagaimana yang dikatakan para ahli tafsir. (Adhwaa’ al-Bayan, 6/379)

PELECEHAN SYIAH KEPADA AHLUL BAIT

Al-Majlisi meriwayatkan dalam kitab Biharul Anwar, sesungguhnya Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) berkata, “Saya bepergian bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sementara tidak ada pelayan bagi beliau selain diriku. Beliau mempunyai selimut yang tidaklah berselimut dengannya kecuali saya, Rasulullah dan Aisyah. Beliau tidur diantara saya dan Aisyah(!) Sementara tidak ada diatas kami bertiga selimut yang lain. Jika Nabi bangun untuk shalat malam, beliau menyingkapkan selimut itu dengan tangannya dari bagian tengah, yaitu antara saya dan Aisyah hingga selimut tersebut menyentuh alas tidur yang ada di bawah kami.”

Riwayat diatas sangat merendahkan martabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sekaligus. Sebab, riwayat tersebut menyifati Nabi sebagai seorang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membiarkan istrinya tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki yang bukan mahramnya?! Kemudian, bagaimana mungkin Ali ridha dengan hal tersebut? Hal ini jelas merupakan pelecehan dan celaan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.

PENUTUP

Syiah di Indonesia menggunakan istilah “Ahlul Bait” dalam mengungkap jatidiri mereka agar dianggap sebagai salah satu madzhab dalam Islam. Sebut saja misalnya dua ormas Syiah yaitu IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan ABI (Ahlul Bait Indonesia). Padahal Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dalam buku Himpunan Fatwa MUI telah memberi peringatan sejak tahun 1984 bahwa ada perbedaan pokok (ushul) antara faham Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan faham Syiah. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia diminta waspada terhadap adanya ajaran yang berlandaskan pada faham syiah tersebut.

Sudah seharusnyalah kita tetap istiqomah mengungkapkan berbagai kesesatan Syiah agar ummat sadar akan bahaya makar Syiah yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena apabila terus kita biarkan, tidak mustahil suatu saat kelak keadaan yang menimpa Ahlus Sunnah di Iran, Irak, Libanon, Suriah, dan Yaman, juga dapat terjadi di bumi pertiwi yang kita cintai ini. Wallahul musta’an wa ilahit tuklan.

Penulis : Ustadz Irfan Helmi, S.S (anggota Komisi Fatwa MUI Pusat)

Murojaah : Ustadz Abu Salman, BIS

Pertanyaan :

Apakah definisi Ahlul bait nabi menurut istilah syar’i?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *