2306
—
وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ
“Dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)
- Kebahagiaan sejati seorang mukmin bukan pada kemewahan harta, melainkan pada tiga perangai utama: bersyukur saat mendapat nikmat, bersabar ketika ditimpa cobaan, dan beristighfar kala berdosa.
- Bersyukur berarti mengakui nikmat dalam hati, memuji Allah, dan menggunakannya untuk ketaatan, serta menjauhi kesombongan seperti Qarun yang berujung pada kebinasaan.
- Cobaan hidup adalah kepastian untuk menguji amal, sehingga sabar wajib dilakukan dengan menahan lisan dan anggota badan dari kemarahan terhadap takdir Allah.
- Manusia tidak luput dari kesalahan, maka wajib segera bertobat secara ikhlas dan penuh penyesalan tanpa menunda-nunda sebelum maut datang menjemput.
- Jika Rasulullah yang dijamin masuk surga tetap bertobat seratus kali sehari, kita harus lebih mawas diri agar tidak tenggelam dalam kelalaian.
Kebahagiaan…, sering sekali kita mendengarnya. Bahkan hampir tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak ingin mendapatkannya. Namun, apabila kita menanyakan kepada mereka apakah yang mereka maksud dengan kebahagiaan, niscaya ribuan jawaban akan terlontar dari mulut mereka. Sekelompok orang akan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah melimpahnya harta dan berbagai kesenangan dunia. Sekelompok orang lain akan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah kebebasan untuk berkreasi dan keberhasilan dalam menyingkap rahasia-rahasia ilmu pengetahuan. Ada lagi yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah ketenangan hati dan kebebasan dari rasa takut serta kesedihan.
Saudaraku, apabila kita cermati sekali lagi sekian banyak jawaban mereka maka tidak ada jawaban yang bisa melegakan hati orang yang beriman kecuali firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta untaian nasihat para ulama. Simaklah sebuah doa yang indah dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah bagi setiap muslim yang membaca kitabnya Al-Qawa’idul Arba’. Beliau berkata, “Aku memohon kepada Allah yang Maha Pemurah, Rabb pemilik Arsy Yang Maha Besar, semoga Allah menjagamu di dunia dan di akhirat dan menjadikanmu mendapatkan keberkahan di mana pun kamu berada, dan menjadikanmu bersyukur jika diberi nikmat, bersabar jika ditimpa cobaan dan beristighfar jika terjerumus dalam dosa. Karena sesungguhnya tiga hal itulah ciri utama kebahagiaan.”
Syukur Tatkala Mendapatkan Nikmat
Hakikat syukur adalah mengakui di dalam hati bahwa nikmat yang diperolehnya berasal dari Allah, kemudian menampakkan rasa syukurnya itu dengan memuji Allah serta menggunakan nikmat yang diberikan itu dalam rangka melakukan ketaatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bersyukur di dalam firman-Nya,
وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ
“Dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)
Di dalam ayat lain, Allah telah menjanjikan kepada orang yang bersyukur bahwa dia akan mendapatkan tambahan nikmat.
Allah Ta’ala berfirman,
لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sungguh jika kalian bersyukur niscaya Aku benar-benar akan menambahkan (nikmat) kepada kalian, dan apabila kalian justru ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku amatlah pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7)
Walaupun demikian, ternyata hanya sebagian kecil hamba Allah yang pandai bersyukur. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ
“Dan amat sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (Q.S. Saba: 13)
Padahal, tidakkah kita sadar bahwa sekian banyak nikmat yang ada pada diri kita ini semuanya berasal dari Allah saja.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِ
“Dan nikmat apa pun yang ada pada diri kalian, maka itu semua berasal dari Allah.” (Q.S. An-Nahl: 53)
Apabila kita ingin menghitung seluruh nikmat itu, pasti tidak ada seorang manusia pun yang sanggup menghitungnya. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah Ta’ala,
وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآ
“Dan jika kalian berusaha menghitung nikmat Allah, maka kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (Q.S. Ibrahim: 34)
Nah, lalu dengan alasan apakah kita menyombongkan diri atau bahkan mengingkari sekian banyak nikmat ini? Tidakkah kita ingat bagaimana buah dari kecongkakan Qarun yang berani berkata, “Sesungguhnya ini semua aku dapatkan hanya berkat ilmu yang aku punyai.” Maka apakah yang diperolehnya? Sebuah siksa yang sangat mengerikan. Semua harta yang dibangga-banggakannya dibenamkan ke dalam perut bumi oleh Allah bersama tubuhnya. Duhai, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?!!
Bersabar Ketika Mendapatkan Cobaan
Cobaan adalah satu hal yang pasti dialami setiap insan. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur’an,
ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلًا
“Zat yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” (Q.S. Al-Mulk: 2)
Dalam ayat lain Allah menyatakan,
وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa lapar serta ketakutan dan kekurangan harta, maka berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar…” (Q.S. Al-Baqarah: 155)
Sabar tatkala mendapatkan cobaan artinya menahan diri untuk tidak menyimpan kemarahan di dalam hati kepada keputusan Allah, menahan diri dari mengucapkan kata-kata laknat atau meratap atau caci maki, dan juga menahan anggota badan dari melakukan tindakan-tindakan yang merupakan pelampiasan kemarahan dan tidak menerima takdir, seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek kain, atau bahkan menjerit-jerit. Kenapa hal-hal itu tidak diperbolehkan? Alasannya adalah karena sikap-sikap tersebut mencerminkan ketidakpuasan terhadap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Padahal, Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Adil. Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya.
Allah berfirman,
وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Rabbmu tidak pernah menganiaya siapa pun.” (Q.S. Al-Kahfi: 49)
Pada hakikatnya, musibah yang menimpa kita adalah akibat kesalahan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian, maka itu terjadi karena ulah perbuatan tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang.” (Q.S. Asy-Syura: 30)
Maka sebenarnya, kalau kita menyadarinya, maka sudah semestinya kita bersabar dalam menghadapinya. Karena dengan kesabaran itu kita akan meraih pertolongan dari Allah. Bukankah Allah berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).
Beristigfar Ketika Terjerumus dalam Dosa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
“Semua anak Adam pasti berbuat dosa. Dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang gemar bertobat.” (Hasan, H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim)
Oleh sebab itu, orang yang terjerumus dalam perbuatan dosa wajib bertobat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memerintahkan semua orang yang beriman untuk bertobat kepada-Nya. Allah berfirman,
وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
“Dan bertobatlah kalian semua wahai orang beriman agar kalian beruntung.” (Q.S. An-Nur : 31)
Tobat itu akan diterima jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh penyesalan. Selain itu, seorang yang bertobat dari suatu dosa harus meninggalkan perbuatan dosanya, serta bertekad kuat di dalam hati untuk tidak melakukannya lagi. Apabila dosa itu menyangkut hak orang lain, maka harus mengembalikan hak orang tersebut atau minta maaf kepadanya. Dan tobat akan diterima jika dilakukan sebelum nyawa berada di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat.
Allah Ta’ala berfirman,
۞ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka, janganlah kalian berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni seluruh dosa.” (Q.S. Az-Zumar: 53)
Ayat ini berlaku bagi orang yang bertobat. Maka dosa apa pun yang pernah kita perbuat, maka kewajiban kita adalah segera bertobat darinya. Karena menunda-nunda tobat adalah dosa. Duhai, tahukah kapan kita akan mati sehingga demikian lancangnya kita menunda-nunda tobat? Sampai kapankah kelalaian ini akan kita teruskan? Apakah yang akan kita dapatkan dengan sekian banyak dosa yang pernah kita lakukan? Kesenangankah ataukah justru sebaliknya? Lalu mengapa kita menunda-nunda tobat? Apakah kita akan mengikuti rayuan iblis yang akan menyeret kita ke dalam neraka?
Wahai saudara-saudaraku, siapakah kita apabila dibandingkan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal beliau saja dalam sehari bertobat seratus kali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya sebanyak seratus kali dalam sehari.” (H.R. Muslim)
Kalau Nabi saja yang sudah dijamin masuk surga bersikap seperti ini, lantas bagaimana lagi dengan kita? Akankah kita tetap bertahan dengan dosa yang menghitamkan hati dan perlahan-lahan menyeret kita ke jurang neraka!
***
Penulis: Ustadz Ari Wahyudi, S.S. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Pemurajaah: Ustadz Abu Salman, B.I.S.
