Agar Puasa Tak Sekadar Lapar Dan Dahaga

Segala puji bagi Allah ta’ala  yang sudah menunjukkan kita kepada sebaik-baik jalan hidup berupa agama Islam. Allah tetapkan perkara-perkara yang akan membuahkan kemanfaatan bagi hamba dengan perintah-perintahNya, dan Allah melarang perkara-perkara yang hanya menghasilkan kemudhorotan untuk hambaNya. Semuanya adalah bentuk rahmat dan kasih sayangNya untuk hamba-hambaNya, agar hambaNya selamat di dunia dan akhirat.

Diantara syariat yang Allah wajibkan bagi hambaNya adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Terdapat pula beberapa puasa yang disunnahkan dikerjakan di waktu tertentu.Puasa merupakan salah satu ibadah yang agung yang Allah abadikan perintahnya dalam Al-Qur’an. Allah menjanjikan pahala yang besar dan predikat “orang yang bertaqwa” bagi siapa yang mau berpuasa. Akan tetapi pahala puasa yang diterima setiap hamba berbeda-beda. Ada yang Allah beri pahala sempurna dan tiada batas, sebaliknya banyak orang yang puasanya sia-sia dan tidak mendapatkan pahala, hanya berujung pada lapar dan haus saja.

Lantas bagaimanakah langkah mencapai tingkatan puasa yang sempurna? Hal-hal apakah yang harus kita perhatikan ketika berpuasa?

 

Sebaik-baik contoh puasa; puasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam

Untuk melihat cerminan puasa yang terbaik, hendaknya kita melihat bagaimanakah cara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam berpuasa. Beliau sudah memberi contoh bagaimanakah memulai dan mengakhiri puasa dengan baik, cara mengisi waktu selama berpuasa, hal-hal apa yang sebaiknya dikerjakan dan yang harus dijauhi, serta berbagai perkara lainnya.

Hakikat cara berpuasa bukanlah hanya menahan lapar dan haus saja, tapi bagaimana kita berpuasa sebagaimana puasanya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam, dengan benar-benar mengikuti cara berpuasa beliau baik secara jasmani maupun rohani. Ketika puasa yang kita kerjakan semakin mendekati dengan cara puasa Rasulullah, semakin besar pahala yang kita raih. Sebaliknya, ketika puasa yang kita jalani begitu jauh dari adab dan sunnah yang beliau ajarkan, semakin kecil pahala yang kita dapatkan dan bahkan dapat menjadi puasa yang sia-sia dan tidak mendatangkan pahala.

 

Yang wajib engkau perhatikan: Ikhlas kepada Allah

Diantara adab berpuasa yang wajib mengiringi puasa seorang hamba adalah ikhlas mengharap ridhoNya. Dengan puasa yang dia lakukan, dia mengharap pahala dan keridhoan Allah ta’ala, bukan untuk mendapat pujian manusia dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda mengabarkan janji Allah bagi orang yang ikhlas dan berharap pahala dengan puasanya;

Barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu”(Muttafaqun ‘alaih)

Untuk meraih ganjaran puasa yang sempurna, seorang harus senantiasa mengiringi puasanyadengan niat yang ikhlas di dalam hati. Tidak boleh seseorang meniatkan puasanya hanya sekadar formalitas, mengikuti kebiasaan teman-temannya, atau hanya untuk orientasi kesehatan semisal agar sehat, tidak menderita diabetes, dan tujuan duniawi lainnya. Oleh karena itu, semakin besar keikhlasan dan rasa harap di dalam hatinya, semakin besar ganjaran yang dia peroleh. Sebaliknya semakin rendah niat dan rasa harap di dalam hatinya, semakin kecil pula ganjaran yang dia peroleh.

 

Yang harus engkau jauhi: perbuatan yang haram dan sia-sia

Hakikat puasa bukanlah hanya menahan lapar dan haus semata. Namun hendaknya juga menjauhi perbuatan yang haram dan sia-sia. Jikalau makan dan minum yang hukum asalnya mubah saja dilarang ketika berpuasa, maka apalagi perbuatan-perbuatan haram dan sia-sia, tentu lebih besar larangannya.

Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: Jika engkau berpuasa, hendaknya telinga, mata, dan lisanmu juga berpuasa dari berbuat dusta dan dosa, dan janganlah mengganggu tetangga..”

Barangsiapa yang ketika berpuasa tidak meninggalkan perbuatan haram dan sia-sia, maka bisa jadi puasa yang dia lakukan tidak ada nilainya. Sebagaimana yang diisyaratkan Nabi

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut melainkan hanya rasa lapar dan dahaga” (HR Ath Thabrani dinilai shahih lighoirihi oleh Syaikh Albani)

 

Jagalah lisan dan jauhi dusta

Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Jika ada orang yang mencelamu atau berbuat buruk kepadamu, katakanlah “Aku sedang puasa, aku sedang puasa” (HR Ibnu Majah dan Hakim dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda tentang orang yang berdusta ketika berpuasa “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh akan rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR Bukhori)

Oleh karena itu hendaklah seorang yang berpuasa dapat menahan diri dan tidak membalas keburukan yang ditujukan kepadanya. Seorang yang berpuasa mestilah berkata santun, dan meninggalkan segala bentuk ucapan kotor dan buruk semisal ghibah, adu domba, umpatan, dan sebagainya.

 

Sibukkan diri dalam tilawah, dzikir, dan perbanyak ketaatan

Bulan ramadhan dan kesempatan puasa-puasa lainnya merupakan musim amal yang hendaknya benar-benar dimanfaatkan untuk memperbanyak kebaikan. Jangan sampai hari dimana kita berpuasa berlalu sama kualitasnya dengan hari diluar puasa.

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak berbuat baik ketika berpuasa. Beliau memperbanyak membaca Al Qur’an, shalat sunnah, dzikir, sedekah dan i’tikaf.

Begitu juga khususnya ibadah shalat wajib. Betapa banyak orang yang begitu bersemangat berpuasa namun justru meninggalkan shalat wajib. Sikap seperti ini sangatlah keliru, karena shalat juga merupakan kewajiban seorang muslim menuju derajat taqwa. Lantas bagaimana seseorang ingin menjadi orang bertaqwa dengan berpuasa, sementara dia meninggalkan shalat yang wajib baginya?

 

Sempatkanlah makan sahur

Diantara adab sunnah ketika akan mengawali puasa adalah berusaha untuk makan sahur.Waktu sahur adalah waktu yang berkah dan Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam begitu menekankan pentingnya makan sahur meskipun hanya dengan minum seteguk air. Beliau bersabda; “Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur” (HR Ahmad dinilai shahih menurut jalur lainnya oleh Syuaib Al-Arnauth)

Secara khusus, sunnah makan sahur adalah di penghujung waktunya atau menjelang adzan subuh. Sehingga batasan makan sahur bukanlah masuknya waktu imsak seperti kebiasaan di tempat kita. Justru jarak 15-20 menit menjelang adzan subuh adalah waktu yang disunnahkan untuk makan sahur, sebagaimana dalam sebuah riwayat dari sahabat Anas, dari Zaid bin Tsabit;

Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”(HR Bukhari dan Muslim). Membaca 50 ayat dengan tempo sedang dapat ditaksir sekitar 15-20 menit.

 

Segeralah berbuka dan jangan ditunda-tunda

Kemudian disunnahkan di penghujung hari untuk menyegerakan berbuka puasa ketika telah tiba waktunya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam mengaitkan kebaikan ummat ini selama mereka bersegera berbuka. Beliau bersabda “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim). Sehingga menunda-nunda berbuka puasa adalah bentuk kejelekan yang semestinya dijauhi.

Beliau biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan tidak menunggu hingga selesainya shalat. Selain itu beliau mengajarkan untuk berbuka dengan kurma basah, jika tidak ada maka dengan kurma kering, jika tidak ada maka dengan air putih. Anas bin Malik menggambarkan hal ini; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan kurma basah sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan kurma kering. Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (Hadits hasan shahih riwayat Abu Dawud).

 

Perbanyaklah berdoa, khususnya di waktu berbuka.

Secara umum, doa orang yang berpuasa adalah doa yang mustajab, diantaranya karena dia sedang menjalankan amal sholeh pada saat itu. Rasulullah bersabda; “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: do’a pemimpin yang adil, do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka,  do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh Albani). Perbanyaklah permintaan dan doa sepanjang hari dimana kita sedang berpuasa, baik itu puasa wajib maupun sunnah.

Adapun waktu yang secara khusus Nabi sebutkan kemustajabannya adalah pada waktu berbuka puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah). Pada waktu ini, berdoalah dan mohonkanlah segala hajat kita.

 

Penutup

Sesungguhnya Allah menjanjikan perjumpaan manis di akhirat bagi orang yang bersungguh-sungguh berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu RobbNya” (HR Muslim).Tentu janji ini hanya untuk orang yang bersungguh-sungguh berpuasa, memenuhi adab-adabnya, dan menjaga diri dari keharaman.

Oleh karena itu, bersabarlah menahan pahit dan beratnya puasa, demi meraih manisnya perjumpaan denganNya di akhirat sana.Wallahu a’lam bish showab.

 

Penulis: Wildan Salsabila, S.Farm

Murajaah: Ustadz Afifi Abdul Wadud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *