Untukmu Yang Ingin Bermaksiat

Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” [QS Muhammad: 33].

hadits riwayat Muslim perihal tiga jenis orang yang tidak akan dilihat dan disucikan Allah di hari kiamat, yaitu orang jompo yang berzina, penguasa yang berdusta dan orang miskin yang sombong. Ketiganya tidak memiliki alasan untuk melakukan kemaksiatan tersebut.

Syaikh Ali ath-Thanthawi rahimahullah mengatakan, “Wahai engkau yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya iman, taatilah Allah ta’ala dalam setiap perintahNya. Taati pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jangan membatalkan pahala amalmu karena maksiat yang engkau
lakukan.” [Tafsir al-Wasith].

Akibat dosa dan kemaksiatan

Tidak hanya merusak dan mengurangi pahala amal kebaikan yang telah dilakukan, kemaksiatan juga memberikan beragam pengaruh yang begitu merusak. Dalam karyanya, ad-Daa wa ad-Dawaa, Ibnu alQayyim rahimahullah menghimpun berbagai akibat dosa dan kemaksiatan bagi diri seseorang. Di antara hal yang disebutkan oleh beliau adalah:

  • Maksiat menghinakan pelakunya di hadapan Allah

Maksiat menyebabkan kehinaan seseorang di mata Allah. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,  “Mereka terhina karena itulah mereka bermaksiat. Seandainya merek mulia, pasti Allah akan menjaga
mereka dari berbuat maksiat.”

Boleh jadi secara lahir pelaku maksiat dihormati manusia karena adanya kepentingan atau rasa takut akan kejahatan mereka, akan tetapi di dalam hati, mereka lebih hina dari segala sesuatu karena Allah
ta’ala telah menghinakannya.

  • Maksiat menutup hati

Allah t’ala berfirman yang artinya, “Sekalikali tidak (demikian), sebenarnya kemaksiatan yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” [QS al-Muthaffifin: 14].

Semakin banyak dosa dilakukan seseorang, maka hal itu akan menutup hatinya sehingga masuk ke dalam kategori ghafilin (orang yang lalai dari Allah). Pada awalnya, hati seseorang mungkin menolak
melakukan dosa, namun tatkala hati sudah kalah maka terbentuklah rahn (titik hitam) yang selanjutnya akan bertambah sehingga menjadi tutupan yang mengunci dan menutup hati. Dalam keadaan seperti ini hati berada dalam kegelapan.

  • Maksiat mengakibatkan kerusakan di muka bumi

Salah satu akibat dosa dan maksiat adalah munculnya bermacam-macam kerusakan di bumi, air, udara,  tanaman, buah-buahan dan tempat tinggal. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS Ar-Rum: 41].

4) Maksiat menghilangkan rasa malu

Salah satu akibat perbuatan dosa adalah bermaksiat merahasiakan kemaksiatan yang dilakukannya itu lebih ringan, meskipun dia tetap berdosa dan berhak dihukum. Hendaknya orang yang bermaksiat mengingat hadits yang artinya,

 

Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, maka Aku mengampuni dosa itu untukmu  di hari kiamat ini.” [HR. al-Bukhari].

Seorang yang merahasiakan kemaksiatannya lebih diharapkan mendapatkan taufik untuk bisa bertaubat daripada orang yang melakukan kemaksiatan dengan terangterangan.

  • Ketika terjatuh dalam maksiat, hendaklah merasa takut dari akibat yang akan diperoleh karena sebagian orang yang bermaksiat tidak lagi mengacuhkan akibatnya dan tidak mempedulikan Allah
    yang telah dimaksiati.

Umar bin al-Khathab radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Wahai pelaku maksiat jangan terpedaya dengan lamanya kelembutan Allah kepadamu. Waspadalah kemurkaan-Nya, karena Dia telah berfirman (yang artinya), ‘Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka’ [az-Zukhruf: 55].” [Muntaqa min Hadits Abi Bakr alAnbari].

Konon ada seorang pelaku maksiat yang telah melampaui batas. Suatu hari dia melihat selembar  potongan mushaf yang tercantum nama Allah tergeletak di jalan. Dia pun mengambil dan
menyimpannya. Kemudian dia membeli minyak wangi misk seharga satu dirham yang belum dimiliki oleh seorang pun di saat itu. Lembaran mushaf itu pun dibubuhi dengan minyak wangi tersebut.

Dan karena sebab itu Allah memberikan taufik kepadanya untuk bertaubat dan menjadikannya teladan dalam hal ibadah dan zuhud.

  • Ketika terjatuh dalam maksiat, hendaknya dia tetap menanamkan rasa jijik dan tetap memandang buruk maksiat tersebut. Karena tentu berbeda antara orang yang bermaksiat sembari meyakini perbuatannya sebagai keburukan dengan orang yang bermaksiat namun menikmati dan
    menganggapnya baik.
  • Tetap menjaga akidah dan tauhid karena sebagian orang digiring oleh kemaksiatan menuju kebid’ahan, kemudian digiring menuju kesyirikan dan kekufuran. Sebagian orang karena
    kecenderungan untuk bermaksiat dan tidak tahan dengan aturan agama, malah berpindah agama, menjadi ateis dan kufur kepada Allah.
  • Jangan mengagumi dan mencintai pelaku maksiat, meski kita sendiri bermaksiat. Dan jangan membenci orang shalih, meski kita sendiri masih lalai melakukan ketaatan. Hendaknya tetap
    ada kecintaan dan kebencian yang berpijak pada aturan agama, agar seseorang tetap bisa selamat dengan suatu sebab yang bisa menyelamatkan dari siksa di hari kiamat.

 

Kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah,

Aku mencintai orang-orang shalih, meski aku bukan bagian dari mereka

Aku berharap, aku kelak mendapatkan syafaat dengan mencintai mereka

Dan aku membenci orang yang menjadikan maksiat sebagai barang dagangan

Meski dagangan kami sama…

Demikian yang dapat dituliskan. Semoga  bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin.

Penulis : Ust Nur Ichwan Muslim, ST. (Alumni Ma’had Ilmi Yogyakarta)

Muroja’ah : Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *