Haruskah Aku Mencintai Mereka

Artikel ini tersedia dalam bentuk buletin pdf siap cetak. Klik disini untuk mengunduh

Bicara tentang cinta memang tiada habisnya.Apa jadinya jika Allah Ta’alaa tidak mengaruniakan cinta kepada seorang hamba? Kesempitan, keresahan, duka, lara dan nestapa akan selalu menghampirinya. Tak ada yang peduli dengannya dan tak ada yang mau membersamainya, bukankah rasa peduli itu timbul dari rasa cinta?Bukankah kebahagiaan dan ketenangan itu karena dibersamai dengan rasa cinta?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang… (QS. Arrum:21).

Ibnu Qayyim rahimahullah menuturkan di kitab  Al-Jawabul Kafi yang patut kita catat baik-baik, “Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.”

Betapa banyak orang membicarakan cinta namun dibalik pembicaraan tersebut terkadang makna cinta menjadi sangat sempit. Kerap kali cinta adalah kata yang diusung oleh para pemuja nafsu yaitu sepasang kekasih yang memadu asmara sebelum waktunya, padahal ini adalah kesalahan. Cinta itu anugerah. Anugerah dari Sang Pemilik hati, ia bersih, indah dan semerbak harumnya. Namun para pemuja syahwat, penurut hawa nafsulah yang menodai kata cinta sendiri.

Pun,cinta bisa saja terlahir dari kekaguman seseorang terhadap sosok manusia yang paling teladan di muka bumi yaitu Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam padahal bertemu saja tidak. Cinta timbul di dalamnya seiring dengan membaca Hadist-hadistnya, membaca begitu bagusnya akhlak serta adab beliau shallahu’alaihi wasallam dan yang lainnya.

Mencintai Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam…

Berbicara tentang mencintai Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam ada kisah menarik yang pernah dilakukan oleh sahabat Umar ibn Khattab radhiallahu’anhu.Umar ibn Khattab radhiallahu’anhu berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekarang demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang engkau benar, wahai Umar. (HR.Bukhari)

Begitulah isyarat Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dalam hal mencintai dirinya.Tidak tanggung-tanggung, Umar ibn Khattab sudah mengatakan bahwa kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah melebih segalanya baik harta, istri, dan anak.Namun, masih saja itu belum cukup ketika Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dijadikan lebih ia cintai dibandingkan dirinya sendiri.

Maka mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaan kepada Allah. Selain itu konsekuensi mencintai beliau ialah mengikuti sunnahnya, mengikuti akhlak beliau, meninggalkan ajaran yang tidak diperintahkan oleh beliau, dan taat dan patuh atas segala yang beliau perintah dan yang dilarang.

Lalu, Haruskahku mencintaimu dan mencintai mereka?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya tidaklah bersendiri, beliau berdakwah dibantu oleh para sahabat Radhiallahu’anhum.Tidak diragukan lagi pengorbanan para sahabat terhadap perjuangan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Lalu timbul pertanyaan siapakah sahabat nabi itu?Berikut jawaban dari Ibnu Hajar Al Astqalani rahimmahullah.

Beliau berkata, “Sahabat Nabi adalah setiap orang yang bertemu dengan Nabi, beriman kepadanya, dan meninggal sebagai muslim walaupun pernah murtad sebelumnya.” (Nukhbatul Fikar, 230)

Lalu apa istimewanya mereka? Ya, mereka sangat istimewa, sampai-sampai nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  menuturkan kekhususan untuk mereka “Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian generasi yang berikutnya, kemudian generasi yang berikutnya.” (HR. Bukhari).

Yah… Sebaik-sebaik umat ialah umatnya beliau. Tiada lagi kemilaunya zaman yang mampu menyamai zamannya para sahabat walaupun teknologi sudah semakin maju namun puncaknya umat di muka bumi ini adalah di zaman mereka, bahkan Allah Ta’alaa sudah ridha kepada mereka.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100)

Betapa bahagianya orang yang sudah diridhai oleh Allah Ta’alaa.Mereka sudah dijamin masuk surga, surga yang luasnya tak terbayangkan, indahnya tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam  bersabda, “Janganlah kalian mencela Sahabatku. Karena demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalau salah seorang di  ntara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka nilainya tidak akan mencapai satu mud (segenggam tangan) salah seorang mereka, dan tidak juga separuhnya.” (HR. Bukhari)

Lalu sekarang ini, ada kelompok yang menamakan diri dengan islam namun mereka mencela para sahabat, menuduh mereka telah kafir dan sebagainya. Satu mud sedekah dari mereka saja tidak bisa kita samai walaupun sedekah kita sebesar gunung uhud. Gunung uhud tingginya mencapai 350 meter, lalu berapa ton emas?Namun sekali lagi, sedekah para sahabat dengan segenggam tangan itu lebih bernilai daripada emasmu yang setumpuk gunung.

Maka wajiblah kita mencintai para sahabat radhiallahu’anhum, mereka sudah dijamin masuk surga.Bukankah kita pernah mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”Lalu alasan apalagi kita tidak mau mencintai mereka?

Lalu, bagaimana pula kedudukan mencintai Ahlul Bait?

Berbicara tentang nabi dan para sahabat tentu tak luput dari kita akan ahlul bait. Bahkan, disetiap kita bersholawat sering sekali kita berucap, “Semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Rasullullah shallahu’alaihi wassalam kepada para keluarga dan kepada sahabatnya…” Sering bukan kita mengucapkan demikian? Lalu apa definisi ahlul bait menurut ahlus sunnah? Allah Ta’alaa berfirman:

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Pertanyaan: Siapakah Ahlul Bait dalam Ayat Ini?

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir). Ikrimah rahimahullah mengatakan, “Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (idem).

Ayat ini menjadi bantahan bagi kelompok yang menganggap bahwasannya istri nabi tidaklah termasuk ahlul bait, bahkan istri nabi ada juga yang menjadi sahabat nabi yang mana kedudukan mereka tentunya mulia.

Dalam pandangan Ahlussunnah tolak ukur dalam mencintai seseorang ialah berdasarkan keimanan. Dalam kasus mencintai ahlul bait yang mana ia juga berstatus sahabat maka ini sangat ditekankan bahkan mempunyai kedudukan yang tinggi.

“Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku, aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku, aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku” (HR. Muslim)

Seandainya dikatakan, ada seseorang yang dia mengaku menjadi ahlul bait Rasulullah shallahu’alaihi wasallam pada hari ini, namun dia sering berbuat kemaksiatan, apakah kita harus mencintainya juga?Jawabannya tentu saja tidak. Sekali lagi tolak ukur kecintaan seorang muslim ialah berdasarkan keimanan bukan hanya semata-mata garis keturunan atau kekerabatan.

Hal ini bisa dibuktikan bahwasannya menjadi ahlul baitpun tidak pasti mendapatkan jaminan, seperti keterangan berikut. “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Wahai keturunan ‘Abdu Manaaf, bebaskanlah diri-diri kalian dari adzab Allah… Wahai keturunan ‘Abdul Muththalib, bebaskanlah diri-diri kalian dari adzab Allah… Wahai Ummu Az Zubair bin Al ‘Awwaam, bibi Rasulullah… Wahai Fathimah bintu Muhammad, bebaskanlah diri-diri kalian dari adzab Allah, sesungguhnya aku tidak kuasa membela kalian di hadapan Allah kelak. Mintalah kepadaku dari harta yang aku miliki berapapun yang kalian inginkan.” (HR. Bukhari)

 

Begitulah cinta…

Cinta yang diiringi dengan ilmu maka akan melahirkan kemuliaan dan mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Kita boleh mencintai seseorang namun kita tidak boleh buta akannya.

Cinta pada hakikatnya memuat beragam makna yang bila diiringi dengan dorongan iman, dengan terpatrinya kekuatan takwa yang terukir di hati setiap muslim, maka akan luar biasalah hal cinta. Cinta itu indah, nafsulah yang menjadikannya ternodai.

 

Penulis : Herbi Yuliantoro (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi)

Murajaah : Ustaz Afifi Abdul Wadud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *