Nikmat Keamanan Sebuah Negeri

Rasa aman merupakan salah satu nikmat Allah yang besar dan salah satu pilar asasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karena menurut sifat dasarnya, meskipun manusia hidup di tengah bangsa yang berperadaban tinggi, berkemajuan, dan berekonomi kuat, mereka tak akan mampu
hidup dengan baik di tengah suasana yang dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran. Sebaliknya dalam suasana kehidupan yang aman, sebuah bangsa bisa membangun peradaban, dengan fokus dalam
memaksimalkan berbagai sektor perekonomian seperti pertanian dan industri; memaksimalkan kegiatan ekspor dan meminimalisir kegiatan impor; di mana ilmu dan kegiatan pembelajaran yang baik
tersebar luas, sehingga melahirkan generasi yang unggul.

Nilai penting keamanan dalam Islam

Dalam ayat 155 surat al-Baqarah, Allah ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan menguji manusia dengan apa yang menjadi kebalikan dari rasa aman, yaitu rasa takut. Allah ta’ala berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,  kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 155).

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Imam athThabari rahimahullah mengatakan, “Sungguh Kami akan mengujimu dengan sedikit ketakutan yang engkau peroleh dari musuhmu; Kami mengujimu di tahun-tahun yang engkau lalui, yang di dalamnya engkau mengalami kelaparan dan kesusahan. Kelak juga kamu akan diuji, sehingga sulit memenuhi kebutuhan, karena itu berkuranglah hartamu untuk memenuhinya; Peperangan antara kalian dan musuh yang kafir juga akan menjadi medan ujian, sehingga menyebabkan kuantitas kalian berkurang dan keturunan kalian meninggal; Buah yang kalian tanam pada suatu saat tak lagi berbuah, karenanya berkuranglah persediaan buah-buahan kalian. Semua hal itu adalah ujian dari Aku (Allah) kepada kalian, sehingga akan tersaring mereka yang keimanannya jujur dari mereka yang keimanannya dusta; akan teridentifikasi mereka yang memiliki bashirah dan
berpegang teguh pada agama dari mereka yang munafik dan ragu pada agama.

Ayat tersebut adalah seruan bagi para pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” [Jami’ al-Bayan fi Takwil al-Qur’an 3/220]. berkurang di tengah masyarakat adalah
tersebarnya paham-paham keagamaan yang memahami dalil al-Quran dan asSunnah dengan tidak berlandaskan pemahaman salaf ash-shalih (generasi terbaik umat Islam). Bukankah terjadinya pengafiran secara seram-pangan; penghalalan darah sesama kaum muslimin; pembunuhan dan
pengeboman orang-orang yang tidak berdosa, meskipun orang itu berstatus kafir, bersumber dari paham-paham yang keliru dala memahami Islam?

 

Menerapkan manhaj salaf dalam berinteraksi dengan penguasa kaum muslimin

Menerapkan prinsip-prinsip yang sejalan dengan ketentuan agama dalam berinteraksi dengan mereka seperti menghormati kedudukan mereka; mendengar dan taat pada kebijakan dan aturan mereka selama tidak bertentangan dengan aturan agama; berusaha mewujudkan persatuan, bersabar atas kezaliman, tidak keluar dari ketaatan kepada mereka, dan tidak melakukan provokasi dan agitasi yang menjatuhkan martabat mereka; mendo’akan kebaikan agar mereka mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik dan tidak mencela mereka; serta memberikan nasihat dan kritik yang tulus dan membangun. Apabila hal ini diterapkan oleh setiap kaum muslimin dalam interaksi antara penguasa dan rakyat, niscaya keamanan dapat tercipta.

Berdo’a meminta keamanan Karena itulah juga yang dipraktikkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seperti ketika melihat hilal, beliau berdo’a, “Allah Mahabesar, ya Allah, tampakkanlah al-hilal (bulan tanggal satu) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan; dengan membawa keselamatan dan Islam; serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau cintai dan Engkau Ridhai. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (Shahih li ghairihi. HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan ad-Darimi).

Demikian pula di setiap pagi dan petang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdo’a,
Ya Allah, saya memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya  Allah, saya memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam urusan dunia dan akhiratku, untuk keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku, berilah rasa aman kepada lubuk hatiku, jagalah saya dari arah depan, arah belakang, arah kanan, arah kiri dan arah atas, dan saya berlindung kepada-Mu agar aku tidak dihancurkan dari arah bawahku.” (Shahih. HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad; Abu  Dawud; an-Nasaa-i; Ibnu Majah].

Penulis : Muhammad Nur Ichwan Muslim (Alumni Ma’had Ilmi Yogyakarta)

Murojaah : Ustadz Afiifi Abdul Wadud, B.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *