Kaum Kafir Quraisy

At Tauhid edisi III/09

Oleh: Ari Wahyudi

Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam. Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah sama sekali. Atau lebih parah lagi mereka mengira bahwasanya kaum kafir Quraisy adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya Allah [?!] Duhai, tidakkah mereka memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lembaran sejarah yang tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits ?

Kaum kafir Quraisy mengenal Allah

Janganlah terkejut akan hal ini, cobalah simak firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah; Siapakah yang memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Maka sungguh mereka akan mengatakan, ‘Allah’….” (QS. Yunus: 31) Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada masa itu mengakui Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezki serta pengatur urusan hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini di tangan Allah lah terletak kekuasaan segala urusan, dan tidak ada seorangpun diantara kaum musyrikin itu yang mengingkari hal ini (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat). Dan janganlah anda terkejut apabila ternyata mereka pun termasuk ahli ibadah yang mempersembahkan berbagai bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.

Kafir Quraisy rajin beribadah

Anda tidak perlu merasa heran, karena inilah realita. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menceritakan bahwasanya kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka juga menunaikan ibadah haji, bersedekah dan bahkan banyak berdzikir kepada Allah. Mengomentari hal ini Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa kaum musyrikin Quraisy yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kaum yang beribadah kepada Allah, akan tetapi ibadah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka karena ibadah yang mereka lakukan itu tercampuri dengan syirik akbar. Sama saja apakah sesuatu yang diibadahi disamping Allah itu berupa patung, orang shalih, Nabi, atau bahkan malaikat. Dan sama saja apakah tujuan pelakunya adalah demi mengangkat sosok-sosok tersebut sebagai sekutu Allah atau bukan, karena hakikat perbuatan mereka adalah syirik. Demikian pula apabila niatnya hanya sekedar menjadikan sosok-sosok itu sebagai perantara ibadah dan penambah kedekatan diri kepada Allah. Maka hal itu pun dihukumi syirik (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Dua pelajaran berharga

Dari sepenggal kisah di atas maka ada dua buah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Pertama; pengakuan seseorang bahwa hanya Allah lah pencipta, pemberi rezki dan pengatur segala urusan tidaklah cukup untuk membuat dirinya termasuk dalam golongan pemeluk agama Islam. Sehingga sekedar mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur belum bisa menjamin terjaganya darah dan hartanya. Bahkan sekedar meyakini hal itu belum bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan Allah. Kedua; apabila peribadatan kepada Allah disusupi dengan kesyirikan maka hal itu akan menghancurkan ibadah tersebut. Oleh sebab itu ibadah tidak dianggap sah apabila tidak dilandasi dengan tauhid/ikhlas (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Dengan demikian sungguh keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwasanya tauhid itu cukup dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan dengan modal anggapan yang terlanjur salah ini maka merekapun bersusah payah untuk mengajak manusia mengenali bukti-bukti alam tentang keberadaan dan keesaan wujud-Nya dan justru mengabaikan hakikat tauhid yang sebenarnya. Atau yang mengatakan bahwa selama orang itu masih mengucapkan syahadat maka tidak ada sesuatupun yang bisa membatalkan keislamannya. Atau yang membenarkan berbagai macam praktek kesyirikan dengan dalih hal itu dia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Atau yang mengatakan bahwa para wali yang sudah meninggal itu sekedar perantara untuk bisa mendekatkan diri mereka yang penuh dosa kepada Allah yang Maha Suci. Lihatlah kebanyakan praktek kesyirikan yang merebak di tengah-tengah masyarakat Islam sekarang ini, maka niscaya alasan-alasan semacam ini -yang rapuh serapuh sarang laba-laba- yang mereka lontarkan demi melapangkan jalan mereka untuk melestarikan tradisi dan ritual-ritual syirik.

‘Kita ‘kan tidak sebodoh kafir Quraisy’

Barangkali masih ada orang yang bersikeras mengatakan, “Jangan samakan kami dengan kaum kafir Qurasiy. Sebab kami ini beragama Islam, kami cinta Islam, kami cinta Nabi, dan kami senantiasa meyakini Allah lah penguasa jagad raya ini, tidak sebagaimana mereka yang bodoh dan dungu itu!” Allahu akbar, hendaknya kita tidak terburu-buru menilai orang lain bodoh dan dungu sementara kita belum memahami keadaan mereka. Saudaraku, cermatilah firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.'” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

Nah, ayat-ayat di atas demikian gamblang menceritakan kepada kita tentang realita yang terjadi pada kaum musyrikin Quraisy dahulu. Meyakini tauhid rububiyah tanpa disertai dengan tauhid uluhiyah tidak ada artinya. Maka sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik haji akan tetapi mereka justru berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani. Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah. Dan mereka juga sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka jadikan perantara itu bukanlah pencipta, penguasa jagad raya dan pemeliharanya. Sungguh persis kesyirikan hari ini dengan masa silam. Sebagian orang mungkin berkomentar, “Akan tetapi mereka ini ‘kan kaum muslimin” Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab,”Maka kalau dengan perilaku seperti itu mereka masih layak disebut muslim, lantas mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak kita sebut sebagai muslim juga ?! Orang yang berpendapat semacam itu tidak memiliki pemahaman ilmu tauhid dan tidak punya ilmu sedikitpun, karena sesungguhnya dia sendiri tidak mengerti hakikat tauhid” (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Maka wahai saudaraku kaum muslimin, janganlah menjadi seperti kafir Quraisy yang mengakui Allah sebagai satu-satunya Pencipta dan Penguasa Alam Semesta, namun ibadah mereka kepada Allah tercampuri dengan kesyirikan. Akan tetapi jalan kaum muslimin yang sesungguhnya adalah mengerti hakikat tauhid dan mengamalkannya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Wallahu a’lam. [Ari Wahyudi]

One comment

  1. Mohon ijin akhi Ari Wahyudi untuk menambah sedikit, mohon dikoreksi kalau ada kesalahan, maklum ilmu masih terbatas.
    Tidak hanya orang Quraisy yang mengenal Allah tapi setiap orang bahkan orang Amerika, Rusia yang atheis atau Firaun sekalipun mengenal Allah (QS 17:102), dengan tingkat kesadaran dan pemahaman yang berbeda-beda, hanya tinggal mereka membenarkan kata hatinya atau mendustakan. Karena mengenal rububiyah adalah fitroh/naturalnya manusia. Karena tanpa itu Allah tidak punya alasan yang kuat untuk menghukum manusia kalau mereka tidak menyembah Allah semata. Kaum Nuh, Hud dan sebagainya mengenal Allah, bahkan mereka berkata “mereka (Rosul-rosul) hanya mengada-adakan saja terhadap Allah atau berkata kalau Allah menghendaki akan diturunkan malaikat”, dan lain2 perkataan yang banyak diulang2 dalam quran. Karena seperti kita tahu, mengenal rububiyah adalah fitroh manusia seperti dalam QS 7:172-173:
    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu”.
    Sehingga Allah punya alasan yang kuat untuk menghukum mereka walaupun mereka dibesarkan oleh orang tua yang musyrik. Dan mereka tidak punya alasan lain untuk mengelak.
    Seperti juga kita tidak bisa menghukum/mengutuk orang yang durhaka kepada orang tua karena kita sangat yakin mereka mengenal orang tua mereka sendiri. Ketika kita tanya orang durhaka itu “siapa yang melahirkan kamu” mereka pasti menjawab “ibuku”. Ketika ditanya lagi “siapa yang memeliharamu” mereka akan menjawan “ibu dan bapakku” dan kita bertanya lagi “mengapa kamu durhaka pada orang tuamu?”. Kita bisa menduga mereka durhaka karena orang durhaka ini hanya tahu siapa orang tuanya dan siapa yang memeliharanya, tetapi dia tidak memahami bagaimana perjuangan dan pengorbanan orang tua ketika memelihara dia. Jadi orang musyrik sudah pasti mengenal Allah siapapun orang musyrik itu baik jaman sekarang atau jaman dahulu. Ketika dia ditanya siapa yang menciptakan dan memelihara dia maka dia akan menjawab Allah, maka mengapa mereka durhaka/menghianati Allah dengan menyembah yang lain. Maka durhaka pada orang tua merupakan dosa yang sangat besar baik di hadapan Allah atau pandangan masyarakat manusia pada umumnya apapun agamanya.
    Sehingga dengan adanya permisalan hubungan kita dan orang tua kita maka kita bisa memahami dengan mudah bahwa tarbiyah orang tua merupakan hal yang harus kita bayar dengan berbakti dan menghormati mereka. Meskipun kita tahu bahwa tarbiyah orang tua sebenarnya hanya terbatas pada hal2 yang sangat kecil dibandingkan tarbiyah Allah tapi mendurhakai orang tua merupakan dosa yang sangat besar.Sehinggal durhaka kepada orang tua saja bisa mengakibatkan kemarahan Allah, maka bisa dibayangkan bagaimana kemarahan Allah kalau kita mendustakan tarbiyah Allah ini. Dan perintah birrul walidain banyak disebut dalam quran bahkan diletakkan setelah perintah menyembah Allah seperti dalam QS 17:23 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.
    Dari hal tersebut di atas kita bisa menyimpulkan bahwa orang musyrik hanya mengetahui rububiyah tapi tidak memahami rububiyah dengan baik, kalau dia tahu dengan pasti dan memahami secara terperinci tauhid rububiyah, maka dia akan bertauhid uluhiyah. Karena kalau kita paham dan menghayati bagaimana penderitaan/pengorbanan ibu ketika melahirkan, menyusui dan memelihara kita maka kita akan sukarela berbakti pada orang tua, bukannya mendurhakainya.
    Begitu juga bila berada dalam keadaan genting yang mengancam jiwanya maka orang musyrik segera menyeru Allah dengan semurni2 nya. Hal ini terbukti ketika saya melihat film dokumenter (real tape) seorang Amerika yang berlayar solo di laut, maka ketika terkena badai yang sangat dahsyat dan dia yakin dia akan mati saat itu maka dia berdoa dengan semurni-murninya kepada tuhan untuk menolong dia. Meskipun dia tidak menyebut kata “Allah” karena kita tahu nama Allah adalah salah satu nama dari asmaul husna yang dikenal dalam Islam dari nama pencipta kita yang mungkin dia tidak tahu. Tapi kita tahu yang dituju oleh orang Amerika ini adalah Dzat yang memiliki kekuatan yang besar, yang menguasai jiwa dia, dan yang berkuasa menghentikan badai yang menimpanya. Dan yang pasti dia tidak akan membayangkan patung2 di gereja atau bahkan Yesus, tapi satu Dzat yang sangat besar dan mengontrol angin yang mengombang-ambingkannya.
    Dan banyak lagi film2 dokumenter tentang keadaan genting seperti ini, seperti air crash, bencana alam dan peristiwa genting lainnya. Jadi dari hal ini bisa disimpulkan bahwa orang musyrik dahulu tidak lebih baik dari keadaan musyrik sekarang, dengan bukti banyaknya film dokumenter yang menceritakan keadaan itu yang membuktikan kebenaran quran. Waallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *