Cinta-Kerana-Allah

Cinta Dan Takut Kepada Allah

Cinta dan takut merupakan dua kata yang hati kita tidak akan lepas darinya. Baik ketika kita masih kecil, remaja, dewasa, bahkan ketika sudah tua. Namun terkadang kita masih saja salah mengartikan dan menyalurkan cinta dan takut pada sesuatu yang terlarang dalam agama. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk mempelajarinya agar tidak terjatuh pada perkara yang haram. Marilah kita luangkan sejenak waktu, untuk mempelajari sekelumit tentangnya.

Ibadah itu tidak hanya shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, berdzikir, dan lainnya dari ibadah-ibadah anggota badan (lisan dan perbuatan). Di sana masih ada ibadah lain bahkan ibadah yang paling agung yang disebut ibadah qalbiyyah (yang berhubungan dengan hati) seperti sabar, tawakkal, ikhlas, cinta, dan lain-lain. Karena definisi ibadah sebagaimana disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir) (lihat kitab al ‘Ubudiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).

Apa itu Cinta?

Makna cinta tidak hanya terbatas kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya makna cinta itu lebih luas dan dalam. Cinta merupakan salah satu sebab yang kuat untuk memulai suatu perbuatan. Demikianlah cinta, ia mampu membangkitkan jiwa, menggerakkan hati dan badan tatkala disebutkan sesuatu yang dicintainya. Namun, dari sekian banyak cinta yang dimiliki seorang manusia, hanya ada dua cinta yang hakiki: [1] mencintai Allah dan ini poros cinta yang semua cinta akan kembali kepada cinta ini, [2] mencintai apa saja yang dicintai Allah. Oleh karena itu, kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan orang-orang shalih, karena Allah mencintai mereka dan Allah pun memerintahkan demikian. Untuk itu Allah menjadikan mencintai saudaranya sesama muslim karena-Nya termasuk satu dari tiga penyempurna keimanan, sehingga orang tersebut akan merasakan lezatnya iman. Sebagaimana kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tiga perkara yang barangsiapa memilikinya, maka dia akan merasakan lezatnya iman, yaitu: [1] Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, [2] mencintai saudaranya karena Allah semata, [3] membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda: “Tidaklah (sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dalam dua hadits ini, Allah melalui lisan Rasul-Nya mengaitkan kesempurnaan iman dengan mencintai sesama muslim karena mereka mencintai Allah.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Cinta karena Allah merupakan buah mencintai Allah. Sebagian ulama mengatakan, ‘Cinta adalah kecocokan hati kepada apa yang dicintai Allah, sehingga dia mencinta apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya.’” [Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim (II/14)]

Cinta yang Bernilai Ibadah

Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Allah. Ketika seorang hamba mencintai Allah, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Allah juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah. Sesungguhnya apabila ditanyakan kepada setiap muslim “Apakah anda mencintai Allah?” maka tentu dia akan menjawab “Tentu saja”. Namun pernyataan tanpa bukti tidaklah bermanfaat. Allah tidak membutuhkan pernyataan belaka. Akan tetapi Dia menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita “Aku cinta Allah”. Oleh karena itulah, Allah menguji setiap muslim dalam firman-Nya (artinya), “Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31). Ya, bukti kecintaan kita kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah dalam segala hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarga. Beliaulah teladan terbaik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21). Oleh karena itu, jika kita mengaku mencintai Allah, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasulullah sebagai panutan kita. Bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya Rasulullah bersabda “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (di hari akhirat nanti).” (HR. Muslim). Makna dari hadits ini adalah jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang shalih (seperti para rasul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka. Dan sebaliknya ketika di dunia kita mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka sebagai teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akhirat merupakan seburuk-buruk tempat. Duhai, betapa musibah yang sangat besar!

Makna Takut

Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Allah semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Allah berfirman (artinya): “(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (QS. Al Anbiya: 49)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Rasa takut merupakan sebuah ungkapan dari rasa sedihnya hati disebabkan hal-hal yang dibenci yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Rasa ini berbanding lurus dengan sebab-sebabnya, akan kuat jika sebabnya kuat dan akan melemah jika sebabnya melemah pula”[ Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal 347].

Takut yang Bernilai Ibadah

Takut adalah kondisi psikis yang timbul karena perasaan khawatir tertimpa bahaya atau celaka. Takut sendiri ada bermacam-macam:

  1. Takut yang merupakan tabiat, seperti takut kepada binatang buas seperti ular, harimau, dll dan takut kepada musuh dalam perang, ini semua bukan termasuk takut yang tercela. Hal ini wajar ada dalam diri seseorang apabila dengan sebab yang jelas. Namun hendaknya rasa takut tersebut tidak sampai menyebabkan seseorang meninggalkan ibadah kepada Allah seperti amar ma’ruf nahi munkar atau membuatnya melakukan hal-hal yang dilarang.
  2. Takut kepada sesuatu yang samar sebabnya, seperti berhala ataupun wali dikarenakan khawatir apabila tidak taat pada mereka maka akan terkena tulah atau bala. Sebagaimana perkataan kaum Ad kepada nabi Hud ‘alaihis-salaam “Kami hanyalah mengatakan jika sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila padamu…” (QS. Hud : 54). Mereka berkeyakinan jika sesembahan mereka layak ditakuti karena dapat menimpakan keburukan. Hal ini termasuk bentuk syirik.
  3. Takut dalam rangka ibadah. Rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah, sehingga membuat seseorang menjadi taat serta menjadikan dirinya menjauh dari maksiat. Hal ini termasuk perkara paling wajib yang terkandung di dalamnya keimanan.

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan : “Seseorang yang sudah tidak takut kepada Allah, maka akan mengikuti hawa nafsunya. Terlebih lagi jika sesuatu tersebut gagal untuk diraih. Maka nafsunya akan terus mencari sesuatu yang bisa memuaskan dirinya dan menghilangkan rasa gundah dan kesedihannya. Hal itu karena nafsunya tidak merasa tenang dan terpuaskan dengan berdzikir mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya. Akan tetapi ia merasa tenang dengan hal-hal yang haram dengan berbuat keji, meminum sesuatu yang haram dan berkata dusta.” (dinukil dari Hushulul Ma’mul hal. 76 – 77).

Menumbuhkan Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu ibadah hati yang diperintahkan oleh-Nya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Rasa takut kepada-Nya tidak dapat direalisasikan dengan benar dan sempurna kecuali oleh para ulama Rabbani yang mengenal Allah dengan sebenarnya. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, Aku adalah orang yang paling tahu di antara kalian tentang Allah, dan (karena itu) aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya hakekat ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat (atau hafalan), akan tetapi hakikat ilmu ialah apa yang menumbuhkan rasa takut (kepada Allah).” (Lihat al-Fawa’id, hal. 142).

Diantara cara untuk menumbuhkan rasa takut kepada Allah yaitu: [1] mempelajari ilmu untuk mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya, [2] Mengetahui pedihnya siksa Allah dan merasa tidak sanggup menahan siksa-Nya, [3] merasa takut terhalang untuk bisa bertaubat karena sebab dosa yang dilakukannya, dan [4] takut mati dalam keadaan buruk, yaitu mati dalam keadaan bermaksiat pada Allah.

Penutup

Cinta dan takut yang telah disebutkan di atas harus seimbang dalam setiap ibadah seorang hamba. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju tujuan yang ia cintai. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta. Sedangkan rasa takut akan membantunya mencegah keluar dari jalan menuju tujuan yang dicintainya.

Penulis : Muhammad Nashiruddin Hasan, ST (Alumni Ma’had Al’ilmi Yogyakarta)

Murojaah : Ust Abu Salman, BIS

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *