Doakan Pemimpinmu

Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya,  melainkan juga mengatur hubungan antar manusia, termasuk antara rakyat dengan pemimpinnya. Oleh karena itu, rakyat memiliki hak dalam Islam untuk menasihati pemimpinnya agar senantiasa berada di jalan yang lurus.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus adDaary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, RasulNya, pemimpin kaum muslimin dan  rakyatnya”. (HR. Muslim).

Abdul ‘Aziz ibn Abdullah ibn Baz menjelaskan dalam fatwa beliau, “Diantara bentuk nasihat pada pemimpin ialah mendoakannya dengan taufiq, hidayah, baiknya niat, amal, dan bathinnya”.

Namun realita saat ini menunjukkan bahwa semakin banyak rakyat yang tidak mengetahui hak pemimpin kaum muslimin, bahkan banyak yang justru menghinakannya, melecehkan agamanya maupun fisiknya, bahkan berujung pada sikap tidak mengakui keabsahan pemerintahannya dan menghasut pada pemberontakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penguasa ialah naungan Allah di muka bumi, siapa yang menghinakannya berarti menghinakan Allah, siapa yang memuliakannya berarti memuliakan Allah” (HR Ibn Abi Ashim, dinilai hasan oleh Al Albani dalam Zhilal Al Jannah 2/489).

Artikel ringkas berikut ini akan membahas tentang urgensi dan faidah mendoakan pemimpin kaum muslimin, insya Allah.

 

Mendoakan Pemimpin Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Beberapa keterangan para ulama dalam berbagai kitab-kitab aqidah menunjukkan bahwa mendoakan pemimpin kaum muslimin merupakan hal yang wajib ditunaikan. Abu Ja’far At Thahawi (wafat 321 H ) rahimahullah menuliskan dalam kitabnya Al Aqidah At Thahawiyah, “Dan kami berpendapat taat pada pemimpin termasuk dalam taat pada Allah ‘azza wa jalla yang wajib, selama mereka tidak memerintahkan maksiat. Dan agar rakyat mendoakan pemimpinnya dengan kebaikan jasmani dan ruhani”

Hasan ibn Ali Al Barbahari (wafat 329 H ) dalam Syarhus Sunnah menuliskan, “Kita diperintahkan untuk mendoakan mereka dengan kebaikan bukan keburukan, meskipun ia seorang pemimpin yang dzalim lagi jahat karena kedzaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara bila mereka baik maka mereka dan seluruh kaum muslimin akan merasakannya.”

Doakan Pemimpinmu di Mimbar Jum’at Diantara bentuk kebaikan ialah hendaknya para khatib Jum’at mendoakan pemimpin di mimbar Jum’at. Dengan mendengar doa tersebut, masyarakat akan mengaminkannya dengan khusyuk, dan mereka juga akan semakin optimis menyikapi kondisi negerinya.

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ menjelaskan seputar hukum mendoakan pemimpin di mimbar Jum’at, “M endoakan pemimpin kaum muslimin dengan kebaikan dan pertolongan dari Allah agar selalu berada di atas kebenaran, menegakkan keadilan, dan agar Allah
memberi kemenangan pada pasukan-pasukan perang Islam, maka hukumnya adalah sunnah
yang dianjurkan dengan sepakat para ulama”

Ibn Taimiyyah rahimahullah dalam As Siyasah As Syar’iyyah menjelaskan, “Para ulama salaf mereka berpendapat bahwa mendoakan dan menasihati penguasa termasuk bentuk beribadah pada Allah yang amat agung, dengan tanpa diiringi ketamakan atas harta dan jabatan, bukan karena takut
kepada penguasa, bukan pula atas dasar tolong menolong di atas dosa dan permusuhan”

Shalih ibn Fauzan Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Mendoakan penguasa di khutbah Jum’at adalah hal yang baik di kalangan kaum muslimin. Karena mendoakan penguasa dengan taufiq dan kebaikan, merupakan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah. Sedangkan meninggalkan mendoakan penguasa, adalah manhaj ahli bid’ah. Hal ini karena baiknya penguasa, akan membawa pada baiknya kaum muslimin. Sunnah ini telah lama ditinggalkan hingga manusia merasa aneh dalam mendoakan penguasa mereka, dan berburuk sangka kepada mereka yang mengerjakannya”

 

Jangan Berputus Asa dalam Mendoakan Pemimpin

Sebagian orang melihat profil pemimpin mereka dan merasa pesimis dengan perbaikan dan perubahan yang terjadi akibat kepemimpinannya. Akibatnya alih-alih mendoakan, yang keluar dari lisannya ialah celaan dan makian semata. Maka melihat fenomena ini hendaknya kita mengingat
kembali bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Allah pasti mengabulkan doa hambaN ya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al Albani).

Allah Maha Berkuasa dalam memperbaiki keadaan siapapun, dan oleh karenanya para ulama salaf mereka tetap mendoakan kebaikan untuk pemimpin, meskipun ia berbuat zhalim kepada kaum muslimin. Semoga Allah memperbaiki kondisi pemimpin kita dan kaum muslimin pada umumnya. Amin yaa Rabbal ‘alamin.

 

Penulis : Yhouga Pratama, ST. (Alumni Ma’had I lmi Yogyakarta)

Murojaah : Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *