Agar Puasa Tidak Sia-Sia

Buletin At Tauhid Edisi 27 Tahun X

Ramadan-Mubarak-19

Banyak kaum muslimin yang bahagia menyambut bulan suci Ramadhan. Menyambutnya dengan berbagai macam ekspresi dan tingkat kebahagiaan. Kemudian melaksanakan puasa di bulan tersebut dengan penuh semangat menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi sebagian kaum muslimin hanya fokus kepada menahan diri dari makan dan minum saja. Perlu diketahui bahwa ada beberapa hal yang bisa membuat puasa seseorang menjadi sia-sia atau minimal pahalanya berkurang dan sebagian kaum muslimin kurang paham mengenai hal ini, meskipun sudah berletih dengan meninggalkan makan, minum, dan hubungan biologis.
Karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani, shahih lighairihi)
Berikut beberapa hal yang menyebabkan puasa menjadi sia-sia, pahalanya berkurang, atau tidak berpahala sama sekali.

1. Niat puasa yang tidak ikhlas

Bisa jadi seseorang niat puasanya hanya sekedar ikut-ikutan atau bahkan gengsi kalau tidak puasa. Atau puasa karena nanti ada acara buka bersama, padahal sebelumnya ia malas puasa.

Maka hendaknya puasa kita niatkan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala, dan setiap orang diberi ganjaran sesuai dengan niatnya (puasa).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berkata-kata yang tidak baik dan berkata kotor

Ada dari sebagian kaum muslimin mungkin ia mampu menahan lapar dan dahaga, akan tetapi belum tentu ia mampu menahan lisannya. Selama puasa ia sering berkata-kata yanga tidak baik, berkata kotor, menggunjing, menggibah, dan mengadu domba. Bahkan ada yang beteriak-teriak tidak jelas tujuannya dan membuang-buang energi pada hal yang sia-sia.

Hal ini sebaiknya kita hidari selama berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali)’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjaga ucapan tidak hanya diperintahkan ketika berpuasa saja, akan tetapi di setiap tempat dan setiap waktu. Larangan Rasulullah tersebut menunjukkan agungnya ibadah puasa.

 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan memang lisan adalah kunci keselamatan seseorang, ketika ia bisa menjaga lisannya, maka selamatlah ia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya. (HR. Bukhari)

Dan termasuk dalam hal ini adalah berkata-kata dusta.  Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan langsung mengenai hal ini,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

Dan termasuk di dalamnya juga adalah banyak berkata-kata yang sia-sia, tidak jelas, dan tidak bermanfaat. Begitu juga dengan perkataan -yang maaf- “jorok dan porno”. Hal ini sangat dilarang bagi orang yang sedang berpuasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan laghwu (sia-sia-red) dan rofats (jorok-red). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah, shahih)

3. Sering melakukan kemaksiatan dan tidak berusaha melawan dan menguranginya

Telah kita ketahui bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga menahan diri dari syahwat, menahan diri dari perbuatan maksiat. Ada sebagian kaum muslimin tetap melakukan kemaksiatan yang sering ia lakukan, ia tidak berusaha mengurangi atau melawannya, ia tidak memanfaatkan momentum puasa Ramadhan untuk lepas dari kebiasaannya tersebut.

Hikmah berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa, menjadi orang yang takut kepada Allah ketika akan bermaksiat. Sebagaimana yang Allah firmankan (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa juga telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah : 183)

Contoh kemaksiatan yang sering dilakukan adalah durhaka kepada orang tua, ghibah, merokok, dan masih banyak contoh yang lainnya.

Sering kita lihat bahwa orang-orang tetap merokok selama puasa. Atau jika tidak merokok, ketika berpuasa, dia segera merokok ketika berbuka puasa atau ketika sahur misalnya.

Merokok jelas merupakan keharaman karena bisa merusak kesehatan dan membinasakan diri sendiri dan juga orang lain.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“ (QS. Al Baqarah : 195)

Dan sudah sangat jelas -bahkan tercantum dalam bungkus rokok- bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan. Kita tidak boleh berbuat hal yang bahaya dan membahayakan.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah, shahih)

Demikian juga kemaksiatan yang lainnya, maka hendaknya seorang muslim berusaha melawannya dan meminimalkannya.

Penutup

Hendaknya kita benar-benar memperhatikan puasa kita karena ibadah puasa adalah ibadah yang istimewa di mana Allah sendiri yang akan membalasnya dengan pahala yang telah Allah janjikan sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”” (HR. Ahmad, shahih)

Penulis  : Ustadz dr. Raehanul Bahraen (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Muroja’ah : Ustadz Abu Salman

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *