<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin At-Tauhid &#187; Fiqih</title>
	<atom:link href="http://buletin.muslim.or.id/category/fiqih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buletin.muslim.or.id</link>
	<description>Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 22:41:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Shalat Jama&#8217;ah</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/shalat-jamaah</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/shalat-jamaah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 02:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[aturan shalat jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jama'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1005</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam sebuah riwayat, Ibnu Mas'ud pernah mengatakan: “Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak di akhirat sebagai seorang muslim maka hendaklah dia menjaga sholat-sholat wajib itu dengan menghadirinya ketika adzan dikumandangkan....... Sungguh, aku teringat, dahulu jika ada orang yang sengaja meninggalkan sholat jama’ah, dia pasti orang munafiq yang diketahui dengan jelas kemunafikannya. Dulu pernah ada seorang sahabat yang dibawa ke masjid dengan dipapah oleh dua orang, kemudian ditempatkan di shaf.” (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">MasyaaAllah, sehebat itukah status shalat berjama’ah di mata para sahabat. Unsur <em>benefit</em> (kemanfaatan) pada shalat jama’ah telah memotivasi mereka untuk hadir, walaupun harus dipapah menuju masjid. Sementara kebiasaan shalat jama’ah yang telah menyatu dengan kehidupan beragama, menyebabkan orang yang tidak menghadirinya layak untuk dicap sebagai seorang munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini, kita tidak sedang membahas keutamaan shalat berjama’ah. Karena saya sangat yakin, setiap muslim sadar, shalat berjama’ah memiliki keutamaan yang lebih besar dari pada shalat sendiri. Yang lebih penting adalah bagaimana anda memiliki motivasi untuk shalat berjama’ah, sehingga anda bisa meneladani semangat sahabat dalam menghadiri shalat jama’ah.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/shalat-jamaah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Kesalahan dalam Sholat</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/beberapa-kesalahan-dalam-sholat</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/beberapa-kesalahan-dalam-sholat#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 22:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah sholat]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=984</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Segala puji bagi Allah <em>ta’ala</em> , semoga shalawat dan salam terlimpahkan pada tauladan kita Nabi Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, keluarga beliau, sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau dengan baik. <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Shalat merupakan ibadah yang agung. Di antara bukti keagungannya adalah Allah sendiri yang langsung menyampaikan kewajiban shalat kepada Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam peristiwa isra’ mi’raj. Shalat merupakan penyejuk hati Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan beliau senantiasa berpesan pada umatnya untuk menjaga shalat. Karena agungnya ibadah  ini, maka hendaknya seorang muslim perhatian terhadapnya dan waspada terhadap praktek-praktek yang keliru dalam  shalat, karena praktek yang keliru dalam shalat bisa merusak kesempurnaan shalat atau bahkan membatalkannya. Dalam pembahasan kali ini kami sampaikan beberapa kekeliruan yang sering dilakukan ketika shalat dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/beberapa-kesalahan-dalam-sholat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Qurban</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/hukum-qurban</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/hukum-qurban#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 00:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya),  “<em>Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan <span style="text-decoration: underline;">berqurbanlah</span></em>.” (QS. Al Kautsar: 2). Dalam ayat lain, Allah<em> Ta’ala</em> berfirman (yang artinya),  “<em>Katakanlah: sesungguhnya shalatku, <span style="text-decoration: underline;">nusuk-ku,</span> hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.</em>” (QS. Al An’am: 162). Di antara tafsiran <em>an nusuk</em> adalah sembelihan, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid dan Ibnu Qutaibah. Az Zajaj mengatakan bahwa bahwa makna <em>an nusuk</em> adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri pada Allah<em> ‘azza wa jalla</em>, namun umumnya digunakan untuk sembelihan. (Lihat <em>Zaadul Masiir</em>, 2/446)</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/hukum-qurban/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Shalat Tarawih</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/tuntunan-shalat-tarawih</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/tuntunan-shalat-tarawih#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 03:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[panduan shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan shalat tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua<em> jihadun nafs</em> (jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak terhingga...</p>
<p style="text-align: justify;">Shalat tarawih adalah shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam, atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang utama di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Allah <em>Ta'ala</em>. Ibnu Rajab <em>rahimahullah </em>dalam <em>Lathoif Al Ma'arif</em> berkata, "Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua <em>jihadun nafs </em>(jihad pada jiwa) yaitu jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang tak terhingga."</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/tuntunan-shalat-tarawih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Sia-Siakan Puasamu</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/jangan-sia-siakan-puasamu</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/jangan-sia-siakan-puasamu#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 03:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[berbuka]]></category>
		<category><![CDATA[do'a berbuka puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sahur]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Segala puji bagi Allah yang atas nikmat dan karunia-Nya sebentar lagi kita akan berjumpa dengan bulan yang penuh dengan berkah dan kemuliaan, yaitu bulan Ramadhan -insya Allah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang muslim, tentunya kita harus antusias dalam mengisi waktu kita di bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih yang dicintai Allah <em>ta’ala</em>. Namun, seorang muslim tidaklah akan dapat mengerjakan ibadah-ibadah yang benar serta sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya di bulan Ramadhan melainkan dia telah memiliki ilmu tentang ibadah-ibadah tersebut. Apa yang akan kami paparkan berikut ini merupakan kelanjutan dari pembahasan hukum seputar puasa pekan lalu.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/jangan-sia-siakan-puasamu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarat, Rukun, dan Pembatal Puasa</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/syarat-rukun-dan-pembatal-puasa</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/syarat-rukun-dan-pembatal-puasa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 03:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rukun puasa]]></category>
		<category><![CDATA[syarat puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah <em>ta’ala</em>, bulan yang mulia dan agung beberapa hari lagi mendatangi kita. Di dalam bulan Ramadhan itu pula, kita sebagai seorang muslim diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menunaikan puasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”</em> (QS. Al Baqarah: 183). Maka wajib bagi seorang muslim mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan ibadah puasa, seperti syarat wajib puasa, syarat syahnya puasa, rukun puasa, pembatal-pembatal puasa, dan lainnya. Dan pada edisi ini, kami akan membahas mengenai syarat, rukun, dan pembatal Puasa.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/syarat-rukun-dan-pembatal-puasa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengobatan dengan Ruqyah</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/pengobatan-dengan-ruqyah</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/pengobatan-dengan-ruqyah#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 22:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VII]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[ruqyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah <em>Ta’ala, </em>kalau kita melihat apa yang terjadi pada dewasa ini, maka kita jumpai bahwa pengobatan dengan metode ruqyah menjadi semakin marak, bahkan di sejumlah kota telah muncul “klinik ruqyah”. Akan tetapi, maraknya praktik ruqyah tersebut menuntut kaum muslimin untuk lebih bersikap jeli dan teliti karena tidak semua praktik ruqyah yang dilakukan ternyata sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meskipun yang melakukan ruqyah tersebut bergelar ustadz, kyai, atau yang lainnya. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kesembuhan dari Allah <em>Ta’ala, </em>namun di sisi lain kita justru melanggar syariat dan ketentuan Allah <em>Ta’ala? </em>Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas sedikit tentang metode pengobatan ruqyah ditinjau dari Al Qur’an dan As-Sunnah.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/fiqih/pengobatan-dengan-ruqyah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

