La Ilaha Illallah, Antara yang Benar dan yang Salah

At Tauhid edisi III/03

Oleh: Boris Tanesia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, mengerjakan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Mekkah dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kelima hal inilah yang kita kenal dengan sebutan rukun islam. Di antara kelima rukun islam tersebut, rukun yang paling penting adalah rukun yang pertama yaitu dua kalimat syahadat. Rukun inilah yang melandasi diterimanya keempat rukun islam serta amalan-amalan ibadah yang lain. Rukun inilah yang menjadi dasar apakah seseorang itu islam atau tidak. Namun, amat sangat disayangkan, pemahaman yang salah tentang kalimat syahadat La Ilaha Illallah beredar di sekitar kaum muslimin. Baik itu kesalahan dalam masalah keyakinan maupun amal perbuatan. Bahkan, kesalahan dalam memahami syahadat ini dapat berakibat terjatuhnya seseorang ke dalam kesyirikan. Untuk itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui manakah yang benar dan yang salah dari syahadat tersebut agar kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dapat berakibat terjerumusnya kita ke dalam dosa syirik. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)

Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah :

1. La Ilaha Illallah = Tiada Tuhan Selain Allah ?

Di antara kesalahan dalam syahadat adalah memaknai La Ilaha Illallah dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Konsekuensi dari pemaknaan ini menyebabkan setiap orang yang mengakui Allah adalah Tuhan maka ia telah masuk islam. Padahal, kaum musyrik Quraisy pun mengakui bahwa Allah lah Tuhan mereka, Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan mereka, Allah lah yang memberi mereka rizki. Namun pengakuan mereka ini tidaklah menyebabkan mereka masuk islam. Mereka tetap dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memerangi mereka. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya, “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31).

2. La Ilaha Illallah = Tiada Sesembahan Selain Allah ?

Kesalahan lainnya mengenai syahadat La Ilaha Illallah adalah memaknainya dengan Tiada sesembahan selain Allah. Pemaknaan ini jelas-jelas menyimpang dari yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena, konsekuensi dari makna ini ialah bahwa seluruh sesembahan yang ada di muka bumi ini adalah Allah (sebagaimana pernyataan ‘Tidak ada Nabi kecuali laki-laki’ berarti ‘Semua Nabi adalah laki-laki’). Hal ini jelas-jelas mustahil, karena apakah mungkin Budha, Yesus, Dewa Wisnu, Dewa Krishna, Dewa Brahma, Dewi Sri dan sesembahan-sesembahan lainnya itu adalah Allah? Bahkan konsekuensi pemahaman ini lebih buruk dari pemahaman orang Nasrani yang menjadikan Nabi Isa sebagai Allah itu sendiri. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”.” (Al Maidah: 72).

Pengertian yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah

Lalu, apakah makna yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah? Makna syahadat La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Pengertian ini sangat sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Kita lihat bahwa sesungguhnya di dunia ini begitu banyak sesembahan yang disembah/diibadahi selain Allah. Namun semua sesembahan itu adalah batil. Sesembahan-sesembahan itu tidak layak dan tidak pantas untuk disembah/dibadahi. Hanya Allahlah satu-satunya yang berhak dan benar untuk disembah. Hal ini sebagaimana doa yang sering kita ucapkan berulang-ulang kali di dalam salat kita “Hanya kepada-Mulah kami beribadah”.

3. Tidak Ada Pembatal Syahadat La Ilaha Illallah Selain Pindah Agama?

Di antara kesalahan lainnya adalah pemahaman yang menyatakan bahwa seseorang tidak batal syahadatnya kecuali jika ia pindah agama dari islam ke agama selain islam. Atau dengan kata lain, apabila seseorang telah bersyahadat, maka ia tetap beragama islam kecuali ia pindah agama. Hal ini jelas salah, karena bukan hanya pindah agama saja yang dapat menyebabkan seseorang batal syahadatnya dan keluar dari islam. Banyak hal-hal lain yang dapat membatalkan syahadat seseorang, di antaranya adalah berdoa kepada wali atau orang saleh (serta perbuatan-perbuatan syirik lainnya), melakukan perbuatan sihir, tidak mengkafirkan orang kafir (seperti orang Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu dan lain sebagainya) atau ragu-ragu atas kekafiran mereka, membenci ajaran islam, menghina Allah, menghina Rasulullah, menghina ajaran islam, berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan mengamalkannya dan lain sebagainya. Orang yang melakukan salah satu dari pembatal syahadat tersebut dan tidak bertaubat, maka ia kafir. Meskipun ia salat, puasa, zakat, pergi haji serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.

4. Tahlilan

Di antara kesalahan lainnya yang tersebar di masyarakat berkaitan dengan kalimat La Ilaha Illallah adalah ritual tahlilan. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan masyarakat Indonesia untuk mengirim pahala bagi anggota keluarganya yang telah meninggal. Pada ritual ini biasanya diadakan jamuan makan yang diikuti dengan pembacaan Al Qur’an dan dzikir kalimat La Ilaha Illallah. Ritual ini merupakan ritual yang tidak ada landasannya dari islam. Ritual tahlilan ini meskipun sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, namun sama sekali tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak didapatkan satu pun hadits yang shohih yang menyatakan Rasulullah dan para sahabatnya pernah melakukan tahlilan untuk mengirimkan pahala kepada kerabat mereka yang telah meninggal. Padahal, semasa Rasulullah hidup, banyak keluarga beliau yang meninggal, tetapi beliau tidak pernah melakukan tahlilan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR Muslim). Bahkan sesungguhnya, ritual tahlilan merupakan modifikasi dari ritual masyarakat animisme dan dinamisme dahulu. Di mana mereka beranggapan bahwa apabila arwah telah keluar dari jasad maka arwah tersebut akan bergentayangan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu. Maka untuk mengusir arwah gentayangan terebut, mereka pun membaca mantra-mantra sesuai dengan keyakinan mereka. Dan ketika islam datang, maka mantra-mantra tersebut diganti dengan kalimat La Ilaha Illallah, sehingga ritual masyarakat animisme tersebut pun berubah menjadi ritual tahlilan. (Disarikan dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan & Selamatan karya Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib)

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai kesalahan seputar kalimat syahadat La Ilaha Illallah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illallah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita. Karena sesungguhnya barangsiapa yang membenarkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah hanya di dalam hati maka ia seperti paman Rasulullah Abu Thalib yang kafir karena enggan mengucapkan kalimat ini. Dan barangsiapa yang hanya mengucapkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah di lisan tanpa amalan hati dan badan sungguh ia bagaikan kaum munafik yang mengaku-ngaku islam. Wallahu a’lam. [Boris Tanesia]

16 comments

  1. ass.wr.wb
    cara memaknai dan cara menafsirkan sesuatu dalam islam dengan caranya sendiri, lihat perkembangan zaman islam dari jaman -ke jaman, larangan-larangan tersebut baru ada setealh ibnu taimiyah dan abdul wahab (wahabi), sebaiknya baca dan bertanya kenapa bisa begitu. ulama-ulama kita sebelum datangnya dua orang tersebut adalah ulama yang berkualitas dan tidak pernah memberikan pelarangan jika sesuatu itu bermanfaat. jika kamu berbuat sesuatu dalam agama membawa manfaat, maka manfaatnya untukmu dan orang yang mengamalkannya (hadis), sebaiknya hati-hati dengan mengikuti fatwa yang sebelumnya. kalau disebut bahwa tahlil tidak ada dalam islam, maka sholat tarawih berjamah tidak ada di masa rasul. penghimpunan hadis dan al qur’an tidak ada perintah. apakah salah mereka yang menyuruh. sebaiknya kita umat muslim harus tahu sejarah.jika kita hanya Allah dan rasulnya yang kita pegang..
    wass.wr.wb

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Sholat tarawih berjamaah ada dasar hukumnya dari Rasulullah SAW. Dahulu, beliau juga mengerjakannya secara berjamaah namun beliau menghentikannya (untuk melaksanakan berjamaah) karena takut dianggap wajib oleh umatnya nanti dan agar tidak memberatkan umatnya. Sholat tarawih berjamaah baru dihidupkan lagi pada masa khalifah Umar bin Khattab RA.

    Lalu mengenai penghimpunan Hadits…hmm dari yg saya tahu, Rasulullah melarang para sahabat menulis hadits karena agar tidak tertukar dengan Al Quran dan karena pada masa Rasul, hapalan para sahabat begitu kuat dan mereka mudah menyerap segala yg dikatakan Rasul. Lalu ketika Rasulullah SAW wafat, para sahabat berpencar2 untuk menyebarkan syiar Islam di berbagai daerah. Oleh karena itu, jika membaca riwayat para imam hadits, disebutkan bahwa hadits2 itu tersebar di berbagai daerah (tercerai-berai) dan para imam itu berkelana untuk mengumpulkan hadits dan menyaringnya. Hal ini dilakukan karena melihat betapa umat Islam pada waktu itu dan kedepannya memerlukan hadits yg shahih karena betapa banyaknya hadits palsu dan dhoif yg beredar, dan di masa itu bid’ah2 menjamur.

    Mengenai penghimpunan Al Qur’an, ini dimulai jaman khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA. Ketika itu ada perang (afwan, saya lupa perang apa), dalam perang tersebut banyak para sahabat dan org2 penghapal Quran yg mati syahid. Oleh karena itu, Abu Bakar berijtihad agar menghimpun Al Quran dari para sahabat yg masih tersisa dan menulisnya. Adapun yg diberi tugas ini adalah sahabat Zaid bin Tsabit RA. Beliau pun berkata, “memindahkan gunung Uhud adalah lebih ringan ketimbang tugas ini,” saking beratnya tugas tersebut. Lalu pada jaman khalifah Utsman bin Affan RA, barulah beliau menetapkan standar baku penulisan Al Quran dalam 1 standar agar kedepannya nanti umat Islam berdiri tegak pada 1 mushaf yg baku dan tidak tercerai-berai, oleh karena itu, mushaf Quran yg skrg kita pakai ini dinamakan mushaf Utsmani.

    Jadi, memang tidak ada perintah dari Rasulullah SAW, akan tetapi kawan, inilah rahmat ALLAH SWT untuk menyatukan umat Islam dan mendekatkan umat Islam pada Sunnah Nabi Muhammad SAW, dan agar umat ini tidak tercerai-berai.

    Lalu mengenai tahlilan, hmm saya tidak akan terburu2 memvonis bid’ah karena saya bukan ulama. Namun, 1 hal yg saya yakini, bila Rasulullah SAW dan para sahabat tidak melakukannya, untuk apa kita repot2 dan membuat2 hal2 yg baru? Mereka adalah org2 yg paling paham tentang bagaimana cara bertauhid yg benar, atau apakah kita lebih pintar dr mereka? Jika dikatakan, “berarti saudara memvonis tahlilan itu tidak ada manfaatnya?”. Tunggu dulu kawan, tahlilan adalah sesuatu yg sifatnya ibadah sedangkan ibadah itu kaidahnya harus tauqifiyah (mengikuti dalil). Jika menyalahi dalil, maka DIKHAWATIRKAN akan ditolak ALLAH SWT karena pada dasarnya semua ibadah adalah HARAM KECUALI BILA ADA TUNTUNANNYA DARI RASULULLAH SAW. Jadi, buat apa repot2 melakukan sesuatu yg tidak ada tuntunannya? Bila ingin bertahlil, tahlillah sehabis sholat (dzikir) dengan suara yg pelan dan khusyuk, sesungguhnya ALLAH SWT lebih menyukai org yg bermunajat padaNya dengan suara yg rendah.

    Wallahu’alam. Wallahu waliyut taufiq

    Demikian, afwan klo ada kata2 yg kurang berkenan.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

  3. Assalamualaikum ustadz
    Saya baru2 ini gemar sekali mendalami ilmu agama,moga Allah membimbing saya mnuju jln’a yg lurus
    saya ingin brtanya
    1.Mengapa jika kaum quraisy membenarkan bahwa Allah lah tuhan’a,mreka malah mnyembah berhala?
    2.Allah kn sudah mnetapkn batas usia qt,dlm ktetapan’a sjak qt msh dlm kandungan.Lalu utk aph qt brdoa umur panjang?
    Mohon bimbingan’a ya ustadz,syukron

  4. Karena menurut kaum Quraisy dengan menjadikan berhala sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah akan lebih mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

    Berdoa umur panjang agar bisa lebih banyak berbuat ketaatan dan bertaubat dari maksiat. Bukan semata-mata panjang umurnya. Batas usia sudah ditetapkan, kalau akan ditambah pun itu sudah ditetapkan, seorang berdoa pun sudah ditetapkan, jadi tidak ada pertentangan. Kita menolak takdir dengan takdir. Wallahu a’lam.

  5. Mksh atas jwbn’a tp saya mau tny lagi
    Lalu mengapa mereka memeranginya?Dan brusaha keras supaya berpaling dariNya?Dgn mnyiksa’a agar tdk mengucapkan kalimat tauhid?
    Apakah Nabi2 terdahulu jg melakukan shlt?Bknkan printah shlt bru dberikan stlah Rosul Isra Mi’raj?

  6. islam adalah sunnah yakni seluruh perikehidupan nabi muhammad saw (keyakinan, amal, akhlak,dll) yg merupakan penerapan, tafsir, penjelasan dari al-qur’an dalam perkara agama atas petunjuk langsung dari Alloh…sesuatu yg tidak ada di dalam sunnah tidak bisa dinisbahkan kepada islam…dan sesuatu yg tidak ada di dalam sunnah dinamakan bid’ah

  7. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Sebelumnya sya minta maaf,
    Tlong pertanyaan ini di carikan jawabannya, karena aq sendiri masih belum tahu….
    Apakah boleh melafaldkan lafad Lailaha tanpa lafadl illallah (apakah ini d namakan memutus kalimat atau tidak).
    dan bolehkah lelafadlkan lafadl illallah tanpa lafadl lailaha (apakah ini juga d namakan memutus kalimat atau tida).
    dan pa pengaruhnya kalau qta memutus kalimat lailaha illallah.

  8. #Miftahul Ulum
    Wa’alaikumussalam, jika diputus demikian maknanya jadi buruk. “Lailaha” artinya tidak ada yang berhak disembah.

  9. Tahlil, Laa Ilaaha Illallah, adalah sebuah deklarasi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah swt. Dia adalah kalimat tauhid yang merupa kan sebaik-baik dzikir kepada Allah swt. Kalimat ini merupakan bentuk penafian sifat-sifat uluhiyah dari makhluk dan penetapannya atas Allah swt. karena memang Dialah Yang berhak untuk itu semua, Dialah yang pantas untuk menyandangnya, Dialah yang memiliki itu semua.

  10. Saya akan tetap tahlilan, persiapan khawatir nyampe, dari pada ta ada yg bantu, jadi lebih baik di persiapkan

  11. Justru anda semestinya khawatir amalan tersebut dilarang agama. Banyak amalan lain yang diajarkan syariat yang bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal tanpa harus membuat-buat ibadah baru dalam agama.

  12. Assalaamu’alaykum. Sy minta izin men-copas artikel di atas. Jazaakumulloohu khoir

  13. Assalaamu’alaykum, Akhi. Saya minta izin membagi artikel di atas. Jazaakalloohu khoyr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *