<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kaum Kafir Quraisy</title>
	<atom:link href="http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/kaum-kafir-quraisy/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/kaum-kafir-quraisy</link>
	<description>Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 05:31:19 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
	<item>
		<title>By: agus</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/kaum-kafir-quraisy/comment-page-1#comment-493</link>
		<dc:creator>agus</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 08:31:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=77#comment-493</guid>
		<description>Mohon ijin akhi Ari Wahyudi untuk menambah sedikit, mohon dikoreksi kalau ada kesalahan, maklum ilmu masih terbatas. 
Tidak hanya orang Quraisy yang mengenal Allah tapi setiap orang bahkan orang Amerika, Rusia yang atheis atau Firaun sekalipun mengenal Allah (QS 17:102), dengan tingkat kesadaran dan pemahaman  yang berbeda-beda, hanya tinggal mereka membenarkan kata hatinya atau mendustakan. Karena mengenal rububiyah adalah fitroh/naturalnya manusia. Karena tanpa itu Allah tidak punya alasan yang kuat untuk menghukum manusia kalau mereka tidak menyembah Allah semata. Kaum Nuh, Hud dan sebagainya mengenal Allah, bahkan mereka berkata “mereka (Rosul-rosul) hanya mengada-adakan saja terhadap Allah atau berkata kalau Allah menghendaki akan diturunkan malaikat”, dan lain2 perkataan yang banyak diulang2 dalam quran. Karena seperti kita tahu, mengenal rububiyah adalah fitroh manusia seperti dalam QS 7:172-173:
 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &quot;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&quot; Mereka menjawab: &quot;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.&quot; (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &quot;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&quot;, atau agar kamu tidak mengatakan: &quot;Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu”.         
Sehingga Allah punya alasan yang kuat untuk menghukum mereka walaupun mereka dibesarkan oleh orang tua yang musyrik. Dan mereka tidak punya alasan lain untuk mengelak. 
Seperti juga kita tidak bisa menghukum/mengutuk orang yang durhaka kepada orang tua karena kita sangat yakin mereka mengenal orang tua mereka sendiri. Ketika kita tanya orang durhaka itu “siapa yang melahirkan kamu” mereka pasti menjawab “ibuku”. Ketika ditanya lagi “siapa yang memeliharamu”  mereka akan menjawan “ibu dan bapakku” dan kita bertanya lagi “mengapa kamu durhaka pada orang tuamu?”. Kita bisa menduga mereka durhaka karena orang durhaka ini hanya tahu siapa orang tuanya dan siapa yang memeliharanya, tetapi dia tidak memahami bagaimana perjuangan dan pengorbanan orang tua ketika memelihara dia. Jadi orang musyrik sudah pasti mengenal Allah siapapun orang musyrik itu baik jaman sekarang atau jaman dahulu. Ketika dia ditanya siapa yang menciptakan dan memelihara dia maka dia akan menjawab Allah, maka mengapa mereka durhaka/menghianati Allah dengan menyembah yang lain. Maka durhaka pada orang tua merupakan dosa yang sangat besar baik di hadapan Allah atau  pandangan masyarakat manusia pada umumnya apapun agamanya. 
Sehingga dengan adanya permisalan hubungan kita dan orang tua kita maka kita bisa memahami dengan mudah bahwa tarbiyah orang tua merupakan hal yang harus kita bayar dengan berbakti dan menghormati mereka. Meskipun kita tahu  bahwa tarbiyah orang tua sebenarnya hanya terbatas pada hal2 yang sangat kecil dibandingkan tarbiyah Allah tapi mendurhakai orang tua merupakan dosa yang sangat besar.Sehinggal durhaka kepada orang tua saja bisa mengakibatkan kemarahan Allah, maka bisa dibayangkan bagaimana kemarahan Allah kalau kita mendustakan tarbiyah Allah ini. Dan perintah birrul walidain banyak disebut dalam quran bahkan diletakkan setelah perintah menyembah Allah seperti dalam QS 17:23 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. 
Dari hal tersebut di atas kita bisa menyimpulkan bahwa orang musyrik hanya mengetahui rububiyah tapi tidak memahami rububiyah dengan baik, kalau dia tahu dengan pasti dan memahami secara terperinci tauhid rububiyah, maka dia akan bertauhid uluhiyah. Karena kalau kita paham dan menghayati  bagaimana penderitaan/pengorbanan ibu ketika melahirkan, menyusui dan memelihara kita maka kita akan sukarela berbakti pada orang tua, bukannya mendurhakainya. 
Begitu juga bila berada dalam keadaan genting yang mengancam jiwanya maka orang musyrik segera menyeru Allah dengan semurni2 nya. Hal ini terbukti ketika saya melihat film dokumenter (real tape) seorang Amerika yang berlayar solo di laut, maka ketika terkena badai yang sangat dahsyat dan dia yakin dia akan mati saat itu maka dia berdoa dengan semurni-murninya kepada tuhan untuk menolong dia. Meskipun dia tidak menyebut kata “Allah” karena kita tahu nama Allah adalah salah satu nama dari asmaul husna yang dikenal dalam Islam dari nama pencipta kita yang mungkin dia tidak tahu. Tapi kita tahu yang dituju oleh orang Amerika ini adalah Dzat yang memiliki kekuatan yang besar, yang menguasai jiwa dia, dan yang berkuasa menghentikan badai yang menimpanya. Dan yang pasti dia tidak akan membayangkan patung2 di gereja atau bahkan Yesus, tapi satu Dzat yang sangat besar dan mengontrol angin yang mengombang-ambingkannya.
Dan banyak lagi film2 dokumenter tentang keadaan genting seperti ini, seperti air crash, bencana alam dan peristiwa genting lainnya. Jadi dari hal ini bisa disimpulkan bahwa orang musyrik dahulu tidak lebih baik dari keadaan musyrik sekarang, dengan bukti banyaknya film dokumenter yang menceritakan keadaan itu yang membuktikan kebenaran quran. Waallahu a’lam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon ijin akhi Ari Wahyudi untuk menambah sedikit, mohon dikoreksi kalau ada kesalahan, maklum ilmu masih terbatas.<br />
Tidak hanya orang Quraisy yang mengenal Allah tapi setiap orang bahkan orang Amerika, Rusia yang atheis atau Firaun sekalipun mengenal Allah (QS 17:102), dengan tingkat kesadaran dan pemahaman  yang berbeda-beda, hanya tinggal mereka membenarkan kata hatinya atau mendustakan. Karena mengenal rububiyah adalah fitroh/naturalnya manusia. Karena tanpa itu Allah tidak punya alasan yang kuat untuk menghukum manusia kalau mereka tidak menyembah Allah semata. Kaum Nuh, Hud dan sebagainya mengenal Allah, bahkan mereka berkata “mereka (Rosul-rosul) hanya mengada-adakan saja terhadap Allah atau berkata kalau Allah menghendaki akan diturunkan malaikat”, dan lain2 perkataan yang banyak diulang2 dalam quran. Karena seperti kita tahu, mengenal rububiyah adalah fitroh manusia seperti dalam QS 7:172-173:<br />
 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.&#8221; (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;, atau agar kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu”.<br />
Sehingga Allah punya alasan yang kuat untuk menghukum mereka walaupun mereka dibesarkan oleh orang tua yang musyrik. Dan mereka tidak punya alasan lain untuk mengelak.<br />
Seperti juga kita tidak bisa menghukum/mengutuk orang yang durhaka kepada orang tua karena kita sangat yakin mereka mengenal orang tua mereka sendiri. Ketika kita tanya orang durhaka itu “siapa yang melahirkan kamu” mereka pasti menjawab “ibuku”. Ketika ditanya lagi “siapa yang memeliharamu”  mereka akan menjawan “ibu dan bapakku” dan kita bertanya lagi “mengapa kamu durhaka pada orang tuamu?”. Kita bisa menduga mereka durhaka karena orang durhaka ini hanya tahu siapa orang tuanya dan siapa yang memeliharanya, tetapi dia tidak memahami bagaimana perjuangan dan pengorbanan orang tua ketika memelihara dia. Jadi orang musyrik sudah pasti mengenal Allah siapapun orang musyrik itu baik jaman sekarang atau jaman dahulu. Ketika dia ditanya siapa yang menciptakan dan memelihara dia maka dia akan menjawab Allah, maka mengapa mereka durhaka/menghianati Allah dengan menyembah yang lain. Maka durhaka pada orang tua merupakan dosa yang sangat besar baik di hadapan Allah atau  pandangan masyarakat manusia pada umumnya apapun agamanya.<br />
Sehingga dengan adanya permisalan hubungan kita dan orang tua kita maka kita bisa memahami dengan mudah bahwa tarbiyah orang tua merupakan hal yang harus kita bayar dengan berbakti dan menghormati mereka. Meskipun kita tahu  bahwa tarbiyah orang tua sebenarnya hanya terbatas pada hal2 yang sangat kecil dibandingkan tarbiyah Allah tapi mendurhakai orang tua merupakan dosa yang sangat besar.Sehinggal durhaka kepada orang tua saja bisa mengakibatkan kemarahan Allah, maka bisa dibayangkan bagaimana kemarahan Allah kalau kita mendustakan tarbiyah Allah ini. Dan perintah birrul walidain banyak disebut dalam quran bahkan diletakkan setelah perintah menyembah Allah seperti dalam QS 17:23 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.<br />
Dari hal tersebut di atas kita bisa menyimpulkan bahwa orang musyrik hanya mengetahui rububiyah tapi tidak memahami rububiyah dengan baik, kalau dia tahu dengan pasti dan memahami secara terperinci tauhid rububiyah, maka dia akan bertauhid uluhiyah. Karena kalau kita paham dan menghayati  bagaimana penderitaan/pengorbanan ibu ketika melahirkan, menyusui dan memelihara kita maka kita akan sukarela berbakti pada orang tua, bukannya mendurhakainya.<br />
Begitu juga bila berada dalam keadaan genting yang mengancam jiwanya maka orang musyrik segera menyeru Allah dengan semurni2 nya. Hal ini terbukti ketika saya melihat film dokumenter (real tape) seorang Amerika yang berlayar solo di laut, maka ketika terkena badai yang sangat dahsyat dan dia yakin dia akan mati saat itu maka dia berdoa dengan semurni-murninya kepada tuhan untuk menolong dia. Meskipun dia tidak menyebut kata “Allah” karena kita tahu nama Allah adalah salah satu nama dari asmaul husna yang dikenal dalam Islam dari nama pencipta kita yang mungkin dia tidak tahu. Tapi kita tahu yang dituju oleh orang Amerika ini adalah Dzat yang memiliki kekuatan yang besar, yang menguasai jiwa dia, dan yang berkuasa menghentikan badai yang menimpanya. Dan yang pasti dia tidak akan membayangkan patung2 di gereja atau bahkan Yesus, tapi satu Dzat yang sangat besar dan mengontrol angin yang mengombang-ambingkannya.<br />
Dan banyak lagi film2 dokumenter tentang keadaan genting seperti ini, seperti air crash, bencana alam dan peristiwa genting lainnya. Jadi dari hal ini bisa disimpulkan bahwa orang musyrik dahulu tidak lebih baik dari keadaan musyrik sekarang, dengan bukti banyaknya film dokumenter yang menceritakan keadaan itu yang membuktikan kebenaran quran. Waallahu a’lam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

