<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Apakah Allah Membutuhkan Perantara?</title>
	<atom:link href="http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara</link>
	<description>Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 05:31:19 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
	<item>
		<title>By: Yulian Purnama</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1827</link>
		<dc:creator>Yulian Purnama</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 13:47:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1827</guid>
		<description>#kanjeng 
Semoga Allah merahmati anda, rupanya anda yang belum memahami dengan baik artikel di atas, mohon dibaca kembali dengan tenang dan pikiran yang jernih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#kanjeng<br />
Semoga Allah merahmati anda, rupanya anda yang belum memahami dengan baik artikel di atas, mohon dibaca kembali dengan tenang dan pikiran yang jernih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kanjeng mas messi</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1824</link>
		<dc:creator>kanjeng mas messi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 10:04:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1824</guid>
		<description>Kesalahan pokok para anti tawassul yg mengganggap tawassul kepada Nabi saw dan orang2 shaleh yg telah wafat sebagai prilaku syirik adalah disebabkan:

(1) Anggapan tawassul ditujukan kepada mayit yg berupa jasad telah mati.

Padahal tawassul ditujukan kepada ruh2 mereka. Ruh Nabi saw dan orang2 shaleh tetaplah hidup dan sama kedudukannya dgn semasa mrk hidup.  
Bukti: bacaan tasyahud akhir shalat, yakni salam kepada Nabi saw dan orang2 shaleh menunjukkan mrk msh mampu mendengar dan merespon.

Jika kepada Allah swt yg Maha Ghaib kita bisa berkomunikasi, maka apalagi pada ciptaan-Nya? 

(2) Berkeyakinan bolehnya bertawassul kepada orang shaleh yg msh hidup, dan syirik jika kepada yg telah meninggal.

Padahal meminta kepada selain Allah swt dgn beranggapan dan berkeyakinan bahwa seseorang tempat meminta memiliki kekuasaan dan kemandirian penuh dan tak bergantung pada kekuasaan Allah swt, adalah sebuah prilaku syirik.  Dan perkara ini tdk mengenal seseorang itu msh hidup ataukah sudah meninggal.  

Jika kita meminta kepada mereka yg msh hidup dgn keyakinan seperti itu, maka itu adalah syirik.  Sebaliknya meminta kepada ruh Nabi saw dan orang2 shaleh dgn tetap berkeyakinan bahwa mereka pun menyerahkannya kepada kekuasaan Allah swt, maka sama sekali bukan syirik.

Kelirukah pernyataan saya?

Sudahkah hal ini dipahami?

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kesalahan pokok para anti tawassul yg mengganggap tawassul kepada Nabi saw dan orang2 shaleh yg telah wafat sebagai prilaku syirik adalah disebabkan:</p>
<p>(1) Anggapan tawassul ditujukan kepada mayit yg berupa jasad telah mati.</p>
<p>Padahal tawassul ditujukan kepada ruh2 mereka. Ruh Nabi saw dan orang2 shaleh tetaplah hidup dan sama kedudukannya dgn semasa mrk hidup.<br />
Bukti: bacaan tasyahud akhir shalat, yakni salam kepada Nabi saw dan orang2 shaleh menunjukkan mrk msh mampu mendengar dan merespon.</p>
<p>Jika kepada Allah swt yg Maha Ghaib kita bisa berkomunikasi, maka apalagi pada ciptaan-Nya? </p>
<p>(2) Berkeyakinan bolehnya bertawassul kepada orang shaleh yg msh hidup, dan syirik jika kepada yg telah meninggal.</p>
<p>Padahal meminta kepada selain Allah swt dgn beranggapan dan berkeyakinan bahwa seseorang tempat meminta memiliki kekuasaan dan kemandirian penuh dan tak bergantung pada kekuasaan Allah swt, adalah sebuah prilaku syirik.  Dan perkara ini tdk mengenal seseorang itu msh hidup ataukah sudah meninggal.  </p>
<p>Jika kita meminta kepada mereka yg msh hidup dgn keyakinan seperti itu, maka itu adalah syirik.  Sebaliknya meminta kepada ruh Nabi saw dan orang2 shaleh dgn tetap berkeyakinan bahwa mereka pun menyerahkannya kepada kekuasaan Allah swt, maka sama sekali bukan syirik.</p>
<p>Kelirukah pernyataan saya?</p>
<p>Sudahkah hal ini dipahami?</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hamba yg dho'if</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1413</link>
		<dc:creator>hamba yg dho'if</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 05:55:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1413</guid>
		<description>@saudaraku ahmad zen,

nampaknya susah jika hati telah tercampuri dengan rasa permusuhan terhadap wahabi, karena belum saja antum membaca artikel dengan seksama, namun antum sudah mendeklarasikan bahwa wahabi memusyrikkan org yg bertawassul kepada selain Allah.

Mas, mas, mbok ya klo mau komen itu dibaca dulu artikelnya dengan tenang. Blm2 kok sudah memvonis. Hati2 dalam berucap mas, salah2 tuduhan itu bisa berbalik pada antum sendiri.

Semoga Allah Ta&#039;ala melembutkan hati antum</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@saudaraku ahmad zen,</p>
<p>nampaknya susah jika hati telah tercampuri dengan rasa permusuhan terhadap wahabi, karena belum saja antum membaca artikel dengan seksama, namun antum sudah mendeklarasikan bahwa wahabi memusyrikkan org yg bertawassul kepada selain Allah.</p>
<p>Mas, mas, mbok ya klo mau komen itu dibaca dulu artikelnya dengan tenang. Blm2 kok sudah memvonis. Hati2 dalam berucap mas, salah2 tuduhan itu bisa berbalik pada antum sendiri.</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala melembutkan hati antum</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: heri</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1411</link>
		<dc:creator>heri</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 02:58:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1411</guid>
		<description>@ahmad zen
coba antum baca dengan teliti dan pahami poin &quot;Tawassul, yang Terlarang dan yang Dibolehkan&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ahmad zen<br />
coba antum baca dengan teliti dan pahami poin &#8220;Tawassul, yang Terlarang dan yang Dibolehkan&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ahmad Zen</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1409</link>
		<dc:creator>Ahmad Zen</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 00:41:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1409</guid>
		<description>Tawassul adalah diajarkan oleh nabi saw tawassul pada beliau saw dan pada amal shalih dan pada orang shalih, demikian riwayat shahih Bukhari dari Umar bin Khattab ra dan lainnya.

Lalu bagaimana dg Abubakar shiddiq ra bicara pada jenazah Rasul saw setelah Rasul saw wafat (shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik

juga Umar bin Khattab ra wasiat minta dikuburkan dekat kubur nabi saw seraya berkata : “Tidak ada yg lebih kudambakan selain pembaringan disebelah nabi itu”, (shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik

para sahabat pun semuanya akan divonis musyrik, karena berebutan potongan rambut Rasul saw, (shahih Bukhari)

dan Asma binti Abubakar shiddiq ra pun akan difitnah musyrik karena bila ada yg sakit ia membasuh jubah nabi saw lalu airnya diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim)

Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194)

Hanya wahabi saja yg mengingkarinya dari dangkalnya pemahaman mereka pada tauhid dan ilmu hadits..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tawassul adalah diajarkan oleh nabi saw tawassul pada beliau saw dan pada amal shalih dan pada orang shalih, demikian riwayat shahih Bukhari dari Umar bin Khattab ra dan lainnya.</p>
<p>Lalu bagaimana dg Abubakar shiddiq ra bicara pada jenazah Rasul saw setelah Rasul saw wafat (shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik</p>
<p>juga Umar bin Khattab ra wasiat minta dikuburkan dekat kubur nabi saw seraya berkata : “Tidak ada yg lebih kudambakan selain pembaringan disebelah nabi itu”, (shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik</p>
<p>para sahabat pun semuanya akan divonis musyrik, karena berebutan potongan rambut Rasul saw, (shahih Bukhari)</p>
<p>dan Asma binti Abubakar shiddiq ra pun akan difitnah musyrik karena bila ada yg sakit ia membasuh jubah nabi saw lalu airnya diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim)</p>
<p>Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194)</p>
<p>Hanya wahabi saja yg mengingkarinya dari dangkalnya pemahaman mereka pada tauhid dan ilmu hadits..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Syeikh Koji</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1405</link>
		<dc:creator>Syeikh Koji</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 16:03:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1405</guid>
		<description>Maaf sblmnya, sy bukan ustad tp cm pengen berbagi uneg2 aja sm agan2 yg disini [bosen nga*kus terus...] smg berkenan ya gan &gt;.&lt;

@armand: Stahu saya, syirik itu adlh menduakan Alloh dalam hal Ibadah.
Bukannya, Do&#039;a itu adlh slh satu bntuk ibadah gan? sedangkan tawassul ituh bentuk permintaan sesuatu (seseorang)utk mjd perantara dalam do&#039;a itu kan gan? syarat sesuatu itu boleh dijadikan perantara, secara logis dia harus dipandang mampu gan, mampu dalam menjadi perantara do&#039;a itu yaitu dalam wujud mendo&#039;akan atw memintakan/memohonkan sesuatu kpd Alloh. Lha klo orang yg udah meninggal apa bisa diminta bantuannya utk mendo&#039;akan/memintakan permohonan kpd Alloh??? meskipun beliau yg meninggal ini orang shaleh atau Rasul sekalipun.
Toh kalopun seandainya beliau yg udah meninggal ini bs dimintai perantara, bukankah meminta langsung kpd Alloh dengan perantar nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yg Maha-Maha itu tdk jauh lbh baik??? Malah kita langsung face to face dengan Yang Maha Mengabulkan do&#039;a.

Itu kalo mnrt saya loh gan mnrt logika sewajarnya seharusnya sih gt, c0z-nya saya jg msh awam klo soal yg berat2 bginian apalagi klo ditanya dalil-dalilnya saya gak apal gan, maklum saya cm lulusan ka*kus gan sedangkan agan2 disini pasti lulusan pondok semua... :malu :nohope :batabig

@Zen al&#039;faqir: loh knp tidak??? Masih inget kan dgn kisahnya Maryam? beliau ini adalah org yg ahli ibadah, dlm slh satu ayat al-Qur&#039;an (ayat brp surat apa? sy lp gan, maklum yg sy inget cm Pertamaxxx ama cendol ijo gan) dikisahkan kalo Alloh memberikan makanan buah-buahan langsung kpd Maryam, dr surga lho gan, beneran pdhl Maryam dlm keadaan khusuk beribadah dan gak ada org lain yg masuk ketempat ibadahnya membawa makanan, gak percaya gan???
Knp koq bs bgt? agan tahu? c0z Maryam itu org yg ikhlaaasss lillahita&#039;ala dlm beribadah kpd Alloh. Lha sdngkan kita? msk maw makan minta langsung kpd Alloh, gak maw mengambil sebab musabab datangnya makanan itu dulu?
Ya kita minta langsung kpd Alloh (lewat do&#039;a, apa agan gak pernah berdoa?) tp kan ttp jg hrs disertai ikhtiar usaha.

Yang jelas pertanyaan agan Zen ini klo mnrt sy krng pas klo di bandingkan dgn perantara dlm tawassul.
Klo dalam tawassul it perantaranya dlm arah vertikal ke atas (hamba ke Tuhan) jd yg minta perantara adlh si hamba itu, jd harus memenuhi persyaratan n kondisi hak-hak Alloh.
Klo perantara dlm mslh makanan (rezeki) itu arahnya vertikal ke bawah (Tuhan ke hamba) yg menjadikan perantar itu Tuhan ya terserah Tuhan maw siapa/apa yg dijadikan perantara atau tanpa perantara dlm ngasih makanan td yg penting manusia diperintahkan utk mengambil sebab dtngnya makanan itu...

semoga igauan saya ini gak bikin agan2 disini tambah :mumet, klo :mumet mhn jgn di :batabig klo berkenan mohon dikasih :cendolbig

:iloveIslam :iloveIndonesia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf sblmnya, sy bukan ustad tp cm pengen berbagi uneg2 aja sm agan2 yg disini [bosen nga*kus terus...] smg berkenan ya gan &gt;.&lt;</p>
<p>@armand: Stahu saya, syirik itu adlh menduakan Alloh dalam hal Ibadah.<br />
Bukannya, Do&#8217;a itu adlh slh satu bntuk ibadah gan? sedangkan tawassul ituh bentuk permintaan sesuatu (seseorang)utk mjd perantara dalam do&#8217;a itu kan gan? syarat sesuatu itu boleh dijadikan perantara, secara logis dia harus dipandang mampu gan, mampu dalam menjadi perantara do&#8217;a itu yaitu dalam wujud mendo&#8217;akan atw memintakan/memohonkan sesuatu kpd Alloh. Lha klo orang yg udah meninggal apa bisa diminta bantuannya utk mendo&#8217;akan/memintakan permohonan kpd Alloh??? meskipun beliau yg meninggal ini orang shaleh atau Rasul sekalipun.<br />
Toh kalopun seandainya beliau yg udah meninggal ini bs dimintai perantara, bukankah meminta langsung kpd Alloh dengan perantar nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yg Maha-Maha itu tdk jauh lbh baik??? Malah kita langsung face to face dengan Yang Maha Mengabulkan do&#8217;a.</p>
<p>Itu kalo mnrt saya loh gan mnrt logika sewajarnya seharusnya sih gt, c0z-nya saya jg msh awam klo soal yg berat2 bginian apalagi klo ditanya dalil-dalilnya saya gak apal gan, maklum saya cm lulusan ka*kus gan sedangkan agan2 disini pasti lulusan pondok semua&#8230; :malu :nohope :batabig</p>
<p>@Zen al&#8217;faqir: loh knp tidak??? Masih inget kan dgn kisahnya Maryam? beliau ini adalah org yg ahli ibadah, dlm slh satu ayat al-Qur&#8217;an (ayat brp surat apa? sy lp gan, maklum yg sy inget cm Pertamaxxx ama cendol ijo gan) dikisahkan kalo Alloh memberikan makanan buah-buahan langsung kpd Maryam, dr surga lho gan, beneran pdhl Maryam dlm keadaan khusuk beribadah dan gak ada org lain yg masuk ketempat ibadahnya membawa makanan, gak percaya gan???<br />
Knp koq bs bgt? agan tahu? c0z Maryam itu org yg ikhlaaasss lillahita&#8217;ala dlm beribadah kpd Alloh. Lha sdngkan kita? msk maw makan minta langsung kpd Alloh, gak maw mengambil sebab musabab datangnya makanan itu dulu?<br />
Ya kita minta langsung kpd Alloh (lewat do&#8217;a, apa agan gak pernah berdoa?) tp kan ttp jg hrs disertai ikhtiar usaha.</p>
<p>Yang jelas pertanyaan agan Zen ini klo mnrt sy krng pas klo di bandingkan dgn perantara dlm tawassul.<br />
Klo dalam tawassul it perantaranya dlm arah vertikal ke atas (hamba ke Tuhan) jd yg minta perantara adlh si hamba itu, jd harus memenuhi persyaratan n kondisi hak-hak Alloh.<br />
Klo perantara dlm mslh makanan (rezeki) itu arahnya vertikal ke bawah (Tuhan ke hamba) yg menjadikan perantar itu Tuhan ya terserah Tuhan maw siapa/apa yg dijadikan perantara atau tanpa perantara dlm ngasih makanan td yg penting manusia diperintahkan utk mengambil sebab dtngnya makanan itu&#8230;</p>
<p>semoga igauan saya ini gak bikin agan2 disini tambah :mumet, klo :mumet mhn jgn di :batabig klo berkenan mohon dikasih :cendolbig</p>
<p>:iloveIslam :iloveIndonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zen al'faqir</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/at-tauhid-tahun-iii/apakah-allah-membutuhkan-perantara/comment-page-1#comment-1317</link>
		<dc:creator>Zen al'faqir</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 13:10:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=97#comment-1317</guid>
		<description>Wah, berarti kalo kita mau makan saja, mending langsung minta ke Allah ya ? Trus makanan yg kita minta tadi serta merta langsung ada di depan kita tanpa ada (perantara) yg menolong mengambilkan makanan tadi ?? Seperti itu kah ya sheikh ??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, berarti kalo kita mau makan saja, mending langsung minta ke Allah ya ? Trus makanan yg kita minta tadi serta merta langsung ada di depan kita tanpa ada (perantara) yg menolong mengambilkan makanan tadi ?? Seperti itu kah ya sheikh ??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

