Seindah Pertolongan-Nya

Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa Ba’du.

Pertolongan Allah itu begitu istimewa. Dengan pertolongan-Nya, sebab-sebab yang  semula kelihatan ringan akan menjadi dahsyat hasilnya.

Dengan pertolongan-Nya, tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam  dapat membelah lautan.

Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy Syu’ara:63)

Dengan pertolongan-Nya, Maryam mampu membuat buah kurma berjatuhan, hanya dengan sekedar menggoyang-goyangkan pohon kurma yang kokoh menjulang. Padahal ketika itu ia dalam kondisi lelah tak berdaya, saat menjelang  prosesi melahirkan Isa ‘alaihissalam.

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam:25)

Dengan pertolongan-Nya jua, tiga ratusan pasukan kaum muslimin Perang Badar dapat mengalahkan kaum musyrikin yang terdiri dari seribu pasukan.

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran:123)

Dengan pertolongan-Nya pula, seorang hamba dapat dengan mudah melaksanakan ibadah. Oleh karenanya, kita harus rutin dan giat meminta pertolongan Allah ta’ala agar kita dimudahkan dalam mengerjakan amal ibadah. Sudahkah?

 

Kita Ini Hamba yang Lemah

Kita ini adalah hamba yang lemah. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali jika diberikan pertolongan-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah hendak memberi keringan kepadamu, karena manusia itu diciptakan dalam sifat yang lemah.” (QS. An Nisa:8).

Setelah berpanjang lebar menjelaskan tentang adanya keringanan dari Allah yang terdapat pada awal ayat ini, kemudian Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menerangkan terkait kelemahan manusia. Kata beliau, “Manusia itu lemah dari berbagai sisi. Lemah dari postur tubuhnya, lemah dalam kehendak, lemah dalam tekad, lemah dalam keimanan, dan lemah dalam kesabaran. Lantas Allah memberikan keringanan atas dasar kelemahan padanya.” (Taisir Karimir Rahman, Hal. 177)

Kita sebagai makhluk, tentu sangat butuh dengan pertolongan-Nya. Sebab Allah itu Maha Kaya dan Maha Kuasa. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS. Fathir : 15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam tiap aktivitas geraknya dan juga diamnya. Sungguh Allah tidak membutuhkan mereka sedikitpun. Oleh karena itu, Allah nyatakan bahwa Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/316)

 

Dalam Beribadah, Kita Juga Butuh Pertolongan-Nya

Kalaulah bukan karena pertolongan Allah, tentulah kita tidak akan dan dapat mengerjakan amal ketaatan. Karena kita inilah hamba-hamba yang syiarnya kalimat hauqolah : Laa haula wa laa quwwata illa billah. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

Imam An Nawawi Al Bantani rahimahullah menjelaskan makna dari kalimat hauqolah ini, “Tidaklah seorang hamba terhindar dari maksiat melainkan karena Allah dan tiada kekuatan untuk mengerjakan amal ketaatan melainkan karena pertolongan Allah.” (Kasyifatus Saja’ Syarh Safinatun Naja, Hal. 8)

Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan kepada sahabat Muadz Bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, untuk rutin memohon pertolongan Allah agar bisa beribadah kepada-Nya. Nabi ajarkan kita sebuah doa: “Allahumma A’innii ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika” (Ya Allah, Tolonglah aku untuk bisa berzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa setiap ibadah yang dilakukan merupakan bentuk pertolongan Allah ta’ala. Sebab tidak akan terlaksana suatu ibadah tanpa ada pertolongan dari-Nya. Lantas, sudah seberapa rutin kita memohon pertolongan Allah ta’ala…?

 

Antara Ibadah dan Pertolongan Allah

Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, adalah ayat yang sering kita baca, namun ternyata menyimpan makna dan hikmah yang berlimpah. Ibnul Qayyim sampai menyusun buku setebal tiga Jilid yang berjudul Madarijus Salikin, hanya untuk menjelaskan hikmah dan faedah yang terkandung di dalam ayat ini. Mari sejenak kita renungi salah satu pelajaran yang terkandung didalamnya.

Dalam ayat ini, disandingkan dua kata, yakni “Na’budu” dan “Nasta’in”, yang artinya : “Kami beribadah” dan “Kami memohon pertolongan”. Sejatiahnya, memohon pertolongan kepada Allah (isti’anah) merupakan diantara salah satu bentuk ibadah. Lalu kenapa disebutkan isti’anah disini secara khusus, setelah sebelumnya disebutkan kata ibadah secara umum?

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan, “Disebutkannya isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) setelah ibadah, -yang  padahal sebenarnya isti’anah merupakan bagian dari ibadah itu sendiri-, adalah menegaskan bahwa betapa butuhnya seorang hamba kepada pertolongan Allah ta’ala dalam setiap ibadah-ibadah meraka. Sebab bila Allah tidak menolongnya, maka tidak akan dapat terwujud suatu ibadah, yakni berupa melaksanakan perintah ataupun menjauhi larangan-Nya.” (Taisir Karimir Rahman, Hal. 37)

Dari sini, kita mengambil hikmah bahwa kita amat butuh pertolongan Allah agar bisa beribadah. Dan Allah hanya akan memberikan taufik-Nya kepada sesiapa yang Dia kehendaki saja.   

 

Apakah Kita Termasuk yang Allah Kehendaki?

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash : 56)

Allah hanya memberi hidayah (taufik) kepada orang yang dia kehendaki saja dan Allah lebih tau siapakah yang layak untuk diberikan pertolongan oleh Allah ta’ala. Hamba yang dimudahkan untuk beribadah kepada-Nya, hanyalah hamba-hamba yang Dia kehendaki saja.

Berbicara tentang kehendak Allah (masyiatullah), Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah seringkali menyebutkan sebuah kaedah di dalam beberapa kitabnya. Beliau menuturkan, “Sesungguhnya kehendak Allah itu bertautan dengan hikmah”. Artinya, apa-apa saja yang Allah kehendaki, maka semua itu berdasarkan hikmah Allah ta’ala, bukannya tak beralasan.

Tersimpulkan bahwa orang-orang yang semangat dalam beribadah adalah insan-insan pilihan, yang dikehendaki oleh Allah untuk diberikan pertolongan agar dapat melakukan amal ketaatan.

Adakah kita termasuk yang dikehendaki? Kalau belum, sudah selayaknya kita mencari kunci agar pintu-pintu kebaikan itu segera terbuka.

 

Perbanyaklah Memohon dan Meminta

Seseorang bisa mengerjakan ibadah karena telah diberikan taufik berupa pertolongan dari Allah. Sebagaimana pula diceritakan dalam Al Qur’an, Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menuturkan, “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan pertolongan Allah.” (QS. Hud : 88)

Ibnul Qayyim mengungkapkan, “Jika terdapat segala macam kebaikan, maka itu semua berasal dari taufik Allah bagi hamba-Nya. Dan, taufik itu kuasanya di tangan Allah bukan di tangan hamba. Kunci untuk mendapatkan taufik tersebut ialah doa, merasa butuh, tulus memohon, dan juga benar-benar berharap menginginkan taufik tersebut. Tatkala seorang diberikan kunci-kunci ini, maka sungguh Allah mengehendaki terbukanya pintu kebaikan baginya. Namun sebaliknya, tatkala seorang hamba tidak mendapatkan kunci-kunci ini, maka pintu-pintu kebaikan itu telah tertutup baginya.” (Al Fawaid, Hal. 130)

 

Sekilas Renungan

Bisa jadi, terasa begitu berat dan malasnya kita dalam melaksanakan ibadah, ialah dikarenakan seringnya kita luput dan lupa untuk meminta pertolongan kepada Allah ta’ala. Oleh karenanya, semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat, agar kita semakin giat meminta pertolongan Allah dan semakin semangat beribadah kepada-Nya.

 

Penulis : Erlan Iskandar, ST (Alumnus Ma’Had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Murajaah : Ustadz Afifi Abdul Wadud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *