Hanya Kepada-Mu Ku Memohon

Artikel  1433 ini tersedia dalam bentuk buletin pdf siap cetak. Klik disini untuk mengunduh

Pembaca yang dirahmati Allah, kita semua adalah hamba yang lemah, hamba yang senantiasa membutuhkan pertolongan Allah, baik dalam urusan dunia terlebih lagi urusan akhirat. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita meminta memohon  kepada Allah berupa kebaikan dengan penuh pengharapan dan keinginan yang kuat,  permintaan dan permohonan kepada Allah agar diangkat keburukan yang sedang menimpa kita, dan dihindarkan dari keburukan yang akan menimpa kita. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa itu bermanfaat bagi (musibah) yang telah turun ataupun yang belum” (HR. Tirmidzi, no. 3548. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani). Maksudnya adalah bahwa dengan berdoa maka Allah akan mengangkat musibah yang sedang menimpa hamba-Nya, dan mencegah musibah yang akan menimpanya.

 

Doa adalah Ibadah yang Agung

Pembaca yang dirahmati Allah, doa bukanlah sekedar permintaan seorang hamba kepada Sang Pencipta, akan tetapi ia merupakan bentuk ibadah yang agung. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa adalah ibadah(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan Al-Albani). Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala yang artinya “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (Ghafir: 60). Bahkan doa merupakan ibadah yang paling mulia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa.” (Sunan At-Timidzi, bab Do’a 12/263)

Doa dikatakan sebagai ibadah yang sangat agung karena sejatinya orang yang berdoa menunjukkan bahwa dia sangat membutuhkan pertolongan Allah, dia fakir dan Allah Zat yang Mahakaya, dirinya lemah dan Allah Zat Mahakuat, sehingga dia meminta kepada Allah dalam keadaan meghamba kepada-Nya, penuh rasa harap, cemas, dan khusyu’. Rasa harap, cemas, khusyu’, dan tawakkal kepada Allah merupakan ibadah, karena ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan, atau perbuatan, lahir maupun batin. Maka di dalam doa terkumpul banyak ibadah. Sehingga do’a menjadi ibadah yang sangat agung.

 

Berdoalah Hanya kepada Allah

Pembaca yang dirahmati oleh Allah, kita mengetahui bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah, termasuk diantaranya adalah doa. Oleh karena itulah Allah murka kepada orang-orang yang enggan berdoa kepada-Nya, terlebih lagi kepada mereka yang berdoa kepada selain Allah. Allah berfirman yang artinya, “Dan Janganlah kamu berdoa (beribadah) kepada yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.” (QS Asy-Syu’araa` 213).

Allah juga berfirman yang artinya, “Janganlah kamu berdoa (beribadah) kepada yang tidak mampu memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu  selain Allah, sebab jika kamu berbuat demikian maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hamba-Nya dan dialah yang Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang.” (QS Yunus ayat 106 s.d. 107)

 

Doa kepada Selain Allah adalah Bentuk Kesyirikan

Pembaca yang dirahmati Allah, betapa agungnya ibadah ini, sehingga begitu keras ancaman Allah bagi orang yang memalingkan doa kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah adalah dosa yang sangat besar, bahkan pelakunya jatuh ke dalam perbuatan syirik. Wal’iyadzubillah

Allah subhananahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Jika kalian berdoa (menyeru) kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan seumpama mereka mendengar mereka tidak dapat mengabulkan permintaan kalian, dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian…. “ (QS Fathir 14)

Renungilah firman Allah tersebut! Allah mengabarkan bahwa pada hari kiamat, orang saleh yang telah mati, arwah nenek moyang, dan apapun yang diseru selain Allah akan berlepas diri dari kesyirikan orang-orang yang berdoa kepada mereka. Pada ayat ini Allah sebut orang yang berdoa kepada selain-Nya sebagai orang-orang yang berbuat kesyirikan. Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik.

 

Doa dengan Perantara

Pembaca yang dirahmati Allah, kita semua beriman bahwa Allah adalah Zat Yang Mahasempurna. Allah adalah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, oleh karena itu dalam berdoa kepada Allah kita tidak membutuhkan perantara para wali dan orang-orang saleh yang telah wafat, berdoa di kuburan-kuburan mereka atau yang sering disebut dengan istilah tawassul. Allah berfirman menukil pernyataan mereka tentang perbuatan tersebut, yang artinya, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka, melainkan hanya supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”  (QS Az-Zumar ayat 3)

Dan pada surat Yunus ayat ke-18, “Dan mereka (kaum musyrikin) beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak sanggup mendatangkan madharat dan manfaat untuk mereka. Dan mereka beralasan, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah’”.

Kaum musyrikin bertawassul kepada orang-orang saleh yang telah wafat dengan alasan bahwa orang-orang saleh tersebut hanyalah perantara dan pemberi syafaat untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka berpendapat bahwa mereka adalah orang yang penuh dosa, tidak pantas bagi mereka untuk meminta langsung kepada Allah. Mereka butuh perantara orang-orang saleh yang memiliki keutamaan di sisi Allah. Akan tetapi niat mereka yang tampak baik ini tidak dibenarkan oleh Allah, bahkan dengan perbuatan ini Allah menyebut mereka sebagai orang musyrik, karena mereka berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal yang bahkan tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri. Allah subhananahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Jika kalian berdoa (menyeru) kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan seumpama mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaanmu, dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu… “ (QS Fathir 14). Berdoa kepada orang yang telah mati adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

 

Tawassul yang Dibolehkan

Pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, pada asalnya tawassul adalah segala bentuk ketaatan yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Rabb-nya. Akan tetapi, ada beberapa amal yang secara khusus disebutkan sebagai bentuk tawassul, diantaranya:

Pertama, melalui asmaul husna. Allah berfirman yang artinya, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya …” (QS. Al A’raf: 180). Maka seorang hamba ketika berdoa dianjurkan untuk menyebut asmaul husna yang relevan dengan doanya, semisal ketika dia bertaubat maka bertawasullah dengan nama Allah Al-Ghafuur dengan menyebut Yaa Ghafur dalam doanya.

Kedua, dengan membaca shalawat. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda,” “Semua do’a tertutupi (tidak bisa naik ke langit) sampai dibacakan shalawat untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam.”

 

 Kesimpulan

  1. Do’a adalah ibadah yang sangat agung, sudah sepantasnya bagi seorang hamba untuk senantiasa berdoa kepada Rabb-Nya.
  2. Sebagaimana ibadah yang lain, maka doa juga hanya boleh ditujukan kepada Allah. Berdoa kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikan akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama islam.
  3. Tawassul ada yang diharamkan dan ada yang dibolehkan. Tawassul yang diharamkan diantaranya adalah berdoa melalui perantara orang yang telah mati.

Demikian. Semoga Allah senantiasa menegakkan kita di atas tauhid, dan meneguhkan kita dia atas sunnah. Wallahu a’lam bis showab.

Referensi :

  1. Fathul Majid Lisyarhi Kitaabit Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hassan bin Muhammad bin Abdul Wahhab
  2. Kalimaatun Fii Fiqhid Du’aa karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-badr
  3. Artikel Buletin At-Tauhid edisi V/23 “Tawassul yang Dibolehkan dan yang Terlarang” karya Ustadz Ammi Nur Baits, BA.
  4. Artikel Buletin At-Tauhid edisi III/ 11 “Apakah Allah Membutuhkan Perantara” karya Ustadz Ari Wahyudi, S.Si.

 

Penulis : M Said Hairul Insan (Alumni Ma’had al ‘Ilmi Yogyakarta)

Murajaah : Ustadz Abu Salman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *